Review The Undertaker 2: Afterlife (2026)

Hidup dan Mati Terasa Misterius dan Penuh Pertanyaan

“Yang paling menakutkan di dunia ini adalah terbangun di pagi hari dan menyadari bahwa orang yang paling kamu cintai sudah menjadi abu, sementara kamu bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal.”— Thup

KlikFilm akhirnya merilis salah satu sekuel film Thailand terunik yang pernah dirilis di layar lebar Indonesia. Hadir dengan judul The Undertaker 2: Afterlife, film ini merupakan sekuel dari The Undertaker yang dirilis pada tahun 2023 dan saat itu mencapai kesuksesan yang sangat fenomenal di jamannya. Bagaimana tidak, The Undertaker diproduksi dengan anggaran yang relatif kecil (sekitar 30 juta Baht), tetapi meledak menjadi fenomena box office global dan meraup pendapatan luar biasa hingga lebih dari 700 juta Baht, menjadikannya salah satu film Thailand terlaris sepanjang sejarah. Kesuksesan ini membuka jalan hadirnya sekuel yang sudah bisa kita tonton di bioskop Indonesia mulai minggu ini.

Sinopsis

Pasca-peristiwa tragis yang menimpa Baikaow dan Sak di Desa Isan pada film pertamanya, kehidupan warga desa dan para pengurus jenazah (undertaker) perlahan mulai kembali normal, sampai sebuah peristiwa ganjil mengguncang seluruh desa.Cerita bermula ketika Nenek Joy, seorang tetua desa yang dihormati, tewas mengenaskan secara mendadak akibat tersambar petir saat bertani. Sesuai tradisi setempat, jenazahnya disemayamkan dan dipersiapkan untuk prosesi pemakaman Isan oleh tim pengurus jenazah. Namun, keanehan terjadi di malam sebelum kremasi: jasad Nenek Joy tiba-tiba bergerak, membuka mata, dan bangkit kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Warga desa lantas menanggapi hal ini dengan serius dan menganggap kebangkitan ini adalah mukjizat, namun sebagian warga dicekam ketakutan dan percaya bahwa yang bangkit bukanlah Nenek Joy, melainkan entitas mistis atau kutukan roh jahat yang menunggangi jasadnya.

Subplot menarik mendampingi plot utama

Bila kita sudah membaca plot utama, Di sisi lain, subplot nya berpusat pada Thup, seorang musisi lokal berbakat yang baru saja mengalami kecelakaan hebat. Kecelakaan tersebut tidak hanya menyisakan trauma fisik, tetapi juga merenggut istrinya. Thup terlihat sangat depresi dan rasa penyesalan yang mendalam karena belum sempat mengucapkan perpisahan.Mendengar kabar tentang Nenek Joy yang “kembali dari kematian,” Thup terobsesi untuk mencari tahu hal itu dan berharap ada cara yang bisa menjembatani dirinya untuk berkomunikasi kembali dengan mendiang kekasihnya di alam baka.

Horor komedi yang penuh absurditas yang emosional

Sutradara Thiti Srinual yang kembali menyutradarai sekuelnya, tetap mempertahankan narasi drama komedi yang bernuansa horor. Namun jangan berharap akan ada horor jumpscares yang banyak hadir di Indonesia. Thiti Srinual tetap konsisten membangun atmosfer mencekam lewat dunia nyata dan alam baka yang tampak semu dan seolah tak ada pemisah. Konflik yang menghantui masyarakat Desa Isan dan menimbulkan pertanyaan adalah benarkah Nenek Joy hidup lagi atau ada sesuatu di balik itu semua? Kengerian inilah yang terbangun secara sistemik dan membuat rasa seram itu menjadi natural. Ketakutan yang natural itulah yang membuat suasana menjadi absurd dan emosional. Di satu sisi mereka penuh pertanyaan, namun kehidupan tetap dijalankan seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa pada mereka. Yang ada mereka selalu mengingat kebaikan Nenek Joy selama hidup, bukan malah kejelekannya yang selama ini terlihat.

Kesimpulan

The Undertaker 2 merupakan film yang sangat unik. Saat kita percaya orang yang meninggal tidak bisa hidup lagi, mereka justru dihadapkan pada hal yang tak bisa diterima logika dan akal sehat. Kematian tak selamanya menghadirkan kesedihan, karena Nenek Joy bisa merubah semuanya, walaupun para pengurus jenazah—harus berpacu dengan waktu untuk mengungkap misteri di balik kebangkitan Nenek Joy. Juga melakukan ritual spiritual kuno yang berbahaya demi mengembalikan keseimbangan kosmis antara dunia orang hidup dan alam setelah kematian (afterlife), sekaligus membantu jiwa-jiwa yang tersesat (termasuk Thup) untuk menemukan kedamaian dan merelakan kepergian orang-orang yang mereka cintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top