“She’s consumed with dark magic. Soon, she’ll come for you all,” – Buddhist monk (Panor, 2025)
Kisah Anak Terkutuk yang Membawa Kesialan Bagi Orang-Orang di Sekitarnya
Film horor terbaru Thailand kali ini mungkin akan membuat kamu bergidik melihat apa yang ditampilkan. Ya, film dengan judul Panor ini memang tak malu-malu memperlihatkan darah yang mengucur dari kuku yang dicabut, santet yang mengeluarkan tokek dari dalam tubuh, juga jarum yang keluar masuk untuk menggabungkan dua orang yang terikat. Sebuah sajian ‘body horror’ yang akan membuat ngilu siapapun yang melihatnya.
Panor yang mempunyai judul lain, Art of the Devil: The Beginning, memang mengingatkan kita pada trilogi horor legendaris Thailand, Art of the Devil 1-3 yang dirilis pada 2004-2008. Memang ketiga film ini memiliki kesamaan dengan Panor yang temanya mengangkat ilmu hitam atau santet, namun di Panor, narasi ini dikembangkan lebih luas lagi dengan melibatkan kultus sesat.

Sinopsis
Suatu hari, seorang anak perempuan lahir di hari yang memang sudah ditentukan, yang diikuti kutukan menakutkan yang menyelimuti anak tersebut. Anak tersebut diberi nama Panor, dan saat ia berumur 9 tahun, ia mulai ditakuti dan dijauhi warga desa, karena dianggap membawa sial.
Orang-orang yang dekat dengannya, sering menjadi korban, dan secara kebetulan selalu ada Panor di situ. Beranjak remaja, Panor (Cherprang Areekul) juga dirundung oleh Jib (Rattanawadee Wongtong) dan gengnya. Jib menggunakan Piak (Jackrin Kungwankiatichai), untuk memancing Panor ke sebuah kuil yang tidak digunakan lagi untuk merundungnya.
Namun, usaha itu digagalkan temannya, Pong, yang mencuri dengar dan berusaha mencegah Jib dan Piak. Dalam mimpinya, ia melihat tato aneh di kuil tersebut yang membuatnya ketakutan saat terbangun. Secara tidak sengaja, Panor mengungkap misteri yang menyelimuti desa tersebut dan juga dirinya, terutama kutukan yang melekat pada dirinya sejak lahir. Apa sebenarnya yang terjadi pada Panor dan kutukan apa yang ia dapat?
Narasi terjaga dengan baik hingga babak kedua
Film ini diawali dengan baik, di mana kutukan datang ke Panor yang baru saja dilahirkan ibunya. Dari sini kita bisa melihat betapa sialnya Panor dari kecil hingga ia beranjak remaja. Siapapun yang dekat dengannya, pasti mati. Eksposisi yang cukup lengkap dari Panor dan juga ibunya, membuat kita bisa mengikuti misteri yang menyelimuti kutukan ini, dan juga apa yang menyebabkannya. Namun sayangnya, memasuki babak ketiga, film ini agak kedodoran lewat konklusinya yang terlalu bertele-tele. Hal ini membuat durasi film agak panjang, dengan sejumlah adegan yang dirasa tidak terlalu penting.
Elemen teknisnya sangat serius digarap

Baru kali ini kita melihat subgenre body horror di film Thailand diperlihatkan dengan baik. Penggunaan practical effect, dikombinasikan dengan CGI yang rapi, membuat adegan gore ataupun santet terasa nyata, tanpa terlihat adanya perbedaan tone warna yang signifikan. Efek ini juga didukung oleh make-up yang terlihat detil dalam memperlihatkan luka menganga dari santet atau dari kulit yang mengelupas. Tak hanya efeknya yang luar biasa, skoring musiknya juga terdengar cukup baik dan bisa menyatu dengan adegannya.
Kesimpulan
Sebagai sebuah film yang dipersiapkan sebagai prekuel Art of the Devil, Panor tampil cukup solid dari sisi naratif, walaupun sedikit agak kedodoran di babak ketiga. Elemen teknis yang dieksekusi dengan baik membuat film ini terlihat serius dalam penggarapannya, terutama dari skoring musik dan efek visualnya yang di atas rata-rata. Tonton segera Panor di bioskop terdekat di kota kamu.
Director: Puttipong Saisrikaew
Cast: Cherprang Areekul, Jackrin Kungwankiatichai, Chalita Suansane, Rattanawadee Wongtong, Nuttawatt Thanathaveeprasert, Pijika Jittaputta
Duration: 125 Minutes
Score: 7.4/10