Review The Worst Person in the World (2021)

Kekhawatiran Hidup Membuat Seseorang Selalu Salah Langkah

“I always worried something would go wrong, but the things that went wrong were never what I worried about.” – Aksel (The Worst Person in the World, 2021)

Film yang satu ini sebetulnya belum sempat ditayangkan secara resmi di Indonesia, dan penayangannya yang diadakan KlikFilm memang cukup mengejutkan. Hadir dengan judul The Worst Person in the World, film yang disutradarai Joachim Trier (kita kenal lewat film terbarunya, Sentimental Value), tayang perdana di Festival Film Cannes 2021.

Saat tayang perdana itulah, film ini mendapat pujian luas dari para kritikus dan penonton. Tak hanya itu, bintang utamanya Renate Reinsve juga berhasil memenangkan penghargaan Aktris Terbaik untuk penampilannya dalam film tersebut. Di Academy Awards ke-94, film ini dinominasikan untuk Film Fitur Internasional Terbaik dan Skenario Asli Terbaik.



Sinopsis
Julie (Renate Reinsve) menginjak usia ke-30 dan hidupnya masih saja berantakan. Kewalahan dengan banyaknya pilihan di depan matanya, ia tidak dapat membuat keputusan, baik secara profesional maupun pribadi.
Ia bahkan membatalkan studi kedokterannya, mulai belajar psikologi, lalu tiba-tiba fotografi yang tampaknya tepat untuknya.

Sehari-hari, Julie bekerja di toko buku dan memiliki banyak kekasih. Kemudian ia jatuh cinta pada Aksel (Anders Danielsen Lie), yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya, dan telah sukses bekerja sebagai penulis novel grafis.

Namun, perbedaan usia dan keinginan Aksel untuk memiliki anak segera menimbulkan ketegangan dalam hubungan mereka. Julie belum siap untuk berumah tangga dan selalu mencari sesuatu yang baru. Suatu malam, ia kebetulan berada di sebuah pesta pernikahan dan berbaur dengan para tamu.

Di sana ia bertemu Eivind (Herbert Nordrum). Meskipun keduanya tidak berselingkuh pada pasangannya masing-masing pada saat itu, ada percikan cinta di antara mereka yang tak bisa disembunyikan. Tak lama kemudian, Julie memutuskan hubungan dengan Aksel.

Berharap mendapatkan perspektif baru dalam hidupnya, ia menjalin hubungan baru dengan Eivind dan tinggal bersamanya. Namun, Aksel tidak sepenuhnya menghilang dari hidupnya, dan sebuah kabar mengejutkan, mengubah hidupnya.


Narasinya sangat luar biasa dan terasa fresh

Melihat film sebagus ini memang sangat menyenangkan, terlebih ini adalah romcom yang isunya amat jarang dieksplorasi. Saat kita berada dalam pikiran Julie, seseorang yang serba bisa, kita belajar darinya. Pengalaman romantisnya yang penuh warna juga memberi banyak pelajaran baginya. Baik untuk mau berubah atau tetap menjadi Julie yang sekarang, tentu dengan rasa bersalah yang ia hadapi karena menyakiti orang lain yang mencintainya.

Menata hidup lewat membekukan waktu

Selepas pertengahan film, Julie mengalami gejolak batin dalam menentukan apakah ia akan bertahan dalam hubungannya dengan Aksel atau tidak. Ia merasa terkekang oleh rasa aman dan ketidakmampuannya yang semakin besar untuk menegaskan kemandiriannya.

Dan di tengah percakapan dengan Aksel, ia mulai menata kembali hidupnya dengan menekan tombol lampu yang membekukan waktu, memungkinkannya untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan tak terucapkan yang ada di luar jangkauannya.

Namun, yang memicu momen pergantian lampu Julie adalah pencariannya akan pria yang ia temui di pesta rumah, berbagi satu malam yang ajaib dengan orang asing, tetapi tak pernah bertemu lagi. Dan perasaan inilah yang tampaknya menginspirasi Trier, yang ingin menangkap perasaan indah dalam suatu hubungan, tetapi mengetahui bahwa ada satu orang yang terus terlintas di benak kita, dihantui oleh pertanyaan ‘bagaimana jika?’.

Sebuah gagasan jenius tentang konsep time freezing untuk sejenak tinggal di dunia alternatif yang diinginkan, walaupun hanya untuk sesaat. Sebuah adegan yang penuh fantasi namun sangat romantis, di mana Julie dengan gembiranya berlari melintasi kota yang membeku dan menikmati ketakterhinggaan dari setiap momen, terhubung kembali dengan indahnya momen yang selama ini ia inginkan.


Kesimpulan
The Worst Person in the World dapat digambarkan sebagai sebuah pengembaraan waktu dalam menjalani hidup yang penuh kesalahan yang dihadapi Julie selama ini; haruskah saya menerima pekerjaan ini? Apakah orang ini bisa menjadi pasangan yang baik? Apakah saya membuat kesalahan dengan berkenalan dengan orang yang saya sukai?

Dan ketika dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan yang berat, wajar jika pikiran kita mengembara dan berpikir tentang apa yang mungkin terjadi – jika kita sedikit mengubah arah suatu hari atau keputusan, bagaimana hal itu akan memengaruhi sisa hidup kita?

Dalam kasus Julie, satu adegan spesifik yang mewujudkan fantasi ini, semuanya ditunjukkan melalui pembalikan sakelar yang sederhana dan menghubungkan semua sudut pandang dan urutan yang berbeda ini bersama-sama. Momen indah itulah yang mengubah narasi Julie hingga akhir film.


Director: Joachim Trier
Cast: Renate Reinsve, Anders Danielsen Lie, Herbert Nordrum, Hans Olav Brenner
Duration: 128 minutes
Score: 9.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top