Review Dracula: A Love Tale (2025)

Alih Wahana Dracula dari Luc Besson yang Kental dengan Unsur Romansanya

“I was one of his most faithful servants, until he took my princess, the love of my life,” – Count Dracula (Dracula, A Love Tale, 2025)

Siapa yang tidak mengenal karakter terkenal yang satu ini. Karakter yang diambil dari novel Dracula karya Bram Stoker tahun 1897 ini sudah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Sejak kemunculan perdananya di layar lebar pada tahun 1931 lewat judul Dracula, film yang disutradarai Tod Browning, Karl Freund ini juga mengorbitkan nama Bela Lugosi sebagai Dracula pertama yang juga membuat film bergenre horor tumbuh pertama kali di Hollywood.

© SND

Kini di film terbaru Dracula yang mempunyai judul lengkap Dracula: A Love Tale, film ini disutradarai Luc Besson, sutradara Prancis yang terkenal lewat sejumlah filmnya yang sarat aksi dan visual mengagumkan seperti La Femme Nikita (1990), Léon: The Professional (1994), The Fifth Element (1997), dan Lucy (2014). Luc sendiri juga dikenal karena kontribusinya pada gerakan film Cinéma du Look.

Sinopsis

Pada abad ke-15, Pangeran Vladimir (Caleb Landry Jones) dari Rumania mengutuk Tuhan setelah kematian istri tercintanya, Elisabeta (Zoe Bleu) dan kutukan itu mengubah Vlad menjadi vampir. Beberapa abad kemudian, pada abad ke-19, ia menemukan istrinya kembali dalam rupa Mina, seorang perempuan muda yang akan menikah dengan Jonathan Harker, seorang pengacara yang secara tidak sengaja bekerja pada Pangeran Vlad. Hal tersebut membuat Pangeran Vlad mengejar reinkarnasi istrinya tersebut sampai ke Prancis. Apa yang terjadi kemudian?

© SND

Alih wahana yang berbeda dari film sebelumnya

Walaupun Luc Besson mengangkat film ini dari karya Bram Stoker yang sudah terkenal dan beberapa kali di alihwahanakan, film ini mempunyai gayanya sendiri. Salah satu film tentang Dracula paling terkenal adalah Bram Stoker’s Dracula (1992) yang disutradari Francis Ford Coppola. Sesudah itu, versi terbaru Nosferatu, yang disutradarai oleh Robert Eggers, telah dirilis. Walaupun pada dasarnya semua film menceritakan kisah Dracula, tetapi semua mempunyai elemen berbeda yang menjadi ciri khas tersendiri di masing-masing film.

Jika Bram Stoker’ Dracula menghadirkan narasi romantis dengan elemen horor gotik, Nosferatu menekankan aspek horor gotik yang lebih gelap lagi. Lain lagi dengan Besson, ia juga memilih sudut pandang romantis, tetapi dengan pengembangan karakter yang lebih panjang dan sedikit dragging, hingga Vlad berhasil menemukan Mina dan menemukan kembali tujuan hidupnya. Perlu diakui kalau film ini dipenuhi dengan adegan dan elemen yang familiar dari karya Stoker, tetapi karena repetitif, banyak adegan terasa tidak bermakna dan dangkal.

© SND

Meskipun Luc Besson menempatkan narasi romantis sebagai inti cerita, ia hanya menambahkan sedikit hal baru. Terkadang, ia bahkan tampak seperti menghilangkan atau menyesuaikan beberapa elemen, agar film ini bisa diterima oleh penonton gen z atau alpha. Film ini terlihat seperti kisah cinta Romeo + Juliet (1996) yang diperankan Leonardo DiCaprio, di mana film ini amat kental dengan nuansa romantismenya dan endingnya yang begitu dramatis. Ada sedikit elemen Perfume: The Story of the Murderer (2006) yang berhasil membuat sosok Vlad menjadi persona yang memabukkan perempuan yang ditemuinya.

Kesimpulan

Secara teknis, Dracula terbaru ini tampil dengan desain produksi yang amat serius, CGI-nya juga tak terlihat berlebihan, begitu juga dengan make-up dan wardrobe-nya yang tampak rapi. Para pemain mampu memberikan penampilan solidnya, walaupun memang tak sebaik Bram Stoker’s Dracula ataupun Nosferatu yang tampil memikat. Tonton segera Dracula: A Love Tale di bioskop terdekat di kota kamu.

Director: Luc Besson

Cast: Caleb Landry Jones, Christoph Waltz, Zoë Bleu

Duration: 129 minutes

Score: 7.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top