Perjalanan Panjang nan Mematikan yang Bisa Membuat Perubahan
“You walk as long as you can. But sometimes the body won’t listen. For some, your heart will stop. For others, your brain. And the blood will flow… suddenly. There’s one winner and no finish line.” – The Major (The Long Walk, 2025)
XXI kembali merilis film terbarunya yang mungkin sudah banyak dinanti oleh pecinta karya Stephen King. Kenapa demikian? Karena film dengan judul The Long Walk ini merupakan alih wahana dari novel dengan judul yang sama dan dirilis pada tahun 1979, hanya saja Stephen King menggunakan nama samaran Richard Bachman saat menulis novel ini.
Disutradarai Francis Lawrence (terkenal karena menyutradarai waralaba The Hunger Games), The Long Walk merupakan film bertema survival dengan nuansa thriller yang kental berlatar distopia di Amerika Serikat.

Sinopsis
Di era distopia, Amerika Serikat diperintah oleh rezim otoriter dan mempunyai tradisi perlombaan jalan kaki tahunan yang diikuti sekelompok pemuda. Lomba ini mempunyai aturan sederhana, para peserta wajib mempertahankan kecepatan setidaknya tiga mil per jam atau kalau gagal dan menyerah, akan ditembak di tempat dengan tiga kali peringatan. Kontes ini akan berakhir bila hanya satu pejalan kaki yang tersisa hidup. Siapa yang berhasil memenangkannya?
Premis sederhana dengan banyak makna di dalamnya
Dengan premisnya yang sederhana, The Long Walk malah mengingatkan kita pada The Hunger Games, dengan premis yang kurang lebih sama, namun dengan latar dan gaya penceritaan yang berbeda. Bila The Hunger Games sarat dengan fantasi, retro futuristik yang dibungkus aksi dan romansa remaja, The Long Walk tampil apa adanya, dengan sebuah kontes jalan kaki yang mungkin terdengar membosankan bagi beberapa orang, tapi maknanya sangat dalam.

Apa yang dilontarkan para pesertanya amat relate dengan kehidupan kita sehari-hari. Kesulitan ekonomi, rezim penguasa yang menindas rakyat kecil, dan masalah pribadi dari beberapa karakter utamanya, terutama Ray (Cooper Hoffman) dan McVries (David Jonsson). Kedua karakter ini langsung membentuk ikatan yang kuat saat pertama kali bertemu sebelum lomba dimulai, dan mempengaruhi peserta lainnya untuk semangat mengikuti lomba.
Secara perlahan, film ini menunjukkan eskalasinya saat satu per satu peserta harus ditembak mati karena tidak mampu melanjutkan kontes. Dan hal ini mulai memicu ketegangan satu sama lain, dan bahkan para peserta mulai menunjukkan penurunan stamina akibat kelelahan yang amat sangat. Semua hal tersebut berimplikasi menjelang konklusi dan endingnya sangat mengejutkan kita yang menonton.
Kesimpulan
Sebagai sebuah film bertema survival, The Long Walk tampil minimalis dengan isu yang relate dengan keadaan kita sekarang ini. Walaupun latarnya berbeda, namun kedalaman interaksi antar peserta membuat mereka kuat dalam melawan tirani yang berkuasa.

Sebuah hal yang kita alami saat ini. Isu sosial masyarakat yang mengemuka, masalah pribadi yang terpendam, dan kesewenangan pihak penguasa, semua mencapai puncaknya di akhir film, dan bisa dikatakan The Long Walk menjadi salah satu karya terbaik Stephen King selama ini (selain The Shining dan Misery tentunya) dan film ini layak untuk ditonton agar kita juga bisa merasakan perjuangan yang mematikan dari para peserta ini.
Director: Francis Lawrence
Cast: Cooper Hoffman, David Jonsson, Garrett Wareing, Tut Nyuot, Charlie Plummer, Ben Wang, Roman Griffin Davis, Jordan Gonzalez, Josh Hamilton, Judy Greer, dan Mark Hamill.
Duration: 108 minutes
Score: 8.0/10