“I always knew this day would come,” – Iris (Final Destination: Bloodlines, 2025)
Waralaba Terbaik Final Destination dengan Sajian Gore yang Brutal
Buat kamu pecinta genre horor, terlebih yang mengikuti waralaba Final Destination, tentu tak asing dengan film yang satu ini. Film yang memulai kisahnya pada tahun 2000, dan memomulerkan sejumlah bintangnya seperti Devon Sawa, Ali Larter, dan Kerr Smith, kini telah mencapai film terbarunya, sekaligus film keenamnya yang diberi judul Final Destination: Bloodlines.
Film terbaru ini merupakan angin segar dalam waralaba “Final Destination” yang sebelumnya mulai kehilangan daya tariknya. Setelah lima film yang cenderung mengulang formula serupa, lewat firasat, berusaha menyelamatkan diri dengan caranya masing-masing, Final Destination: Bloodlines memperkenalkan pendekatan naratif baru yang menghidupkan kembali ketegangan dan rasa ingin tahu pada penonton yang sudah terbiasa dengan pola lama.

Disutradarai oleh Zach Lipovsky dan Adam Stein, serta ditulis oleh Guy Busick dan Lori Evans Taylor, Final Destination: Bloodlines menyisipkan unsur mitologi baru ke dalam cerita. Pertanyaan utama yang diangkat kali ini adalah: bagaimana jika seseorang berhasil menyelamatkan semua orang dari kematian yang sudah ditakdirkan? Sebuah pertanyaan yang membawa nuansa baru dan menjadikan film ini lebih dari sekedar rangkaian kematian kreatif.
Di situs web agregator ulasan Rotten Tomatoes, 92% dari 51 ulasan kritikus bersifat positif. Metacritic juga memberi film tersebut skor 75 dari 100, berdasarkan 18 kritikus, yang menunjukkan ulasan “umumnya positif.” Tentu dengan hasil positif yang diperoleh menunjukkan kalau film ini layak untuk ditonton.
Sinopsis
Ceritanya berpusat pada Stefani, seorang mahasiswi yang diperankan oleh Kaitlyn Santa Juana, yang mengalami mimpi buruk tentang tragedi misterius di masa lalu. Mimpi tersebut melibatkan neneknya yang terasing, Iris (Brec Bassinger), yang tampak mengalami kejadian tragis saat muda. Terdesak oleh kondisi akademik dan rasa penasaran, Stefani pulang kampung untuk menyelidiki asal mula penglihatan-penglihatannya. Meski diperingatkan oleh ayah dan pamannya, ia tetap mengejar kebenaran yang keluarganya dengan kekuatan kematian yang tak terhindarkan.
Alur baru yang tidak melupakan benang merah film pendahulunya

Final Destination: Bloodlines tidak hanya menyuguhkan alur cerita baru, tetapi juga mengikat beberapa benang merah dari film-film sebelumnya, menyatukan semesta naratif yang lebih luas dan kohesif. Meskipun pendekatan ini memperkaya dan memperkaya mitologi waralaba, potensi berlipatnya di masa depan perlu diwaspadai agar tidak jatuh ke dalam perangkap formula yang sama.
Sebagai film bergenre horor, film ini tetap setia pada akar daya tariknya: adegan-adegan kematian yang kreatif dan mengejutkan. Namun, kali ini sumber teror berasal dari situasi sehari-hari yang tampak sepele, seperti kejadian atau kamar rumah sakit—menjadikan ketegangan lebih dekat dan pribadi. Pilihan ini menunjukkan bahwa kematian bisa datang dari mana saja, kapan saja, dengan cara paling tak terduga. Visualisasi darah dan kekerasan tetap intens, menjadikan film ini salah satu yang paling brutal dalam serinya.
Dari sisi karakter, dua tokoh mencuri perhatian. Erik, sepupu Stefani yang diperankan oleh Richard Harmon, memberikan sentuhan humor dan kejenakaan yang meredakan ketegangan. Di sisi lain, William Bludworth—diperankan oleh mendiang Tony Todd—menjadi pusat emosi dalam film ini Monolog perpisahannya tidak hanya menjelaskan identitas karakternya secara lebih jelas, tetapi juga menjadi penghormatan yang menyentuh terhadap warisan Todd dalam genre horor.

Kesimpulan
Secara keseluruhan, Final Destination: Bloodlines merupakan kebangkitan yang efektif bagi franchise yang sempat kehilangan arah. Dengan narasi yang lebih kompleks, karakter yang hidup, dan tetap mempertahankan kekuatan utama waralaba dalam menciptakan rasa takut, film ini berhasil menggabungkan nostalgia dan inovasi. Jika ini adalah arah baru bagi “Tujuan Akhir”, maka masa depan tampak menjanjikan—dan tetap mematikan.
Director: Zach Lipovsky, Adam B. Stein
Cast: Tony Todd, Brec Bassinger, Richard Harmon, April Telek, Rya Kihlstedt, Kaitlyn Santa Juana, Anna Lore
Duration: 110 Minutes
Score: 8.0/10