Review Motor City (2026)

Reduksi Dialog Lewat Sinema Kontemporer yang Stylish dan Penuh Aksi Brutal

‎”I still do.” — John Miller (Motor City, 2026)

Bioskop Indonesia baru saja merilis sebuah film aksi kriminal yang bisa dibilang amat berani, bukan karena visualnya yang unik tapi konsepnya yang terbilang ekstrem di antara film sejenis. Bagaimana tidak, film yang hadir dengan latar 70an yang stylish, elegan, penuh aksi brutal, tapi ini yang membuatnya beda dengan film sejenis: minim dialog!  ‎‎

Film yang disutradarai oleh Potsy Ponciroli yang terkenal sejak menggarap Old Henry pada tahun 2021,  Motor City bagaikan masterpiece film aksi yang sangat eksperimental dan belum pernah kita lihat sebelumnya. Memang hal ini akan menjadi pisau bermata dua yang saling bersinggungan. Di satu sisi kita akan melihat sebuah karya luar biasa, namun di sisi lain, bagi sebagian penonton film ini akan terasa melelahkan karena plotnya yang sederhana dan terlihat tak efektif. Apakah itu benar?

Sinopsis

Berlatar belakang di Detroit pada tahun 1977, John Miller (Alan Ritchson), seorang veteran perang yang pulang ke rumah, jatuh cinta dengan Sophia (Shailene Woodley) yang ia temui secara tak sengaja. Saat John melamar Sophia, ia dijebak oleh Reynolds (Ben Foster), mantan kekasih Sophia yang juga merupakan seorang bos mafia. Reynolds menaruh narkoba di mobil John agar bisa ditangkap polisi. ‎‎

John akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 24 tahun. Tapi tak menunggu lama, John menerima kabar tentang Sophia dari temannya, ia lantas melarikan diri dari penjara dan mulai memburu satu per satu orang yang telah merenggut Sophia darinya.

Narasi Minim Dialog yang Unggul di Sisi Teknis

Motor City pada dasarnya merupakan film yang amat menarik, yang dipenuhi aksi kekerasan dan brutal dengan tensi tinggi. Namun dengan dialog yang ‘dihilangkan’ (hanya ada 5 baris dialog di film), memaksa sutradara memaksimalkan elemen lain seperti gestur tubuh, ekspresi wajah, sinematografi ala Zack Snyder dengan slow-mo nya, dan variasi soundtrack yang menarik. Dengan memaksimalkan sejumlah elemen tersebut membuat Motor City terasa fresh bila kita bandingkan dengan film sejenis yang konvensional yang terlalu banyak dialog antar pemain.‎

Penghilangan dialog membuat Potsy memaksimalkan elemen teknis lainnya seperti estetika visual yang mencerminkan era 70an yang gemerlap di malam hari tapi sebaliknya, Detroit bisa digambarkan sebagai kota kumuh, dengan deretan bengkel tua, muscle car ala 70an yang ikonik dan juga wardrobe yang akan membuat kita tersenyum melihatnya. Bayangkan melihat Alan Ritchson yang tinggi besar dengan rambut pirangnya sedang memakai kemeja necis warna warni mencolok.

Soundtrack-nya Diisi Banyak Penyanyi Terkenal

Satu hal yang membuat Motor City hidup ada di soundtrack nya yang begitu berwarna. Sejumlah musisi besar mengisi banyak adegan di sana. Contohnya Cat People (Putting Out Fire) dari David Bowie, Lovely Day dari Bill Withers, The Chain dari Fleetwood Mac, Driver’s Seat dari Sniff ‘n’ The Tears, I Feel Love dari Donna Summer, Mix Match Man dari Sho Nuff, Get Off dari Foxy. Itu baru sebagian dari belasan lagu yang menjadi pengganti “suara” dari emosi para karakter yang dihilangkan.

Kesimpulan

Motor City bukanlah film aksi thriller biasa. Film ini bagaikan karya eksperimental yang diciptakan dengan hati. Membuat film aksi bisu dengan latar 70an yang memasukkan soundtrack sebagai pengganti emosi dan dialog memang luar biasa. Akting Alan Ritchson yang terus bersinar tiap tahunnya membuktikan kalau dia memang pantas sebagai penerus Arnold Schwarzenegger atau Sylvester Stallone. Lewat shot close up, ia mampu memperlihatkan amarah dan emosi, sekaligus luka batin yang begitu dalam tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Director: Potsy Ponciroli

‎Cast: Alan Ritchson, Shailene Woodley, Ben Foster, Pablo Schreiber, Lionel Boyce, Ben McKenzie‎

Duration: 103 minutes‎

Score: 8.0/10‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top