Review Sentimental Value (2025)

Rekonsiliasi Hubungan Ayah dan Anak yang Terangkai Lewat Kupasan Memori Masa Lalu

“I can’t work with him. We can’t really talk. My father is a…very difficult person,” – Nora (Sentimental Value, 2025)

Jakarta World Cinema (JWC) 2025 resmi dibuka, dan sebagai film pembuka, festival film terbesar di Indonesia ini menghadirkan Sentimental Value yang disutradarai Joachim Trier. Film ini melakukan world premiere-nya di Festival Film Cannes 2025 di mana film ini menerima banyak pujian dan berhasil meraih Grand Prix. Selain itu Sentimental Value juga terpilih sebagai perwakilan Norwegia untuk kategori Film Internasional Terbaik di Academy Awards ke-98.

Sinopsis

Dua bersaudara, Nora (Renate Reinsve) dan Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas), bertemu kembali dengan ayah mereka yang telah lama menghilang, Gustav (Stellan Skarsgard). Gustav yang juga merupakan seorang sutradara ternama, menawarkan peran film kepada anaknya, Nora yang selama ini melakoni pekerjaannya sebagai pemain teater.  

© Neon

Film ini memang diharapkan Gustav untuk comeback-nya setelah lama dirinya absen. Namun, setelah Nora menolak peran tersebut, membuat Gustav terpaksa mencari pemain baru. Gustav kemudian bertemu seorang aktris muda Hollywood yang sedang bersinar, Rachel Kemp (Elle Fanning).

Tiba-tiba, kedua saudari ini harus menghadapi hubungan rumit mereka dengan ayahnya, dan menghadapi dinamika tersendiri saat Rachel muncul di tengah dinamika keluarga mereka yang kompleks. Apa yang lantas dihadapi Nora dan Agnes dalam menghadapi hal tersebut?

Romantisme lintas generasi membungkus relasi keluarga yang naik turun

Salah satu hal konstan yang hadir dalam film-film Joachim Trier adalah kemampuannya untuk menampilkan sisi emosional para pemainnya. Trier lantas menggali lebih dalam kehidupan karakter tersebut dengan para pemainnya untuk mencari benang merah yang bisa ia maksimalkan saat mereka ada di depan kamera.

Para pemain ini tak sekedar memainkan peran yang mereka dapatkan, namun juga berusaha menjalani peran karakternya di dalam diri mereka. Senada dengan film Trier sebelumnya, The Worst Person in the World (2022) yang mengisahkan seorang perempuan yang menjalani masa transisi yang rumit, dan bagaimana perjalanan lintas generasi membuat kehidupan karakternya makin sulit.

Di Sentimental Value, Trier terlihat mengalihkan cara pandangnya dari cinta romantis ke cinta kekeluargaan, yang kadang berjalan harmonis, tapi juga terkadang diwarnai oleh kebencian dan amarah. Hubungan ayah dan anak perempuannya, terasa sangat menyentuh dan amat dalam, penuh suasana melankolis, namun juga dibungkus oleh humor yang terasa menyentak dan tiba-tiba hadir tanpa kita sadari.

Menariknya, penonton akan diajak masuk ke dunia kontemporer yang akan memperdalam pemahaman kita tentang sejarah dan ingatan para karakter utamanya. Dengan visualisasi yang sangat artistik, kita bisa melihat keberadaan rumah keluarga Gustav yang ‘sangat hidup’ dengan warna merahnya yang mencolok di tengah rimbunnya taman, dan menghadap ke pemandangan kota yang luas.

Namun, rumah itu juga merupakan tempat di mana kesedihan, kepedihan dari dialami Nora tertanam di dinding tembok rumah, terlebih saat Nora beberapa kali mencoba menguping di depan jeruji pemanas di kamar atas, dan mendengar semua percakapan yang ada di ruang bawah. Sebuah hal yang ia dengar lewat jeruji itu, membuatnya tak begitu dekat dengan ayahnya, apalagi setelah sang ayah meninggalkan mereka selama 15 tahun setelah menceraikan ibu mereka.

© Neon

Dinamika keluarga yang begitu cepat, digambarkan lewat kilasan adegan kelam di sepanjang plot utama membuat kita menyadari kompleksitas Gustav bersama kedua anak perempuannya, terutama Nora.

Kesimpulan

Secara visual, Sentimental Value begitu memukau, dengan pembingkaian yang terkomposisi dengan baik, menggemakan rasa rindu dan beban masa lalu dalam plot ceritanya. Arahan Trier yang halus dan pilihan musik yang terasa pas dan solid, memungkinkan setiap hantaran emosi tersampaikan sepenuhnya.

Sentimental Value sangat jujur dalam bernarasi. Film ini tidak memaksakan rekonsiliasi, tetapi dengan lembut menunjukkan bahwa pemahaman saja dapat menebus rasa trauma. Narasinya sangat menyentuh, emosional, dan penuh cinta yang tercipta dari perjalanan lintas generasi, dan semua itu membuat film karya Trier ini sangat perseptif bagi mereka yang telah menonton. 

Director: Joachim Trier

Cast: Renate Reinsve, Stellan Skarsgård, Inga Ibsdotter Lilleaas, Elle Fanning, Cory Michael Smith, Catherine Cohen, Pia Borgli, Jonas Jacobsen, Anders Danielsen Lie

Duration: 133 minutes

Score: 9.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top