Misi Pengintaian dan Penyelamatan yang Terasa Emosional Ketimbang Film Perang Lainnya
“Oh, he’s back. That’s the fourth fucking time he’s done that. Peeking with serious intent to probe.” – Elliot Miller (Warfare, 2025)
A24 kembali merilis film bergenre drama perang terbarunya yang berjudul Warfare. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Ray Mendoza dan Alex Garland ini dibuat berdasarkan pengalaman Mendoza selama Perang Irak selama ia menjadi tentara U.S. Navy SEAL. Uniknya, film ini mereka ulang kejadian yang ia dan peletonnya alami pada tanggal 19 November 2006 setelah Pertempuran Ramadi.
Untuk menjaga keakuratan narasi Warfare, materi film secara eksklusif diambil dari kesaksian anggota peleton Mendoza, dimulai dari judul utama film ini sendiri. Warfare juga didedikasikan untuk anggota peleton Elliott Miller, diperankan oleh Cosmo Jarvis, yang kehilangan kaki dan suaranya dalam insiden tersebut.
Sinopsis

Pada tahun 2006, satu peleton pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat atau biasa disebut Navy SEAL, sedang berada dalam misi pengintaian di Ramadi yang menargetkan orang-orang yang mencurigakan yang ada di depan gedung yang ramai dimasuki orang.
Yang tak mereka duga, misi itu ternyata diketahui target mereka dan mereka diserang secara membabi buta. Salah satu yang bisa menyelamatkan mereka adalah rekan mereka yang berkeliling menolong beberapa tim yang diserang. Bisakah mereka keluar dari rumah pengintaian tersebut?
Narasinya sangat personal ketimbang film bergenre sejenis

Jangan bandingkan Warfare dengan film bergenre sejenis, misalnya seperti Lone Survivor (2013), atau 13 Hours: The Secret Soldier of Benghazi (2016), yang memiliki premis sedikit mirip, namun film di atas terlihat lebih komersil penggarapannya. Warfare memang hanya mengambil secuil momen penting dalam misi pengintaian dan penyelamatan, namun apa yang mereka alami saat itu sangat krusial bagi peleton tersebut.
Film ini tak sekedar biopik seperti dua film yang telah disebut di atas, namun terasa lebih personal karena salah satu personel Navy SEAL, Alex Mendoza menjadi co-director bersama Alex Garland, dan di beberapa adegan, emosinya pecah dan harus digantikan oleh Garland karena adegan yang ia sutradarai mengingatkan ia pada kejadian aslinya.
Semua adegan dibuat semirip mungkin berdasarkan ingatan orang-orang yang mengalaminya, bahkan skoring musiknya sendiri pun tidak ada di sepanjang film. Warfare murni hanya mengandalkan dialog para cast-nya dan interaksi mereka dalam menghadapi kemelut yang terjadi saat misi pengintaian dan penyelamatan tersebut.
Kesimpulan

Sebagai sebuah film pertempuran, Warfare bukanlah film perang yang biasa kita tonton di bioskop. Film ini sangat personal karena melibatkan orang yang pernah bertempur langsung di kejadian tersebut, dan secuil momen tersebut membuat film ini terasa emosional karena keakuratannya dan eksekusinya yang sangat intens.
Buat kamu penyuka film perang, jangan lewatkan Warfare, karena film ini akan memberikan perspektif yang berbeda saat kita menontonnya. Tak sekedar menjual baku tembak saja, chemistry antar cast juga terlihat sangat baik, dan mampu memperlihatkan emosinya saat serangan bertubi-tubi datang menghampiri mereka.
Pada akhirnya, film ini merupakan kisah nyata bagaimana perang modern terjadi dan membuat mereka yang terlibat menjadi dekat, dan terasa sangat personal. Seperti tagline film ini, “told in real time and based on the memory of the people who lived it.” Atau bila kita terjemahkan menjadi, “diceritakan secara langsung berdasarkan ingatan orang-orang yang mengalaminya.”
Director: Ray Mendoza, Alex Garland
Cast: D’Pharaoh Woon-A-Tai, Will Poulter, Cosmo Jarvis, Kit Connor, Finn Bennett, Joseph Quinn, Charles Melton, Noah Centineo, Michael Gandolfini.
Duration: 95 Minutes
Score: 8.0/10