Teror Demit Tanpa Henti yang Menakutkan di Sebuah Pabrik Gula
“Kami datang dari kampung yang sama dengan tujuan mengubah nasib menjadi lebih baik, tapi ternyata nasib buruk justru menyambut kami di pabrik itu,” – Naning (Pabrik Gula, 2025)
Salah satu film unggulan pada saat Lebaran nanti akan dihadirkan MD Pictures yang kembali hadir lewat film terbarunya, Pabrik Gula. Film yang dialihwahanakan secara longgar dari kisah nyata dari Simpleman yang pernah viral di media sosial. Bagaimana dengan filmnya? Kita ulas di bawah ini.
Sinopsis

Sejumlah pekerja musiman dikumpulkan sebuah pabrik gula dari sejumlah desa untuk musim penggilingan tebu saat awal musim panen akan datang. Dari sejumlah pekerja tersebut, nampak Endah (Ersya Aurelia), Fadhil (Arbani Yasiz), Naning (Erika Carlina), Hendra (Bukie B. Mansyur), Wati (Wavi Zihan), Dwi (Arif Alfiansyah), dan Franky (Benedictus Siregar), pergi bersama pekerja lain menaiki truk terbuka.
Saat mereka tiba, semua tampak baik-baik saja, tanpa ada yang aneh. Hingga pada suatu malam, Endah terbangun dan meninggalkan tempat penginapannya untuk mengikuti sosok misterius yang menuju pabrik. Sejak kejadian malam itu, Endah dan teman-temannya mulai mengalami teror yang semakin menjadi-jadi, seperti kecelakaan kerja yang menimpa salah seorang pekerja, hingga kematian tragis seorang pekerja di sumur belakang.
Kemudian, Ibu Marni, yang merupakan penanggung jawab pabrik mengungkapkan, kalau pabrik tersebut berdekatan dengan kerajaan demit, dan membuat mereka marah dan mereka menuntut nyawa para pekerja tersebut.
Tone narasi senada dengan KKN

Saat selesai menonton film ini, ada perasaan sedikit kecewa. Pertama, sumber aslinya yang merupakan thread dari Simpleman, tidak merujuk pada hal fundamental yang menjadi dasar narasi Pabrik Gula. Buat kamu yang telah membaca thread aslinya mungkin akan bingung akan banyaknya sekali elemen yang hilang.
Nyatanya film ini hanya terinspirasi saja, selebihnya film ini murni mengembangkan ceritanya sendiri berdasarkan karya Simpleman. Namun, ada hal yang membuat kita penikmat genre horor sedikit geleng-geleng kepala. Pabrik Gula mempunyai narasi yang senada dengan KKN di Desa Penari (2022). Entah apa kekurangan ide cerita ataukah ingin bermain aman dan mengulangi kesuksesan KKN yang fenomenal di saat itu.
Namun, di balik hal minor di atas, Pabrik Gula berani menghadirkan sesuatu yang beda dari film buatan MD sebelumnya. Dengan dua versi berbeda, versi uncut untuk rating 21+, dan versi 17+ yang nantinya bisa dilihat sendiri perbedaannya lewat akting Erika Carlina yang tampil di luar ekspektasi di film terbarunya kali ini.
Signature style dari Awi Suryadi tentu saja tak lupa saat memperlihatkan establish shot, yang secara visual terlihat estetik dalam membangun kekuatan cerita. Sudut lebar yang banyak digunakan, nampak dalam sejumlah adegan yang krusial, walaupun tidak semua terlihat baik.
Ide cerita Manten Tebu yang dimasukkan ke dalam narasi, memang merupakan tradisi turun temurun yang sudah berlangsung lama. Tradisi ini merupakan simbolisasi pernikahan manusia dikembangkan lebih lanjut di film ini dengan memasukkan hal tabu yang dilarang dilakukan di dalam pabrik. Sebuah twist menarik dan membuat film ini makin penasaran untuk ditonton.

Kesimpulan
Sebagai sebuah film horor, Pabrik Gula tampil menarik, walaupun tidak ada sesuatu yang baru. Film ini terkesan mencoba bermain aman dengan mengikuti narasi KKN di Desa Penari yang secara substansi tidak ada perbedaan signifikan. Namun, hal yang harus mendapat pujian adalah komedinya berjalan sangat natural dan sangat baik.
Jarang sekali melihat unsur komedi berjalan baik di genre ini. Duet Benedictus – Arif dan Yono Bakrie – Sadana Agung, memang berhasil menampilkan akting mereka saat ketakutan, yang bisa membuat kita tertawa melihat mereka. Erika Carlina juga tampil baik di film ini. Aktingnya terlihat sangat matang dan keberaniannya menjadi nilai tambah yang membuat film ini mempunyai perbedaan dari film-film MD sebelumnya.
Director: Awi Suryadi
Cast: Ersya Aurelia, Arbani Yasiz, Erika Carlina, Bukie B. Mansyur, Wavi Zihan, Arif Alfiansyah, Benedictus Siregar, Dewi Pakis, Budi Ros, Yono Bakrie, Sadana Agung
Duration: 133 Minutes
Score: 7.0/10