Pintu-Pintu Surga

Review Pintu-Pintu Surga (2025)

Ketika Poligami Menjadi Jawaban yang Tepat untuk Menolong Seorang Perempuan

“Kita tahu persis gimana rasanya disakitin sama pasangan hidup kita,” – Ibu Arman (Pintu-Pintu Surga, 2025)

Sebuah film reliji baru saja hadir di layar lebar di minggu ini dengan judul Pintu-Pintu Surga, dan mengusung narasi yang walaupun akan mengundang tanggapan pro-kontra di masyarakat, mempunyai tujuan yang mulia. Kita akan membahas seperti apa filmnya di bawah ini.

Pintu-Pintu Surga
© Dakaramira Studio

Sinopsis

Berlatar di Bogor, Latifah (Susan Sameh) yang sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak, tiba-tiba dikejutkan saat mengetahui suaminya, Maulana (Edward Akbar) mendadak meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Maulana meninggalkan seorang putra bernama Gandhi serta sebuah yayasan pendidikan yang telah lama ia kelola.

Setelah beberapa tahun menjanda, Latifah dikejutkan ketika ia bertemu Arman (Arya Saloka), yang ditugaskan menjadi pengawas yayasan pendidikan itu oleh Pak Wanto (Rukman Rosadi), sesama pengurus dan kenal dekat dengan Maulana. Arman sendiri merupakan mantan kekasih Latifah sewaktu mereka kuliah dulu.

Melihat kesulitan yang dihadapi Latifah, Arman menawarkan diri untuk membantunya mengurus yayasan. Terlebih saat Arman melihat sendiri kalau anak Latifah mempunyai kebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian ekstra yang tidaklah mudah dihadapi semua orang.

Cinta lama mereka kemudian tumbuh di antara mereka berdua seiring dengan pertemuan yang mulai intens. Namun, Arman yang selama ini sudah membangun rumah tangga bersama Widya (Agla Artalidia) dan sudah mempunyai anak perempuan, justru berkeinginan untuk berpoligami dengan memperistri Latifah.   

Widya yang belum mengetahui hal ini sangat terkejut dan marah besar setelah mengetahui kalau suaminya ternyata menaruh hati pada cinta lamanya tersebut dan berkeinginan memperinstrinya. Apakah keinginan tersebut lantas disetujui Widya? Dan apakah Latifah menyetujui hal tersebut, dan rela menjadi istri kedua Arman?

Pintu-Pintu Surga
© Dakaramira Studio

Narasinya menarik dengan tujuan mulia

Film dengan latar poligami bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Sejak kehadiran Berbagi Suami yang dirilis pada tahun 2006, sejumlah film bertema serupa telah hadir memenuhi layar lebar Indonesia, seperti Ayat-Ayat Cinta 1-2 (2008-2017), dan Surga yang Tak Dirindukan (2015). Namun, Pintu-Pintu Surga menawarkan dengan perspektif berbeda yang sesuai kaidah Al-Qur’an, dan terlihat terbukti efektif dalam menyampaikan maksud dan tujuannya.

Kesimpulan

Dari sinopsis di atas, kita dapat memahami apa alasan utama Arman ingin menikahi Latifah, bukan sekedar nafsu belaka, tapi karena ingin menolongnya dalam merawat Gandhi yang ternyata dekat dengannya. Alasan inilah yang tadinya tak dipahami istrinya, Widya. Tapi setelah melihat dan bertemu langsung dengan Latifah, barulah ia memahami kenapa suaminya menginginkan hal tersebut.

Akting para pemainnya sangat solid, terutama Agla Artalidia yang cukup menguras emosi sebagai karakter yang diduakan di film ini, begitu juga dengan karakter lainnya yang walaupun tak seeksplosif Agla, mampu memberikan feedback yang mumpuni.

Pintu-Pintu Surga
© Dakaramira Studio

Kekurangan film ini ada di sejumlah shot yang tidak cukup baik di banyak adegan. Hal tersebut mengakibatkan ketidaknyamanan kita sebagai penonton untuk menikmati film ini, dan hal ini relatif cukup mengganggu.

Terlepas dari kekurangannya, film ini penuh pesan yang secara eksplisit mengajarkan kepada kaum adam bagaimana berpoligami dengan alasan yang benar secara agama, sehingga tujuannya untuk memuliakan perempuan yang dinikahinya, bisa ia wujudkan.

Director: Adis Kayl Yurahmah

Cast: Arya Saloka, Agla Artalidia, Susan Sameh, Vonny Anggraeni, Edward Akbar, Oki Rengga, Rukman Rosadi

Duration: 104 minutes

Score: 5.6/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top