Review Mercy (2026)

Ketika Kecerdasan Buatan Menjadi Pengadil di Masa Depan

“We live in a world where murderers walk free in justice system bogged down ny red tape and human error,” – Raven (Mercy, 2026)

Sony Pictures merilis film terbarunya yang sarat dengan kecerdasan buatan (AI) lewat sebuah kasus pembunuhan misterius yang melibatkan seorang detektif.

Sinopsis
Berlatar di Los Angeles tak jauh dari masa kita, tepatnya pada tahun 2029, sistem peradilan telah diambil alih oleh teknologi AI bernama Mercy Program. Mercy kini sedang menangani kasus pembunuhan yang melibatkan Detektif Chris Raven (Chris Pratt), seorang polisi yang mendukung sistem peradilan AI ini.

Raven kaget saat terbangun dalam kondisi terikat di kursi eksekusi di Mercy saat dituduh membunuh istrinya sendiri, Nicole (Annabelle Wallis), dengan probabilitas kesalahan awal mencapai 98%. 

Dengan riwayat kecanduan alkohol yang ia miliki, Raven berusaha mengingat apa yang sedang terjadi. Karena alkohol itulah Raven terlihat beradu argumen dengan mendiang istrinya, dan menyebabkan alibinya sangat lemah di depan Mercy. Bisakah ia memecahkan kasus pembunuhan istrinya tersebut?

Narasi generik dengan AI yang menegangkan
Sutradara Timur Bekmambetov memvisualisasikan Chris Pratt dan Rebecca Ferguson berdialog berhadapan di sebuah ruangan. Sebagai sebuah AI, Mercy bertindak sebagai pengadil bagi Raven yang ia adili dengan sejumlah teknologi real-time yang dapat mengakses data di manapun saat itu juga.

Melihat Mercy mengingatkan kita pada Minority Report yang dirilis pada tahun 2002 dan dibintangi Tom Cruise. Memecahkan kasus pembunuhan dengan menggunakan AI di film tersebut memang sangat impresif. Dengan balutan aksi kejar-kejaran berlatar masa depan sangat terlihat futuristik.

Di Mercy, dengan latar tak terlalu jauh dari masa kini, film ini menghadirkan konsep visual screenlife bak IMAX yang memberikan pengalaman augmented reality/realitas tertambah (AR) bagi penonton. Kita seperti berasa di samping Chris Pratt saat dia berusaha memecahkan kasus dengan tangan terikat di kursi.

Dua konsep berbeda ini membuat Mercy memakai perspektif orang ketiga untuk menjalankan instruksi, sedangkan Minority Report, semua ikut terlibat dengan apa yang terjadi. Tapi itu bukanlah masalah besar. Rebecca Ferguson tampil baik dalam memperlihatkan gestur yang proporsional sebagai sebuah AI yang terkadang konsisten, terkadang juga mengalami glitch yang bertentangan dengan hati nuraninya.

Kesimpulan
Mercy tampil luar biasa intens di sepanjang waktu. Ketegangan yang disuguhkan film ini ternyata mampu membuat penonton tak beranjak dari kursi sampai film berakhir. Dengan narasi whodunit yang penuh lika-liku dengak latar masa depan, film ini sangat luar biasa menghibur, walaupun premisnya tak original, Mercy tampil lewat pendekatan screen life yang dinamis dan mengagumkan.

Director: Timur Bekmambetov
Cast: Chris Pratt, Rebecca Ferguson, Kali Reis, Annabelle Wallis, Chris Sullivan, Kylie Rogers
Duration: 100 minutes
Score: 8.0/10



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top