Review The Smashing Machine (2025)

Biopik Petarung MMA yang Menyakitkan dan Nyaris Terlupakan Sejarah

“I know that you’ve been questioning whether I am the fighter that you thought that I was. And one of my biggest regrets in life is the answer to that question. I wasn’t. I promise that I’m going to make this up to you.” – Mark Kerr (The Smashing Machine, 2025)

A24 kembali menghadirkan film terbarunya yang berjudul The Smashing Machine, sebuah biopik dari Mark Kerr, seorang petarung MMA (Mixed Martial Arts) yang dialihwahanakan dari film dokumenter The Smashing Machine: The Life and Times of Extreme Fighter Mark Kerr. Film ini ditulis, disutradarai, diproduseri, dan disunting oleh Benny Safdie, seorang sutradara yang terkenal lewat Good Time (2017) dan Uncut Gems (2019) yang ia kerjakan bersama saudaranya, Josh Safdie.

Di film solonya kali ini, ia langsung membuat The Smashing Machine, yang tayang perdana di kompetisi utama Festival Film Internasional Venesia ke-82 pada 1 September 2025, dan Benny Safdie berhasil memenangkan Silver Lion untuk Sutradara Terbaik. Di situs web agregator ulasan Rotten Tomatoes, 73% dari 231 ulasan kritikus bernada positif.

© A24

Konsensus situs web tersebut berbunyi: “Dwayne Johnson meraih kesuksesan besar dengan transformasinya sebagai Mark Kerr dalam The Smashing Machine, sebuah film biografi yang berani yang menghindari klise meskipun mengorbankan kepuasan naratif, namun tetap menghadirkan adegan-adegan dramatis yang penting.”  

Metacritic, yang menggunakan rata-rata tertimbang, memberi film ini skor 65 dari 100, berdasarkan 53 kritikus, yang menunjukkan ulasan “umumnya positif”. Penonton yang disurvei oleh CinemaScore memberi film ini nilai rata-rata “B-” dari skala A+ hingga F.

Sinopsis

Film dimulai dengan wawancara Mark Kerr, yang menjelaskan tentang kesuksesannya di Ultimate Fighting, sebelum ia berangkat untuk pertarungan berikutnya. Berlatar mulai dari tahun akhir tahun 90an dan awal 2000an, Mark Kerr (Dwayne Johnson) dan pacarnya, Dawn (Emily Blunt) terlibat hubungan yang intens dan penuh kerumitan saat mereka tinggal serumah.

© A24

Ketergantungan alkohol dan obat-obatan sebelum bertanding, membuat Mark mulai menelan kekalahan telak dalam pertandingan terakhirnya. Sekembalinya ke rumah, hubungannya dengan Dawn semakin tegang dan ia overdosis keesokan paginya. Sahabatnya, Mark Coleman mengunjunginya dan mengatakan kalau sahabatnya harus berubah, dan itu disetujui Mark. Ia masuk rehabilitasi, yang membuat hubungan kian tegang dengan Dawn, yang akhirnya mengakibatkan Dawn pergi dan Mark pergi ke camp bersama pelatihnya, Bas Rutten. Apa yang terjadi dengan Mark Kerr selanjutnya?

Biopik yang mengalir apa adanya

Sebagai sebuah biopik yang mengangkat kisah petarung, film ini memang terlihat biasa saja dan alurnya mudah diprediksi bagi siapapun yang biasa menonton film semacam ini. Sang protagonist yang harus bertarung di dalam dan luar ring, semua demi keluarga, demi menjaga reputasi yang ia miliki, dan tentu juga berkutat tentang dirinya sendiri. Tapi sekali lagi, kisah ini bukanlah sekedar film biasa jika ada nama A24 dan Benny Safdie di belakangnya.

The Smashing Machine terasa fresh tanpa perlu berusaha terlalu keras. Film ini mengalir secara alami, begitu pula dengan sejumlah shot impresif dengan sedikit shake yang dihadirkan Benny. Pengalamannya sangat imersif, yang membuat semua terasa personal tanpa bumbu cerita tambahan yang biasanya mengganggu film.

Pilihan musik yang tak biasa

Skoring film ini memang tak biasa. Pemilihan music jazz sebagai latar pertarungan MMA memang di luar nalar dan benar-benar tak bisa diprediksi. Semua itu dengan hentakan perkusi yang tiba-tiba muncul, memberikan MMA tak sekedar pertarungan, tapi muncul sebagai seni beladiri yang diperagakan dengan anggun oleh kedua petarung saat mereka memberikan totalitasnya di atas ring.  

© A24

Dwayne Johnson yang tampil luar biasa

Yang membuat film ini berbeda dari banyak biopik adalah penampilan Dwayne Johnson yang luar biasa. Ia bisa menghilangkan karakter khas yang melekat dalam dirinya selama puluhan tahun berkarir di dunia wrestling professional.

Prostetik yang merubah penampilan wajahnya dan menghilangkan tato di dada, sosok Dwayne Johnson kini muncul sebagai sosok baru yang ia perankan dengan sangat baik. Ia menjadi sosok yang kuat, sekaligus emosional dan mengharukan. Terkadang ia merasa rentan dalam menghadapi hidup, dan chemistry-nya bersama Emily Blunt juga sangat menyentuh sekaligus menegangkan di beberapa adegan.

Kesimpulan

Sebagai sebuah biopik tentang petarung MMA, film ini memang bukan untuk semua orang. Kisahnya mungkin terasa biasa dan monoton bagi sebagian orang, tetapi saat dibawakan oleh orang yang tepat, terlebih lagi akting luar biasa yang dihadirkan para pemainnya, The Smashing Machine memang harus ditonton setidaknya sekali dalam hidup kita.

Director: Benny Safdie

Cast: Dwayne Johnson, Emily Blunt, Lyndsey Gavin, Ryan Bader, Zoe Kosovic, Bas Rutten, Oleksandr Usyk, Paul Lazenby, James Moontasri, Yoko Hamamura, Paul Cheng, Andre Tricoteux, Satoshi Ishii, Roberto “Cyborg” Abreu, Mark Kerr

Duration: 123 minutes

Score: 7.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top