Rumitnya Cinta Segitiga di Saat Menjalankan Misi Melawan Penjajah
“Suamiku itu manusia istimewa mau tiba-tiba ada ledakan di sini dia bisa jadi satu-satunya yang selamat. Dia tidak butuh doaku,” – Fatimah (Perang Kota, 2025)
Mouly Surya kembali lagi merilis film terbarunya di bioskop Indonesia. Sutradara ternama yang filmnya banyak berkiprah di festival film internasional dengan film-film seperti Fiksi (2008) dan Marlina: Pembunuhan dalam Empat Babak (2017), kini kembali lagi lewat Perang Kota. Film yang ditulis dan disutradarai Mouly Surya ini dialihwahanakan dari novel klasik Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis yang pertama kali dirilis pada 1952.
Perang Kota sempat menjadi film penutup Festival Film Internasional Rotterdam ke-54 pada 8 Februari 2025, dan akan tayang serentak di Indonesia pada 30 April 2025.

Sinopsis
Berlatar tahun 1946, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dari pendudukan Belanda dan Jepang, Isa (Chicco Jericho), pemain biola berusia 35 tahun, yang juga mantan pejuang, membuatnya dikenal sebagai nasionalis yang disegani. Namun, trauma masa lalunya membuat ia tak bisa membahagiakan istrinya, Fatimah (Ariel Tatum) secara lahir batin, dan mereka tinggal bersama anak angkat mereka, Salim.
Ia mencuri buku untuk menghidupi keluarganya saat keadaan kota kacau balau. Di saat itulah Isa ikut berjuang lagi bersama teman-temannya, dan murid biolanya, Hazil (Jerome Kurnia). Ternyata, Hazil diam-diam berselingkuh dengan Fatimah, dan Isa memilih untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Bersama Hazil, Isa menyusun rencana untuk meledakkan sebuah kafe tempat berkumpulnya para pejabat Nica Inggris dan Belanda. Sasaran utama mereka adalah Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang rutin mendatangi kafe tersebut di waktu senggangnya. Berhasilkah misi itu, dan bagaimana hubungan Isa dengan Fatimah nantinya?

Narasinya cenderung stagnan hingga akhir
Mengingat Perang Kota dialihwahanakan dari novel klasik karya Mochtar Lubis, isu utama yang menjadi daya tarik novel tersebut, tetap diangkat ke film, sisanya ada beberapa perubahan yang terbilang minor menjelang konklusi. Pada dasarnya, konteks film ini sama sekali tidak berubah secara signifikan, dan tidak akan mengecewakan mereka yang telah membaca novelnya.
Namun, secara visual, film ini tidak memiliki konflik yang berarti, yang bisa menjadi golden scene menarik bagi penonton. Semuanya terasa mengalir begitu saja, tanpa ada adegan memorable yang bisa diceritakan. Amat sayang sebenarnya kalau kisah cinta segitiga berlatar perjuangan kemerdekaan ini tak diberi sesuatu yang menghentak lewat sebuah adegan yang nantinya akan selalu diingat penonton.
Desain artistiknya yang luar biasa
Dengan latar perang setelah kemerdekaan, tentu saja kita mengharapkan detil artistik yang sesuai pada masanya, dan Perang Kota berhasil mewujudkan semua itu lewat sebagian sudut kota tua yang disulap menjadi kota yang penuh lalu orang dengan wardrobe era tersebut, lengkap dengan aktivitasnya, terutama bar tempat Isa dan Hazil melakukan misinya. Tak hanya kotanya, tentara Nica dihadirkan lewat tentara Gurkha, yang terlihat dari paras India-nya yang kental, dan juga sosok tentara Belanda yang diibaratkan hanya berganti kostum saja ke Nica.

Chemistry yang menyatu di antara pemainnya
Menarik melihat akting ketiga pemain ini, terutama Chicco dan Ariel, yang bisa merepresentasikan isu utama dalam novel aslinya. Disfungsi ereksi merupakan hal yang tabu di masa itu, dan sulit untuk mengutarakan kepada pasangan. Inilah yang dialami sepasang suami istri ini. Di saat itulah Hazil masuk dan mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi Isa. Terlebih setelah Isa tahu kalau istrinya selingkuh, dia mendiamkan saja, sampai amarahnya meledak di saat misi dilangsungkan, dan membuat persahabatan mereka berubah.
Walaupun konfliknya terlihat nyata, namun film ini tidak mempunyai memorable scene yang memikat bagi penonton, dan apa yang disuguhkan Perang Kota terasa datar hingga akhir.
Kesimpulan
Sebagai sebuah alih wahana novel klasik terpopuler di masanya, Perang Kota memberikan atmosfer berbeda bagi penikmat film Indonesia yang selama ini terus dicekoki genre drama, romance atau horor.
Kita bisa melihat bagaimana rumitnya film berlatar perang kemerdekaan dengan narasi cinta segitiga yang tabu di masa tersebut. Walaupun third act-nya sedikit berbeda dari novelnya, tidak membuat film ini kehilangan nyawanya, hanya sayang, Perang Kota tidak memiliki golden scene yang memikat dan cenderung stagnan hingga selesai.
Director: Mouly Surya
Cast: Chicco Jericho, Ariel Tatum, Jerome Kurnia, Rukman Rosadi, Imelda Therrine
Duration: 119 Minutes
Score: 7.0/10