1 Kakak 7 Ponakan

Review 1 Kakak 7 Ponakan (2025)

Rate this post

Perjuangan Seorang Kakak yang Mengorbankan Cita-Citanya Demi Keponakannya

“Rin, kalau kamu misalnya sama aku, kamu udah punya empat anak Rin, dan itu gak akan bisa,” – Moko (1 Kakak 7 Ponakan, 2025)

Setelah sebelumnya menyutradarai Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), Yandy Laurens kembali lagi dengan film terbarunya dan tak kalah bagusnya dengan film ia sebelumnya.  Film yang diberi judul 1 Kakak 7 Ponakan merupakan alih wahana dari cerita karya Arswendo Atmowiloto yang dahulu pernah disiarkan dalam bentuk serial di salah satu stasiun televisi swasta pada tahun 1986. Dahulu serial ini disutradarai langsung oleh Arswendo Atmowiloto dan dibintangi Novia Kolopaking, Derry Drajat, Sandy Nayoan, Epi Kusnandar, dan Ceria Hade.

1 Kakak 7 Ponakan
© Cerita Films

Sinopsis

Narasinya sangat sederhana, 1 Kakak 7 Ponakan mengisahkan tentang perjuangan seorang kakak yang mengorbankan mimpinya demi menghidupi keponakannya setelah cobaan besar hadir secara tak terduga. Moko (Chicco Kurniawan), seorang arsitek muda yang baru saja lulus kuliah, dan sedang berjuang meraih mimpinya, tiba-tiba harus menjadi orang tua bagi keponakan-keponakannya setelah kakak tertuanya meninggal dunia secara mendadak.

Dengan kejadian yang bertubi-tubi tersebut, Moko harus memilih antara studi dan karirnya bersama sang kekasih, Maurin (Amanda Rawles), atau mengurus keponakan-keponakannya, Woko (Fatih Unru), Nina (Freya JKT48), Ano (Ahmad Nadif), Ais (Kawai Labiba), dan Ima. Masalah terus saja muncul, ketika salah satu kakaknya pulang bersama suaminya dan menambah masalah yang seharusnya tidak terjadi. Apa yang kemudian dilakukan Moko menghadapi semua masalah tersebut?

Sandwich Generation dalam situasi yang lebih kompleks

Bila sebelumnya kita sudah pernah melihat Home Sweet Loan, tentu tak akan asing dengan istilah Sandwich Generation, sebuah istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan orang dewasa yang merawat kedua orang tua mereka yang sudah lanjut usia dan anak-anak mereka sendiri. Namun, di film ini istilah itu diartikan lebih progresif dengan memasukkan karakter yang bukan keponakan langsung Moko (lewat karakter Ais) plus penambahan dua orang lagi (karakter Osa dan Eka).

Dua karakter terakhir aslinya memang kakak kandung Moko beserta suaminya, namun narasinya secara eksplisit mengindikasikan kalau Moko ikut menanggung beban yang mereka miliki tanpa pamrih.

Berkembangnya narasi ini tampaknya dilakukan agar tidak terkesan monoton, dan membuat konflik yang sedang berjalan, tidak menurun emosinya setelah Moko mendapat pekerjaan tetap. Karena setelah paruh pertama yang terasa sangat emosional, paruh kedua memang perlu memasukkan konflik baru yang tidak terkesan repetitif, agar karakter Moko juga bisa berkembang ke arah yang berbeda.

1 Kakak 7 Ponakan
© Cerita Films

Elemen teknis dan akting yang nyaris tanpa cela

Secara teknis, 1 Kakak 7 Ponakan tampil sangat cantik secara visual, dengan tone pastel yang membuat hangat suasana yang terjalin di keluarga tersebut. Shot kamera yang variatif, dengan blocking yang sangat rapi saat berada di dalam rumah, ditambah dengan transisi adegan yang mulus, membuat narasi mengalir indah begitu saja. Sedikit eksposisi di bagian konklusi, mempermanis karakter Moko yang kurang tergambarkan di awal film.

Akting dari para pemainnya tak usah dipertanyakan lagi. Chicco tampil luar biasa menjadi Moko. Raut mukanya berhasil menggambarkan karakter ini tanpa perlu susah payah, terlebih di 30 menit awal yang terasa sangat emosional dan menguras air mata. Begitu pula dengan Amanda yang mampu mengimbangi dari second line, walaupun scene-nya minim, perannya juga menambahkan konflik yang kian dalam.

Peran Ais dan Nina diperankan dengan sangat baik oleh Kawai Labiba dan Freya JKT48, yang di luar dugaan diberikan porsi tersendiri. Unsur komedi tak lupa diselipkan Yandy lewat karakter Ano lewat gestur dan dialognya yang seringkali membuat penonton tertawa sekaligus terharu melihat apa yang diucapkannya.

1 Kakak 7 Ponakan
© Cerita Films

Kesimpulan

Sebagai sebuah film, Yandy kembali berhasil (lagi) lewat 1 Kakak 7 Ponakan yang tampil menyentuh, terasa emosional lewat karakter Moko yang merepresentasikan dirinya sebagai sandwich generation yang jauh lebih kompleks permasalahannya dari Home Sweet Loan.

Narasi film ini memang sangat membumi, dan dengan pemilihan karakter yang tepat, skoring yang cocok dan tidak berlebihan, akan membuat film ini bisa diterima dan buat kita yang merasa relate dengan permasalahan yang ada, film ini akan membuat kita menangis tanpa henti. Tonton segera film ini mulai 25 Januari 2025.

Director: Yandy Laurens

Cast: Chicco Kurniawan, Amanda Rawles, Fatih Unru, Freya JKT48, Ahmad Nadif, Kawai Labiba, Ringgo Agus Rahman, Niken Anjani, Kiki Narendra, dan Maudy Koesnaedi

Duration: 131 Minutes

Score: 9.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top