Kisah Cinta Dua Remaja yang Terhalang Perjodohan dari Kecil
“Aku gak bisa ngebayangin kalau aku ngelihat ke arah rumah ini, terus enggak ada lagi sosoknya di jendela,” – Made (Made in Bali, 2025)
Lama tak mendengar film Indonesia dengan latar di Bali, minggu ini kita akan kedatangan Made in Bali, sebuah film yang bila kita lihat judul dan posternya, sudah terlihat kental nuansa Bali-nya. Seperti apakah narasinya kali ini?

Sinopsis
Made (Rayn Wijaya) merupakan putra seorang dalang terkenal di Bali. Sejak kecil, Made sudah bersahabat dekat dengan Ni Luh (Vonny Felicia), perempuan cantik keturunan Bali dan Jepang, yang ayahnya mempunyai restoran sushi di daerah Ubud. Hingga mereka beranjak dewasa, Ni Luh mulai menyukai Made, yang tidak disadari sepenuhnya oleh Made, karena ia sudah dijodohkan dengan Putu (Bulan Sutena) dari kecil oleh orang tuanya. Apa yang akan terjadi dengan Ni Luh dan Made nantinya?
Narasinya fresh dan belum pernah terlihat di film sejenis
Sebagai sebuah film remaja yang kekinian, Made in Bali terlihat fresh, dan belum pernah terlihat di film bergenre sejenis. Latar pewayangan Bali yang mendasari karakter Made sebagai dalang muda juga sangat solid dan akulturasi wayang Bali dengan gaya Jepang, memang terlihat sangat unik di film ini.
Kisah cinta segitiga antara Made dengan Ni Luh dan Putu juga digambarkan cukup intens, walaupun tidak banyak layer di dalam intrik antar mereka. Peran kedua teman Made sebagai penghibur memang cukup membantu dalam memberikan jokes dan punch line dari lini kedua yang masih terasa kurang greget dalam film.

Secara visual cukup baik walaupun kurang maksimal
Dengan latar Bali, tentu kita berharap banyak view menarik dihadirkan di tempat ini. Satu tempat yang menjadi lokasi syuting adalah Desa Taro Ubud, yang sejatinya merupakan desa yang sering dikunjungi para wisatawan. Sejumlah shot menarik banyak dihadirkan di tempat ini, sayang belum maksimal karena masih terasa satu dimensi saja, tidak menjual sudut pandang dari karakternya.
Saat Made dan Ni Luh menerbangkan layangan di Pantai Sanur pun juga sama, kamera tidak berusaha mengambil shot bentuk layangan raksasa yang biasanya terlihat saat lomba, dan layangan yang kesorot terlalu kecil, monoton, dan tidak menarik. Pemotretan Bulan Sutena di pantai pun juga tidak digarap serius, dan tidak mencerminkan Bulan sebagai konten kreator sukses.

Kesimpulan
Walaupun ada sejumlah kekurangan, Made in Bali patut dipuji dari sisi narasinya yang menarik dan mengangkat dua budaya berbeda dengan sajian drama romansa yang kekinian. Eksposisinya dari karakter utamanya juga cukup untuk menjadi dasar dari kisah mereka di masa kini, dan walaupun konfliknya terasa minor, Bulan dan Ni Luh bisa memperlihatkan rasa cemburunya saat Made bersama salah satu dari mereka.
Akting Reyn, Vonny, dan Bulan juga cukup baik, terlebih dengan aksen Bali dan Jepang yang sangat banyak terdengar di film ini. Well done script with fresh arrangement and truly amusing us as a viewers.
Tonton segera Made in Bali hanya di bioskop mulai minggu ini.
Director: Johar Prayudhi
Cast: Rayn Wijaya, Bulan Sutena, Vonny Felicia
Duration: 94 Minutes
Score: 6.6/10