Review Hope (2026)

Ketika Sebuah Hal Misterius yang Menakutkan Muncul di Sebuah Desa

Jika kita kehilangan harapan di tempat ini, maka tidak ada lagi tempat bagi kita untuk pulang. (Hope, 2026)

Setelah satu dekade vakum sejak menggarap The Wailing (2016), sutradara visioner Na Hong-jin akhirnya kembali lewat film aksi scifi terbarunya, Hope (2026). Dengan menghabiskan anggaran fantastis hingga 46 juta dolar AS atau sekitar Rp715 milar, Hope menjadi salah satu film termahal dalam sejarah sinema Korea Selatan.

Film ini sempat mencuri perhatian global lewat standing ovation selama 7 menit di Cannes Film Festival. Dengan sejumlah nama besar seperti Hwang Jung-min, Zo In-sung, Jung Ho-yeon, serta duo Hollywood Michael Fassbender dan Alicia Vikander, Hope diharapkan dapat menjadi karya terbaik berikutnya dari Na Hong-jin.

Sinopsis

Berlatar di Hope Harbor, sebuah desa nelayan yang lokasinya dekat dengan Zona Demiliterisasi Korea (DMZ) mendadak dihebohkan oleh bangkai seekor sapi yang badannya tercabik-cabik dengan luka menganga besar. Bum-seok (Hwang Jung-min), kepala polisi setempat, bersama petugas Sung-ae dan warga desa lainnya mulai menyelidiki hal tersebut dan menemukan kalau desa mereka sedang diintai oleh monster misterius yang mematikan.

Teror kian memuncak saat makhluk tersebut mulai menyerang dan menghabisi seisi desa. Bum-seok bersama warga yang tersisa, termasuk Go Sung-ki (Zo In-sung), harus berjuang mati-matian bertahan hidup dari ancaman alien yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Pacing Slowburn Membuat Narasi Kehilangan Momen

Dengan durasi mencapai 160 menit, film ini relatif lambat sejak menit pertama. 20-30 menit pertama banyak dihabiskan untuk mencari tahu penyebab sapi dan warga desa mati secara misterius, dan hal ini akan membuat beberapa penonton bosan dan bertanya-tanya kapan misterinya akan terbuka. Bum-seok menjadi fokus utama di adegan ini.

Dia seperti menggiring penonton untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Desa Hope. Hal ini di satu sisi membuat eksposisi karakter terbangun dengan baik (walaupun durasinya terbilang lambat). Namun, setelah momen ini, adegan perlahan meningkat eskalasinya.

Tata Artistik dan Sinematografinya Sangat Impresif dan Mengagumkan

Na Hong-jin membuktikan kelasnya saat meramu ketegangan. Setelah pacing lambat tersaji di awal film, paruh kedua film mulai memperlihatkan tata artistik yang chaotic. Suasana desa  diperlihatkan dengan skala kekacauan yang luar biasa megah dan terlihat nyata. Atmosfer desa yang porak-poranda berhasil dibangun dengan detail yang sangat meyakinkan, bahkan bisa dikatakan terbaik di tahun ini. Saat menonton di format IMAX saat screening minggu lalu, pengalaman sinematik amat luar biasa imersif, dan  mengagumkan.

‎Aksi Mengagumkan tapi Narasi Kedodoran di Paruh Ketiga

Setelah paruh kedua dipenuhi aksi bombastis yang cenderung spektakuler, ada yang sedikit terlupakan di film ini, misteri yang seharusnya dipecahkan, sedikit ditinggalkan. Kecenderungan film menjadi sekuel mungkin menjadi alasan utama film ini belum mengeluarkan semua misteri yang ada.

Ada beberapa hal yang nampak masih  disimpan rapat-rapat, terutama soal alien yang menyerang desa, siapa, dan kenapa mereka datang ke sana, belum terjawab hingga akhir film. Fokus sutradara yang condong pada aspek aksi spektakuler, membuat kedalaman narasi sedikit terpinggirkan.

Kesimpulan

Secara kualitas, Hope memang di atas rata-rata film Korea pada umumnya. Adegan aksi, akting, sinematografi, dan sisi artistik yang disuguhkan memang luar biasa mengagumkan. Sayangnya kedalaman narasi, eksposisi karakter, tidak sebaik karya Nong-jin sebelumnya.  Tapi sekali lagi, film ini memang menggantung di akhir dan terlihat akan dibuatkan sekuel, karena banyak sekali misteri yang belum terungkap.

Director: Na Hong-jin ‎

Cast: Hwang Jung-min, Zo In-sung, Jung Ho-yeon, Michael Fassbender, Alicia Vikander, Taylor Russell, dan Cameron Britton ‎

Duration: 156 minutes‎

Score: 8.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top