Aksi Korpi yang Kian Brutal Saat Musuhnya Kembali Ingin Balas Dendam
“They’re saying i lit the fire in you. I will put it out. You’re a mistake, an abberation,” – Igor (Sisu: Road to Revenge, 2025)
Melihat judulnya, mungkin banyak dari kita yang belum pernah menonton film pertamanya. Hal ini amat wajar karena Sisu (2022) kala itu tidak dirilis secara resmi di Indonesia karena langsung rilis secara digital. Salah satunya karena wabah covid yang belum mereda di seluruh dunia pada saat itu.
Kini film keduanya yang berjudul Sisu: Road to Revenge, sangat dinantikan dan telah tayang di layar lebar. Sekuelnya banyak menerima ulasan positif dari para kritikus dan penonton. Pujian juga datang karena film ini secara signifikan menambahkan aksi brutal dan menghadirkan aksi yang memuaskan, meskipun kompleksitasnya terasa kurang bila kita bandingkan dengan film aslinya.

Sinopsis
Berlatar setelah peristiwa yang terjadi di film pertama, Aatami Korpi (Jorma Tommila), mantan komando legendaris Finlandia, kembali ke rumah keluarganya di Karelia yang diduduki Soviet untuk membongkar dan membangunnya kembali di tanah Finlandia. Misi ini lalu berubah menjadi pencarian balas dendam pribadi ketika komandan Tentara Merah, Igor Draganov (Stephen Lang), yang bertanggung jawab atas pembunuhan keluarga Korpi, dibebaskan dari penjara untuk kemudian memburunya.

Plot cepat dengan aksi lebih menghibur
Aksi menghibur yang terbilang brutal
Sisu 2 bisa dikatakan jauh lebih menghibur ketimbang film pertamanya yang tampil lebih dalam lewat narasinya. Melihat film ini mengingatkan kita pada waralaba John Wick yang premisnya kurang lebih sama, dengan karakter protagonis yang berusaha membunuh musuh-musuhnya dengan tempo cepat dan seolah tanpa henti.
Dengan pace yang relatif cepat ini, kita dihibur tanpa henti lewat rangkaian aksi yang terbilang kreatif dan cenderung ekstrem, tentu dengan korban yang jauh lebih masif daripada film sebelumnya. Memang dengan cara seperti ini, film seolah menafikan sisi logis dan juga ilmu fisika lewat banyaknya ledakan dan pemenggalan kepala hingga aksi tank terbalik yang absurd dan gerbong kereta berpeluncur rudal. Semua hal di atas membuat film ini berubah arah dari film pertamanya yang cenderung idealis (walaupun ada beberapa hal yang masih berlebihan) dan lebih masuk di akal.
Sekuelnya kini terlihat seperti film B yang lebih estetik, namun dengan cara ini mampu merangkul banyak penonton Indonesia yang cenderung menyukai aksi dan tidak menyukai dialog berlebihan. Untungnya Tommila hampir tidak berdialog di film ini (sama seperti film pertamanya), membuat narasi tetap terjaga konstan hingga akhir film walaupun pace sangat tinggi.

Kesimpulan
Jorma Tommila masih tampil sama baiknya sebagai Korpi yang berjuang keras meraih haknya. Kehadiran Stephen Langsung sebagai karakter antagonis memang tak usah diragukan lagi. Sosoknya yang tergolong vital di beberapa film yang dibintanginya, membuat ia menjadi lawan yang sepadan bagi Korpi di sekuel Sisu.
Walaupun film ini sangat menghibur, kompleksitas narasi ini cenderung menurun bila kita bandingkan dengan film pertamanya yang dipenuhi unsur kejutan di dalamnya. Plotnya kini jauh lebih sederhana, dan relatif terlihat sebagai aksi balas dendam dari pihak yang pernah dikalahkan. Tapi di balik semua itu, Sisu memberikan apa yang dijanjikan, aksi penuh darah dan menyenangkan untuk dilihat. Sekuelnya memang tampil beda, tapi memberikan perspektif yang jauh lebih menghibur dan bisa kita nikmati bersama.
Director: Jarmari Helander
Cast: Jorma Tommila, Stephen Lang, Richard Blake
Duration: 89 minutes
Score: 8.0/10