Mengungkap Misteri Hilangnya Jenazah dari Kamar Mayat
“Saya punya dugaan kalau anda membunuh istri anda. Saya tidak merasakan rasa kehilangan sedikit pun dari cara anda bercerita,” – Arya Pradana (Dendam Malam Kelam, 2025)
Salah satu film masterpiece misteri thriller dari Oriol Paulo yang di-remake oleh Falcon Pictures akhirnya siap tayang di Indonesia sesaat lagi. Hadir dengan judul Dendam Malam Kelam, film yang mempunyai judul asli The Body atau El Cuerpo dan dirilis pada 2012 silam, kini disutradarai Danial Rifki (sebelumnya menyutradarai Rumah Masa Depan, Winter Elegy).
Dalam launching trailer yang sempat diadakan minggu lalu, terlihat jelas kalau Danial tidak ingin merubah narasi dan tetap mempertahankan esensi film aslinya, tentunya dengan sejumlah penyesuaian.
Namun, saat penayangan terbatas untuk media kemarin, Dendam Malam Kelam ternyata tampil baik dari beberapa remake film yang telah dibuat di beberapa negara.

Sinopsis
Jefri (Arya Saloka) dan Sofia (Marissa Anita) merupakan sepasang suami istri yang terkenal sukses di bidang farmasi. Namun, semua itu berubah ketika Jefri ketahuan selingkuh dengan Sarah (Davina Karamoy) yang merupakan muridnya saat ia sedang mengajar di kampus.
Masalah satu per satu muncul, ketika Sofia ditemukan tewas di rumah, dan saat diselidiki polisi, tubuhnya menghilang dari kamar mayat. Penyidik Arya Pradana (Bront Palarae) yang menyelidiki kasus pembunuhan misterius ini, berusaha mengungkap kasus ini dan mencurigai Jefri yang mempunyai motif kuat untuk membunuh istrinya. Benarkah mayat Sofia hidup lagi untuk menuntut balas kepada pembunuhnya?
Narasi tidak banyak berubah, dan hadir dengan sejumlah penyesuaian

Melihat Dendam Malam Kelam terasa tidak ada perubahan signifikan dengan film aslinya. Walaupun patut diakui kalau film aslinya dieksekusi lebih baik, dengan beberapa detil adegan yang dihilangkan, namun hal tersebut sama sekali tidak mengganggu narasi film secara keseluruhan.
Semua masih berjalan di koridornya, dengan tetap mempertahankan rasa ingin tahu penonton terhadap pelaku sesungguhnya. Plot utamanya berjalan cukup solid dengan sejumlah kilas balik untuk menguatkan eksposisi karakter utamanya yang tertekan di sepanjang film.
Elemen teknisnya ada sejumlah kekurangan

Sejumlah shot menarik dihadirkan Danial di berbagai tempat, yang membuat film ini tidak monoton di satu tempat saja. Walaupun jujur saja, setting tempat forensik, terlihat ‘murahan’ karena dibuat dari nol dan tidak menggunakan tempat asli, selebihnya banyak spot ikonik di sekitaran kota Bandung yang digunakan sebagai lokasi syuting.
Nuansa ‘noir’ yang kental di film aslinya tak lupa dihadirkan, dan ‘tone’ yang digunakan juga tak segelap film aslinya, film ini juga memberi sedikit sentuhan horor di beberapa adegan. Nampak jelas penyesuaian ini harus dilakukan untuk penonton kita yang tidak terbiasa dengan genre misteri thriller yang banyak menggunakan layer berlapis-lapis untuk narasinya.
Tak hanya setting dan tone-nya yang menyesuaikan, skoringnya pun tampak over powering di beberapa adegan, yang membuat beberapa dialog tak terdengar, juga sejumlah pelafalan yang tidak terlihat sempurna. Namun, ini minor saja, dan tidak mengubah kualitas film ini secara keseluruhan.

Kesimpulan
Remake terbaru ini mungkin salah satu yang terbaik di genrenya, dan itu berhasil dilakukan Danial Rifki yang mayoritas filmnya bergenre drama romansa dan juga komedi. Membuat karya di luar zona nyaman merupakan tantangan, dan film ini berhasil membuktikannya.
Walaupun ada sejumlah kekurangan di sisi teknis, kita bisa melihat akting Arya Saloka dan Bront Palarae yang luar biasa dalam mengungkap kasus hilangnya mayat ini hingga di akhir film dengan cara yang tidak kita bayangkan sebelumnya.
Director: Danial Rifki
Cast: Arya Saloka, Bront Palarae, Marissa Anita, Davina Karamoy, Putri Ayudya,
Duration: 103 Minutes
Score: 7.5/10