The Unbreakable Boy

Review The Unbreakable Boy (2025)

Kisah Nyata Seorang Anak Autis Bersama Keluarga dan Lingkungan Sekolahnya

“He does better when he’s around kids of all kinds and he learns from them and i think they learn from him too,” – Scott (The Unbreakable Boy, 2025)

Lama kita tak melihat film yang menggugah hati dan perasaan kita terhadap sesama, kembali layar lebar Indonesia akan dihadirkan sebuah film yang akan membuat kita terharu terhadap perjuangan sebuah keluarga dalam menghadapi kesulitan yang bertubi-tubi.

Film yang hadir dengan judul The Unbreakable Boy ini merupakan sebuah biopik yang disutradarai dan ditulis oleh Jon Gunn yang dialihwahanakan dari buku The Unbreakable Boy: A Father’s Fear, a Son’s Courage, and a Story of Unconditional Love, karya Scott Michael LeRette dan Susy Flory.

Jon Gunn sendiri bukanlah orang baru di dunia perfilman, dia sebelumnya menjadi produser eksekutif Jesus Revolution (2023) yang secara mengejutkan laris manis di Amerika dan juga Indonesia, dan menyutradarai Ordinary Angels (2024) yang sukses di Amerika dan meraih reaksi positif saat diputar di Indonesia. Dengan sejumlah resume positif di atas, bagaimana dengan The Unbreakable Boy? Yuk kita ulas di bawah ini.

The Unbreakable Boy
© Lionsgate

Sinopsis

Austin (Jacob Laval), merupakan seorang anak penderita autis berusia 13 tahun yang ramah terhadap semua orang, dan tidak pernah bisa berhenti bicara di mana saja ia berada. Ia dilahirkan dari ayahnya, Scott (Zachary Levy) dan ibunya, Teresa (Meghann Fahy), yang menderita Osteogenesis Imperfecta (OI), yakni kelainan secara genetik yang sudah muncul sejak ia lahir. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit tulang rapuh, dan inilah yang diwariskan kepada Austin dari saat pertama kali ia lahir.

Berpuluh-puluh kali Auz Man, panggilan akrab Austin sejak kecil, menderita patah tulang di banyak tempat, dan hal ini menyebabkan ayah dan ibunya sangat kesusahan menjaga anak pertamanya ini. Namun, mereka semua bisa melewati masa sulit itu dengan cara yang mengesankan.

Terlebih lagi saat anak keduanya, Tyler, dan ternyata normal, yang ternyata lebih pendiam, dan lebih bijak dalam memahami kesulitan yang dialami kakaknya, secara tidak langsung membantu ayah dan ibunya untuk fokus dalam mengurus Austin. Apakah Austin akan baik-baik saja ke depannya?

Narasinya disajikan menarik dengan rentang masa yang panjang

Kisah Austin di film ini dibawakan dengan narator Austin sendiri yang dimulai saat ia berumur 13 tahun, di mana ada kejadian fatal saat malam tahun baru yang menimpa dirinya, Tyler dan ayahnya. Dan dari sinilah kisah Austin memulai kisahnya dari ia lahir. Sebuah treatment menarik dari Jon yang tidak menggunakan alur linear dalam filmnya kali ini.

Dengan narator Austin, pembawaan film ini menjadi lebih riang dan kekanakan, membuat film ini sangat cocok ditonton oleh semua umur. Namun, kejutannya tak sampai di sini, seiring berjalannya waktu, film ini dipenuhi sejumlah momen yang menyayat hati, di mana sejumlah adegan akan membuat kita tertawa, dan juga membuat kita menangis terharu.

Terlebih saat kita tahu kalau ayahnya ternyata memiliki ‘Imaginary Friend’ sejak lama, dan tampaknya menular ke Austin yang memiliki fantasinya sendiri dalam melihat sesuatu. Alurnya yang dinamis di rentang waktu Austin yang panjang, akan membuat kita mengikuti bagaimana keluarga ini menjalani kehidupannya yang naik turun hingga film berakhir.  

The Unbreakable Boy
© Lionsgate

Elemen teknisnya cukup baik dalam membawakan cerita

Salah satu hal yang menonjol dari film ini adalah transisi adegannya yang baik, membuat kita dapat mengikuti kisah Austin tanpa kesulitan yang berarti. Sinematografinya yang cukup baik, dengan blocking pemain yang rapi saat mereka semua ada di rumah, membuat pergerakan kamera begitu halus dalam mengatur adegan demi adegan yang dilaluinya.

Dengan sentuhan sedikit animasi dan CGI di beberapa adegan, cukup memberi gambaran tentang fantasi Austin dan juga ayahnya yang mulai bisa membaca anaknya. Bagian ini memang menarik dan jarang dijumpai di banyak film bertema autis.

The Unbreakable Boy
© Lionsgate

Kesimpulan

The Unbreakable Boy memberi kita pembelajaran untuk bisa menerima anak kita apa adanya. Tak ada anak yang sempurna, bahkan dengan kekurangan yang dimilikinya, Austin mempunyai kekuatan empati yang besar terhadap orang lain yang bahkan hal tersebut tidak disadari adiknya yang normal sekalipun. Tak hanya dari Austin, kita juga bisa belajar banyak tentang kasih sayang orang tua kepada anaknya, pengampunan karena rasa cinta yang tulus, tanpa melihat kekurangan pasangan kita.

Semua hal di atas dibalut dengan pesan-pesan iman yang membangkitkan semangat dan menyentuh jiwa. Apa yang dialami keluarga itu bisa memberi gambaran untuk bisa belajar dari mereka, karena beban mereka sudah terasa berat sejak Austin lahir, tapi itu semua sudah dilalui oleh pasangan Scott dan Theresa dengan penuh riak yang berliku.

Di bagian epilognya, kita bisa melihat bagaimana mereka semua telah melewati fase yang menyulitkan sebagai orang tua dan bahagia melihat kedua anaknya menjadi manusia yang berhasil.

Director: Jon Gunn

Cast: Jacob Laval, Zachary Levi, Meghann Fahy, Amy Acker, Patricia Heaton, Peter Facinelli, Drew Powell, Gavin Warren, Kurt Yue, Sarah Dean, Todd Terry

Duration: 109 Minutes

Score: 7.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top