Review Drop (2025)

Rate this post

Teror Tanpa Henti yang Sangat Menegangkan Saat Kencan Pertama

“When I find out who’s threatening my son…I’ll show them how dangerous a mother can be.” – Violet (Drop, 2025)

Universal Pictures kembali merilis film terbarunya bergenre thriller yang berjudul Drop. Film ini disutradarai Christopher Landon, sutradara ternama di balik film Scouts Guide to the Zombie Apocalypse (2015), Happy Death Day (2017), Happy Death Day 2U (2019), dan Freaky (2020).

Sejak tayang perdana di SXSW pada 9 Maret 2025, dan dirilis di Amerika Serikat oleh Universal Pictures pada 11 April 2025, Drop mendapat ulasan positif dari para kritikus, yang memuji ceritanya dan penampilan Fahy. Tak hanya itu, film yang memiliki bujet 11 juta dolar AS ini telah meraup pemasukan 20,6 juta dolar AS di seluruh dunia. Seperti apakah filmnya? Kita ulas di bawah ini.

© Universal Pictures

Sinopsis

Violet (Meghann Fahy), orang tua tunggal beranak satu, akhirnya bisa berkencan dengan seseorang yang baru ia kenal di aplikasi setelah bertahun-tahun menolak saran adiknya untuk berkencan. Ia merasa lega, setelah Henry (Brandon Sklenar), teman kencannya yang baru, mengajaknya untuk makan malam di sebuah restoran mewah.

Tanpa ia duga, Henry ternyata sangat menawan dari yang ia bayangkan sebelumnya. Namun, hubungan mereka mulai memanas saat Violet merasa kesal dengan serangkaian pesan anonim yang masuk ke ponselnya tanpa henti, dan mulai meneror dirinya dan juga mengancam keselamatan anaknya yang sedang ada di rumah. Apa yang sebenarnya terjadi, dan siapakah yang meneror Violet?

Eksekusi mengejutkan bak film klasik ala Hitchcock

© Universal Pictures

Bisa dikatakan, Drop memasukkan beberapa aspek teknologi modern, dan eksekusinya mengingatkan kita pada film klasik ala Alfred Hitchcock yang kental dengan elemen whodunit, penggunaan setting di satu tempat yang narasinya sangat berlapis dengan berbagai karakter di dalamnya, membuatnya sulit untuk ditebak siapa pelakunya.

Ketegangan yang disajikannya juga tidak mereda sejak Violet memasuki restoran, dan set-piece nya juga sangat memuaskan, membuat film ini terasa solid dan menegangkan untuk diikuti.

Yang membuat Drop sangat menarik, Christopher Landon menggunakan satu tempat di mana semua adegan banyak terjadi di tempat ini. Walaupun begitu, bagi beberapa penikmat film, hal ini sangat beresiko, karena look-nya cenderung membosankan dan kemungkinan menebak siapa dalang di balik semua terror yang terjadi menjadi besar.

Hal ini sangat dihindari di subgenre whodunit yang terus menjaga kontinuiti narasinya hingga akhir konklusi, untungnya film ini sangat kreatif soal setting tempatnya dengan memberi pace yang cukup rapat, sehingga bisa menjaga tensi penonton tetap tinggi. Sinematografi yang baik, dengan sejumlah shot yang menarik dan dinamis, juga didukung skoring yang intens, membuat film ini membuat adrenalin kita terus berdegup kencang saat mengikutinya.  

Akting Fahy yang menawan di sepanjang film

© Universal Pictures

Luar biasa Meghann Fahy di film ini, dia bisa menunjukkan emosinya yang terus berfluktuasi dengan narasi yang diberikan. Ia bisa memperlihatkan rasa tidak nyaman dengan konstan saat berada di depan Henry di dalam restoran, tapi di lain waktu ia bisa menyembunyikan emosinya rapat-rapat demi keselamatan orang-orang yang ia sayangi, dan mencoba menemukan solusi tanpa membuatnya terlihat khususnya dari Henry.

Fahy tetap berusaha membuat kencan pertamanya lancar tanpa halangan apapun, dan konsistensi narasi ini membuat mata kita terpaku pada sepasang orang yang baru saja dipertemukan dan chemistry keduanya sangat cair di sepanjang film.

Kesimpulan

Film terbaru Christopher Landon ini berhasil menyajikan thriller yang kekinian, dengan sentuhan klasik ala Hitchcock yang kental dengan alur rapat, karakter yang terbatas, setting yang dominan di satu tempat, membuat ketegangan seolah tak pernah berhenti hingga menjelang konklusi. Untuk kamu penggemar sub genre whodunit, terlebih penyuka karya Agatha Christie, film ini wajib untuk ditonton.

Director: Christopher Landon

Cast: Meghann Fahy, Brandon Sklenar

Duration: 95 Minutes

Score: 7.4/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top