Whispers in The Dabbas disutradarai Garin Nugroho dan dibintangi Della Dartyan
Tak hanya Whispers in The Dabbas, film Gowok yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, Perang Kota disutradarai oleh Mouly Surya, dan Midnight in Bali yang disutradarai oleh Razka Robby Ertanto, juga melakukan world premiere-nya di International Film Festival Rotterdam ke-54
Film terbaru Garin Nugroho, Whispers in the Dabbas (Nyanyi Sunyi dalam Rantang), melakukan world premiere-nya di International Film Festival Rotterdam (IFFR) yang ke-54 yang dilangsungkan pada 1 Februari 2025.
Sebelumnya, beberapa karya Garin Nugroho seperti, Leaf on a Pillow (Daun di Atas Bantal), Opera Jawa dan Deadly Love Poem (Puisi Cinta yang Membunuh) juga pernah berpartisipasi di International Film Festival Rotterdam. Sedangkan Nyanyi Sunyi Dalam Rantang kali ini masuk pada program Harbour di International Film Festival Rotterdam ke-54.

Nyanyi Sunyi dalam Rantang terinspirasi dari kisah nyata beberapa kasus pengadilan dengan keputusan yang janggal, mengisahkan tentang seorang pengacara muda bernama Puspa, diperankan oleh Della Dartyan, di sebuah kota kabupaten, yang berhadapan dengan kasus-kasus di pengadilan yang tidak berpihak pada keadilan rakyat kecil.
Film ini merupakan Stranas PK (Strategi Nasional Pencegahan Korupsi) bekerja sama dengan Garin Workshop dan Padi Padi Creative. Karya ini menunjukkan peran penting film sebagai pendidikan politik dan pemberdayaan warga untuk kritis terhadap sistem pengadilan di negeri ini.
Nyanyi Sunyi dalam Rantang melengkapi keberagaman film Indonesia yang terseleksi dalam International Film Festival Rotterdam 2025 seperti Gowok yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, Perang Kota disutradarai oleh Mouly Surya, dan Midnight in Bali yang disutradarai oleh Razka Robby Ertanto.
Garin Nugroho mengatakan, “Film sebagai karya yang terbuka dan kritis dan dituturkan secara personal akan selalu mendapat tempat di festival film dunia, terlebih karena film ini memiliki keberpihakan pada masyarakat.”

Fim ini dibalut dengan drama, investigasi, satir, seperti dikutip dari laman social media Stefan Borsos (Programmer IFFR):
“…its unassuming style investigates the Indonesian judicial system with a mix of melodrama and sharp, black humour making the blatant injustice happening to the various characters at times almost unbearable. Less blatant, but still very visible and clear are the numerous references to 1965 raising questions about uncomfortable historical continuities.”