Mumu

Review Mumu (2025)

Kisah Mumu dan Masa Kecilnya yang Penuh Suka Duka Bersama Ayahnya  

“When I’ll grow up, I’ll protect you,” – Mumu (Mumu, 2025)

Perfilman Tiongkok, seakan tak ada habisnya dalam menelurkan film terbaiknya. Setelah kesuksesan film animasi Ne Zha 2 di awal tahun ini yang bahkan kepopulerannya berhasil menembus Hollywood, kini film berikutnya Mumu, telah hadir di layar lebar Indonesia.

Sinopsis

Seorang ayah yang tuna rungu, Xiao Ma (Zhang Yixing) dan putrinya Mumu (Li Luoan), tinggal bersama selama beberapa tahun dengan kawan-kawan ayahnya yang sesama tuna rungu. Mumu dan ayahnya saling bergantung satu sama lain setelah sang ayah bercerai dengan ibunya. Peran Mumu sebagai orang normal sangat penting untuk menjembatani komunikasi antara ayahnya dengan dunia luar, terutama dalam emndapatkan pekerjaan dan mencari nafkah.

Namun, seiring bertambahnya usia Mumu, ia harus bersekolah dan berteman dengan teman-teman sebayanya, dan kehidupan mereka yang selama ini harmonis akan terganggu, terlebih setelah ibu Mumu datang dan meminta agar Mumu ikut dengannya ke Selandia Baru bersama ayah barunya.

Keadaan ini membuat Xiao Ma yang diharuskan mencari uang untuk mengurus hak asuh Mumu, dimanfaatkan sindikat kriminal yang memanfaatkan para tuna rungu untuk melakukan aksi kejahatan mereka. Apa yang terjadi kemudian dengan Xiao Ma dan Mumu? Bisakah mereka kembali bersama lagi?

Narasinya sangat menyentuh dan emosional

Selama ini banyak film yang mengangkat kaum tunarungu, namun di Mumu, kita akan melihat bagaimana sisi lain dari kaum tunarungu yang selama ini termarjinalkan dalam kehidupan masyarakat. Film ini memberi contoh jelas sebelum masuk ke narasi utama dengan kasus perempuan tunarungu yang mencuri uang bosnya karena gajinya tak dibayar. Mumu dewasa membantu perempuan ini mencari keadilan dengan menceritakan pengalamannya dekat dengan ayahnya dan teman-teman ayahnya yang juga tunarungu.

Prolog menarik ini secara tidak langsung memberi perspektif bagi kita sebagai penonton untuk perlahan memahami konteks film ini secara menyeluruh, dan permasalahan yang dihadapi kaum tunarungu sehari-hari. Terlebih saat Mumu dewasa menjelaskan bagaimana dia bisa membedakan mereka yang tunarungu atau tidak, terlihat dari senyumannya yang tulus. Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung membuka pikiran kita yang awam dalam menghadapi kaum tunarungu.

Film ini terasa sangat emosional mengingat betapa dekatnya hubungan Mumu dengan ayahnya yang tak terpisahkan, akan membuat kita terharu melihatnya. Momen lain yang membuat film ini terasa bernyawa adalah saat pengadilan di mana ayahnya diadili untuk kasus kejahatan yang melibatkan dirinya. Di sini semua emosi Mumu tertumpah dengan emosi yang tak terbendung, membuat konklusi yang tadinya akan berakhir antiklimaks, berubah seketika saat salah seorang terdakwa mengakui peran Xiao Ma dalam kasus kejahatan yang menyeretnya.

Penampilan Zhang Yixing dan Li Luoan yang sangat memikat

Ayah Mumu yang diperankan Zhang Yixing dan Li Luoan yang menjadi Mumu, tampil luar biasa di film ini. Chemistry keduanya benar-benar menyatu dan digambarkan sangat baik hingga kedekatan mereka yang seolah tak bisa dipisahkan.

Zhang Yixing atau biasa kita kenal dengan nama Lay Zhang, merupakan personel boyband Exo yang tak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya, terlebih saat dahulu ia tampil sangat baik di No More Bets (2023), yang filmnya sempat tayang di Indonesia. Namun, yang menjadi pusat perhatian kita adalah Li Luoan pemeran Mumu.

Di luar dugaan, peran yang tampaknya mudah di paruh pertama, perlahan mulai nampak sulit memasuki paruh kedua, yang membuat karakter Mumu harus bisa menunjukkan emosinya dalam tingkatan ekstrem untuk pemeran anak-anak. Sebuah hal yang sulit untuk dilakukan anak lain sebayanya.

Zhang Yixing yang biasa berperan normal di film sebelumnya, sekarang berubah menjadi sosok seorang ayah tunarungu yang sangat menyayangi putrinya. Sangat sulit untuk menampilkan emosi terlebih lagi isak tangis hanya melalui ekspresi mata, bahasa isyarat, dan gestur tubuh. Namun, penampilan Zhang Yixing yang terasa natural, mampu melakukan itu semua. Tatapannya yang kuat dapat ‘berbicara,’ jauh menembus batas keheningan yang selama ini dimiliki sesamanya.

Elemen teknisnya dipikirkan dengan baik

Mumu menggunakan tone warna berbeda yang penggunaannya dipikirkan dengan baik. Tone normal digunakan saat Mumu dewasa muncul lewat sejumlah adegan. Sedangkan masa kecilnya digambarkan lewat tone oranye yang hangat dengan nuansa retro.

Penggunaan low angle beberapa kali digunakan untuk menangkap sedikit pantulan sinar matahari di wajah Mumu dan ayahnya dengan lembut, juga soft panning untuk menggambarkan suasana hangat di antara mereka. Namun semua itu berubah saat malam hari, tone warna gelap dibuat sealami mungkin, membuat intensitasnya terasa tinggi dan membuat perasaan tidak nyaman.

Kesimpulan

Film ini mempunyai narasi yang diceritakan dengan sangat baik lewat kilas balik karakter dewasanya, dan memberi contoh kepada kita secara langsung bagaimana menghadapi kaum tunarungu yang secara eksplisit digambarkan lewat dialog.

Mumu juga memberi pelajaran penting agar kita tidak mengesampingkan sesama yang mempunyai kekurangan. Karena mereka hanya butuh dicintai dan diperhatikan dengan tulus agar mereka tidak merasa dipinggirkan dan keberadaannya lebih diakui oleh masyarakat di mana mereka tinggal. Tonton Mumu serentak di bioskop Indonesia.

Director: Sha Mo

Cast: Zhang Yixing, Li Luoan

Duration: 119 Minutes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top