Mickey 17

Review Mickey 17 (2025)

Perjalanan Menarik Sebuah Replikan Menuju Planet Nilfheim

“They made me work my ass off one mission after another,” – Mickey 17 (Mickey 17, 2025)

Setelah sebelumnya sukses menyabet 3 Piala Oscar dan ratusan penghargaan internasional lainnya lewat Parasite (2019), Bong Joon-ho kembali lagi lewat film terbarunya, Mickey 17. Film bergenre sci-fi dengan sentuhan dark comedy yang kental ini diproduksi, ditulis, sekaligus disutradarai Bong Joon-ho, dan narasinya merupakan alih wahana dari novel Mickey 7 karya Edward Ashton yang diterbitkan pada tahun 2022.

Film ini sebelumnya telah melangsungkan world premiere-nya di Festival Film Internasional Berlin ke-75 pada tanggal 15 Februari 2025, sebelum akhirya dirilis lewat layar lebar oleh oleh Warner Bros. Pictures di Korea Selatan pada tanggal 28 Februari 2025, dan di Indonesia sendiri akan tayang serentak mulai 5 Maret 2025.

Mickey 17
© Warner Bros.

Sinopsis

Dua sahabat, Mickey Barnes (Robert Pattinson) dan Timo (Steven Yeun) terjebak utang dan keduanya memutuskan untuk keluar dari bumi. Namun, Mickey yang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi, mendaftar untuk menjadi ‘expendable’, pekerjaan yang tugasnya menggantikan manusia untuk pekerjaan berbahaya dan kalau ia mati, ia bisa dihidupkan kembali.

Keduanya akhirnya berangkat ke koloni baru yang ingin ditempati manusia di Planet Nilfheim dengan ratusan orang lainnya. Ekspedisi ini dipimpin oleh Kenneth Marshall (Mark Rufallo) yang karismatik dan gila hormat, dan istrinya, Ylfa (Toni Collette), yang ikut memanfaatkan posisi suaminya demi kepentingan pribadinya.

Pekerjaan Mickey sebagai seorang expendable sangat berbahaya, dan yang ia kerjakan bukanlah tugas yang diperuntukkan untuk manusia. Suatu hari, saat menjalankan tugasnya, salah satu klonnya “Mickey 17”, secara keliru dianggap mati dan digantikan sebelum waktunya. Mickey 17 akhirnya bisa kembali ke koloni dan bertemu penggantinya, yang dikenal sebagai Mickey 18.

Berdasarkan aturan koloni, hanya boleh ada satu kloningan yang boleh ada pada satu di waktu yang sama, dan jika Mickey 17 ditemukan, salah satu dari mereka harus dihancurkan. Tapi seiring berjalannya waktu, kedua kloning ini ternyata mempunyai sifat berbeda yang saling melengkapi satu sama lain, dan kehadiran mereka berdua ternyata menghadirkan konflik yang lebih besar bagi, terutama bagi Kenneth dan istrinya yang ternyata dibenci Mickey 18. Apa yang akan terjadi nantinya pada koloni itu?

Mickey 17
© Warner Bros.

Narasinya cerdas dan seolah menyindir kebijakan politik negara adikuasa

Menonton Mickey 17 tidaklah seperti menonton film sci-fi lainnya. Film yang narasinya sangat cerdas ini tidak hanya sekedar menceritakan karakter Mickey, namun juga sejumlah sindiran halus yang dimunculkan lewat karakter Marshall. Karakternya secara halus menggambarkan political correctness atau pembenaran politik untuk menggambarkan kepatuhan dogmatis terhadap ideologi dalam rezim totaliter, seperti halnya dahulu pernah diterapkan Nazi-Jerman dan Uni Soviet-Rusia.

Di film ini kita akan melihat Marshall menjadi simbol dari koloni yang diagung-agungkan bak pimpinan sekte yang tak ada cacatnya. Eksklusivitas yang dimiliki pemimpin ini uniknya juga membawa agama sebagai pegangan untuk membenarkan semua hal. Sebuah hal ironis yang membuat narasi film ini sangat cerdas dalam memasukkan esensi kepatuhan terhadap ortodoksi politik.

Namun, di era modern seperti sekarang ini, Bong Joon-ho seolah menyindir sistim politik Amerika yang menggunakan istilah ini untuk mengecilkan atau mengalihkan perhatian dari perilaku yang secara substantif, diskriminatif terhadap kelompok yang kurang beruntung, terlebih saat pertikaian antara kaum liberal dan konservatif yang seolah tak ada habisnya.

Mickey 17
© Warner Bros.

Elemen teknisnya sangat baik

Belum pernah kita melihat kesamaan Mickey 17 dengan film bergenre sejenis. Elemen fiksi ilmiahnya juga sangat menarik dan terlihat digarap dengan serius, sehingga menghasilkan konsep yang unik dan menarik. Keunikannya tentu saja ada pada replikasi Mickey untuk dijadikan expendable atau dalam istilah populernya, tikus percobaan.

Konsep menarik ini divisualisasikan dengan CGI yang sangat baik, terutama saat Mickey 17 dan Mickey 18 berinteraksi satu sama lain, terlihat sangat mulus, dan tidak nampak kejanggalan. Belum lagi sosok alien raksasa yang tampil bak kumbang trilobite, sosok kumbang prasejarah yang pernah merajai bumi, digambarkan tak hanya dari sosoknya, namun juga saat berkomunikasi verbal.

Mickey 17 juga tidak malu-malu dalam mempertontonkan darah atau bagian tubuh yang terpenggal, tentu dengan caranya yang menghibur dan sesuai dengan konsep dark comedy yang diusungnya dari awal.

Mickey 17
© Warner Bros.

Kesimpulan

Karakternya unik, eksposisinya yang jelas, ditambah dengan romansa yang terjalin selama perjalanan, diceritakan dengan gayanya yang unik dan menghibur. Akting Pattinson sebagai Mickey memang luar biasa, begitu juga peran pendukung lainnya.

Semua ini didukung oleh narasinya yang sangat bagus dalam mendeskripsikan tiap karakter dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, bahkan hingga detil terkecil seperti gestur dan mimik muka juga tak ketinggalan. CGI-nya pun tampil sangat baik dalam memvisualisasikan narasi ini. Tonton segera Mickey 17 di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 Maret 2025.  

Director: Bong Joon-ho

Cast: Robert Pattinson, Naomi Ackie, Steven Yeun, Toni Collette, Mark Ruffalo

Duration: 139 Minutes

Score: 8.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top