Review Tinggal Meninggal (2025)

Cara Unik Lewat Kematian Agar Bisa Memiliki Teman Secara Instan

“Gua senang banget deh dari kemarin gua jadi dekat sama teman-teman. Tapi bakal begini terus gak ya?” – Gema (Tinggal Meninggal, 2025)

Setelah GJLS yang sempat hadir dengan gaya penceritaan liar, menarik dan di luar nalar, kini muncul Tinggal Meninggal, film terbaru dari Imajinari Pictures yang sudah bisa kita tonton di bioskop. Sebagai film debut dari Kristo Immanuel yang kini duduk di bangku sutradara, karyanya yang satu ini bisa dibilang unik dan tidak biasa di perfilman Indonesia.

Dengan memadukan konsep breaking the fourth wall dengan dialog konvensional, Tinggal Meninggal atau biasa disebut TingNing, berhasil mengeksplorasi sosok Gema yang traumatis saat ia kecil dan imbasnya, menyebabkan ia sulit berkomunikasi secara verbal dengan teman-temannya saat ia telah dewasa dan memasuki lingkungan pekerjaan.

© Imajinari

Sinopsis

Gema (Omara Esteghlal) yang masa kecilnya penuh drama dan dipenuhi rasa trauma, selalu kesulitan saat memasuki dunia pekerjaan kantoran. Penampilannya tetap rapi, namun ia cenderung canggung untuk memulai komunikasi bersama rekan-rekan di kantor dan cenderung dijauhi teman-temannya karena suka berbicara sendiri.

Namun, ketika ayahnya meninggal, ia terkejut dengan perhatian yang diterimanya dari rekan-rekan kantornya. Ketika keakraban itu mulai sirna seiring berjalannya waktu, ia mulai bertanya-tanya: siapa lagi yang harus mati? Maka Gema merencanakan sesuatu yang lebih dahsyat dan penuh kebohongan di dalamnya. Dan apa yang ia rencanakan itu memicu kekacauan luar biasa, yang bahkan pengaruhnya tidak bisa ia sadari.

Narasinya di luar nalar dan berani bereksperimen

Setelah GJLS yang berani menghadirkan ide gila dengan memasukkan semua jenis komedi dan bloopers ke dalam adegannya, kini kita bisa melihat film lainnya yang berani bereksperimen dengan konsep ‘breaking the fourth wall’. Sebuah konsep yang meminjam istilah dari teater. Bayangkan kalau panggung adalah sebuah ruangan dengan empat dinding. Tiga dinding adalah adegan, dan dinding keempat adalah dinding yang tak terlihat antara aktor dan penonton. ‘breaking the fourth wall’ atau mendobrak dinding ke-4 adalah ketika seorang karakter mengakui bahwa penonton ada atau bisa berinteraksi dengan penonton.

© Imajinari

Konsep gila ini lantas dipadukan dengan subgenre dark comedy tentang trauma masa kecil yang berimbas secara signifikan kepada kesehatan mental Gema saat ia dewasa. Gema seringkali berbicara sendiri kepada penonton yang tampak seperti orang yang sedang berbicara sendiri di mata teman-temannya. Hal itu membuat dirinya dijauhi teman-teman sekerjanya, dan momen itu mendadak berubah sejak ayahnya meninggal. Momen itulah yang membuatnya ‘berpikir jahat’ tentang konsep kematian agar membuat dirinya bisa terus mendapatkan perhatian teman-temannya.

Idiom kupu-kupu dalam perut sebagai simbol suka duka

Yang membuat Tinggal Meninggal begitu menarik adalah pengunaan idiom “butterflies in the stomach” atau “kupu-kupu di perut” lewat tampilan animasi yang menggelitik. Idiom ini secara eksplisit menggambarkan rasa kecemasan yang dialami tubuh, baik ketika sedang senang atau sedang stress. Sensasi ini merupakan manifestasi emosi dalam merespons stres dalam tubuh, lewat rasa gugup, rasa senang, rasa takut dan lainnya. Tak cukup hanya lewat gestur wajah dan tindakan, tapi rasa senang atau takut Gema juga dihadirkan lewat idiom klasik yang popular ini.

© Imajinari

Mendekati epilog, idiom ini berkembang lebih jauh sebagai metafora yang menjadi penutup sempurna dari siklus hidup Gema yang penuh suka duka.

Tak hanya penggunaan idiom itu, Gema juga mengalami delusi dengan berbicara dengan fotonya semasa kecil yang seolah-olah hidup dan mengajaknya berbicara dengannya. Visualisasi itu menjadi tanda-tanda yang mengarah kepada gangguan mental seperti skizofrenia atau psikosis.

Kesimpulan

Sebagai sebuah dark comedy yang sarat makna, Tinggal Meninggal tampil luar biasa lewat premisnya yang walaupun nampak sederhana, namun menyimpan perihnya karakter Gema dalam menjalani hidupnya yang penuh kesulitan sejak ia kecil. Tema mental health yang terlihat samar, namun dibawakan secara cerdas lewat gaya komedi, tentu sangat cocok bagi penonton yang selama ini melihat isu ini lewat genre yang lebih serius seperti drama, thriller atau horror.

Pujian lebih patut diarahkan kepada Kristo Immanuel yang berhasil di debut karyanya kali ini, dan juga Jessica Tjiu yang bersama Kristo menggarap naskahnya. Omara tampil luar biasa di film ini sebagai karakter multi dimensi yang mampu memberi interpretasi beragam tentang kesulitan yang ia alami hanya untuk mendapatkan teman untuk diajak bicara.

Director: Kristo Immanuel

Cast: Omara Esteghlal, Mawar Eva de Jongh, Omara Esteghlal, Jared Ali, Nirina Zubir, Gilbert Pattiruhu, Muhadkly Acho, Mawar Eva De Jongh, Mario Caesar, Shindy Huang, Ardit Erwandha, Nada Novia Putri, Yono Bakrie, Arief Didu, Aganta Ramadaanu, Leyla Aderina, Marcel Chandrawinata

Duration: 120 Minutes

Score: 9.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top