Until Dawn

Review Until Dawn (2025)

Rate this post

Alih Wahana Game yang Hadir dengan Adrenalin Tinggi Hingga Akhir

“Every time we die, we find ourselves back here again. But the night is never the same. We’re here again,” – Nina (Until Dawn, 2025)

Bagi para gamers, nama Until Dawn tentu sudah tak asing lagi, terlebih sejak game yang dikembangkan oleh Supermassive Games ini dirilis di konsol PlayStation sejak 2015. Game bergenre survival horor ini akhirnya diangkat ke layar lebar oleh Sony Pictures dan disutradarai David F. Sandberg. Sutradara yang sebelumnya terkenal dengan Lights Out (2016), Annabelle: Creation (2017), makin terkenal setelah ia menggarap Shazam! (2019) dan sekuelnya, Shazam! Fury of the Gods (2023).  

Alih wahana kali ini berlatar semesta yang sama dan menampilkan kisah orisinal yang berdiri sendiri atau standalone di luar seri game itu sendiri. Dibintangi oleh Ella Rubin, Michael Cimino, Odessa A’zion, Ji-young Yoo, Belmont Cameli, dan Peter Stormare, yang muncul dalam game tersebut. Bagaimana dengan adaptasi kali ini? Kita bahas filmnya di bawah ini.

Until Dawn
© Sony Pictures

Sinopsis

Satu tahun setelah Melanie, adik perempuan Clover menghilang secara misterius, Clover dan teman-temannya pergi ke lembah terpencil tempat Melanie menghilang untuk mencari jawaban. Di tempat itu, mereka mendapati diri mereka dibuntuti oleh seorang pembunuh bertopeng dan dibunuh secara mengerikan satu per satu, hanya untuk bangun dan menemukan diri mereka kembali di awal malam yang sama.

Terjebak di lembah, mereka dipaksa untuk menghidupkan kembali malam itu lagi dan lagi – hanya saja setiap kali ancaman pembunuh berbeda, masing-masing lebih mengerikan dari sebelumnya. Harapan semakin menipis, Clover dan teman-temannya segera menyadari bahwa jumlah kematian yang mereka miliki makin menipis, dan satu-satunya cara untuk melarikan diri adalah bertahan hidup hingga matahari terbit.

Premis sederhana, namun solid

Until Dawn
© Sony Pictures

Bagi kamu yang belum pernah memainkan gamenya, Until Dawn tetap menawarkan cerita yang cukup menarik. Premisnya sederhana tapi kuat: sebuah siklus kematian yang menghantui para remaja. Elemen horor diperkuat dengan adegan gore yang cukup brutal, dijamin membuat penonton bergidik ngeri. Untuk penggemar horor, film ini bisa jadi hiburan yang cukup memuaskan.

David F. Sandberg berhasil menghadirkan atmosfer menegangkan dengan baik. Ia mampu memberi porsi ketegangan yang merata pada tiap karakter, membuat suasana tegang terus terjaga sepanjang film. Penempatan jumpscares pun terasa pas dan tidak berlebihan, berhasil memompa adrenalin tanpa terasa murahan.

Pengembangan karakter kurang dalam

Until Dawn
© Sony Pictures

Kelemahan yang terasa signifikan adalah eksposisi karakternya yang kurang dalam. Beberapa dari kita yang menonton mungkin akan merasa kesulitan untuk terhubung dengan tokoh-tokohnya. Selain itu, penyelesaian cerita terkesan klise dan terlalu mengikuti formula umum film horor, membuat klimaks terasa kurang menggigit. Padahal, dengan materi asli dari game yang kaya akan potensi, film ini seharusnya bisa lebih menggali sisi psikologis maupun emosional karakternya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, sebagai sebuah adaptasi game, Until Dawn terasa cukup solid meski belum sempurna. Ia sukses membawa elemen-elemen khas horor game ke layar lebar dengan baik, terutama dari sisi atmosfer dan ketegangan. Walau tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, film ini tetap layak ditonton bagi pencinta horor yang mencari sensasi seram dan visual yang mengerikan.

Director: David F. Sandberg

Cast: Ella Rubin, Michael Cimino, Odessa A’zion, Ji-young Yoo, Belmont Cameli, Peter Stormare

Duration: 103 Minutes

Score: 7.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top