Reboot Horor Legendaris yang Kini Tampil Jauh Lebih Gelap dan Menegangkan
“It’s my job to protect you,” – Blake (Wolf Man, 2025)
Memasuki awal tahun 2025, Universal Pictures merilis salah satu film andalannya Wolf Man yang kalau kita perhatikan judulnya, merupakan remake dari film lawas, The Wolf Man (1941), yang saat ini merupakan salah satu film horor cult legendaris yang seringkali menjadi rujukan film-film setelahnya dengan genre serupa.
Sebagai bagian dari Dark Universe yang berp usat pada Universal Monsters, film ini sudah diumumkan sejak 2014, dan setelah kegagalan The Mummy (2017), Universal Pictures beralih ke The Invisible Man (2020) yang disutradarai Leigh Whannell. Keberhasilan film tersebut membuat Whannell dipercayai lagi untuk menyutradarai Wolf Man, sekaligus menulis naskahnya bersama Corbett Tuck.

Sinopsis
Blake (Christopher Abbott), seorang penulis yang tinggal bersama istrinya, Charlotte (Julia Garner) dan putrinya, Ginger, pergi berlibur ke rumah masa kecil Blake di Oregon. Sebuah tempat indah yang baru saja diwarisi Blake dari ayahnya yang menghilang secara misterius dan diduga telah meninggal. Namun, menjelang malam hari, saat mereka hampir sampai di rumah tersebut, sekelebat makhluk tinggi besar dengan cakar tajam menyerang mobil yang dinaiki Blake dan keluarganya.
Mobil tersebut lantas jatuh ke jurang dan membuat Blake, istri dan anaknya kesulitan untuk keluar. Saat itulah ia melihat makhluk yang selalu ia dengar dari percakapan ayahnya sewaktu kecil, muncul di hadapannya, dan mulai mengejar Blake yang akhirnya berhasil mencapai rumah ayahnya. Saat makhluk itu berhasil menyerang Blake dan mencakar lengannya, Blake mulai berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dan perlahan mulai membahayakan keselamatan istri dan anaknya.
Narasinya dipenuhi rasa kekeluargaan yang hangat
Walaupun sejatinya Wolf Man merupakan film horor thriller, tapi karakter utamanya dibangun sangat intim dan penuh rasa kekeluargaan yang saling memiliki. Prolog 15 menit pertama, kita akan melihat latar belakang Blake kecil dan ayahnya di rumahnya di Oregon. Eksposisi ini sudah bisa dikatakan cukup untuk memantik rasa ingin tahu penonton, seperti apa sosok menakutkan yang diberi istilah ‘faces of wolf’ ini.
Setelah itu, kita maju 30 tahun ke masa sekarang, di mana kita akan melihat Blake telah berkeluarga dan bagaimana ketiganya saling berinteraksi, khususnya Blake dan Ginger yang memang memiliki waktu lebih banyak berdua ketimbang Charlotte yang cenderung sibuk dengan pekerjaannya. Menjelang paruh kedua barulah tensi film mulai menanjak, seiring kepergian Blake dan keluarganya ke Oregon. Di sinilah ketegangan perlahan mulai terbangun rapi, tak terburu-buru dan memang itu yang diharapkan dalam film ini.
Elemen teknisnya yang mengagumkan
Bila di paruh pertama kita akan disuguhi tone terang, memasuki paruh kedua, kegelapan menjadi latar yang mendominasi film secara keseluruhan. Hal ini juga didukung oleh elemen teknisnya yang luar biasa, dengan sejumlah shot menarik di sepanjang film, terlebih lagi blocking pemain utamanya saat berada di dalam rumah dan diserang manusia serigala, memang mengagumkan.
Sosok ini tak dimunculkan secara sekaligus, tapi perlahan, dan mencapai puncaknya setelah Blake dan keluarganya sampai di rumah ayahnya. Transisi adegannya juga sangat rapi dan kontinuitinya juga terjalin mulus dari adegan sebelumnya. Hal luar biasa lainnya adalah transformasi Blake menjadi Wolf Man yang terbilang detil. Penggunaan yang didominasi practical effect memang terlihat sangat baik dan bisa memperlihatkan beberapa bagian yang krusial, seperti transformasi kuku dan gigi.

Kesimpulan
Sebagai sebuah remake horor klasik dan sekaligus tribute dari Universal Monsters, Wolf Man terbukti berhasil dalam mewujudkan mimpi Universal Pictures lewat universe miliknya sendiri. Walaupun narasinya sederhana, namun dengan balutan chemistry Blake dan keluarganya, membuat film ini mampu berbicara banyak di ranah horor, khususnya ‘body horror’ yang tampaknya mulai bangkit lagi akhir-akhir ini.
Score: 8.0/10