Review Ayah, Aku Mau Cerita (2026)

Ketika Batas Benar dan Salah Menjadi Kabur dalam Sebuah Tindakan Kejahatan

“Selama ayah masih hidup, gak ada satu orang pun yang boleh mengusik keluarga ayah,” – Andi Budiman (Ayah, Aku Mau Cerita, 2026)

Setelah sebelumnya menghadirkan Dilan ITB 1997 dan Warkop DKI Viralin Doong, kini Falcon Pictures merilis film terbarunya yang diberi judul Ayah, Aku Mau Cerita, sebuah fillm bergenre drama thriller yang merupakan adaptasi dari Drishyam (2013), film India berbahasa Malayalam karya Jeethu Joseph dan masuk jajaran film terlaris saat itu dengan pemasukan mencapai 50 crore atau 93 miliar rupiah.‎‎Kini film adaptasi Indonesianya disutradarai dan ditulis oleh Danial Rifki, yang sebelumnya menggarap Dendam Malam Kelam (2025) dan Invisible Guest (2026). Dalam Ayah, Aku Mau Cerita,  Danial tetap mempertahankan narasi aslinya yang intens saat sang Ayah berusaha melindungi keluarganya dari masalah yang datang bertubi-tubi.‎‎

Sinopsis

Andi Budiman (Vino G. Bastian), merupakan seorang ayah yang hidup sederhana bersama istri dan anak-anaknya di sebuah kota kecil. Bersama istrinya (Niken Anjani), kehidupan mereka yang damai seketika hancur dan berubah menjadi penuh tekanan setelah putri remajanya (Ziva Magnolya) menjadi korban pelecehan oleh seorang pemuda yang ternyata merupakan anak dari Komisaris Iriana (Marsha Timothy) yang merupakan kapolres di kota itu. Imbasnya, insiden fatal yang tak disengaja terjadi akibat peristiwa tersebut, Andi harus memutar otak dan melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya dari jeratan hukum. Ia harus berhadapan langsung dengan Komisaris Iriana yang cerdas dan berusaha mengungkap misteri anaknya yang hilang.‎‎

Narasi yang Masih Mempertahankan Versi Aslinya

Secara naratif Ayah, Aku Mau Cerita masih mempertahankan struktur plot utama dari versi aslinya yang membuat film Drishyam diakui sebagai film dengan plot twist terbaik saat itu. Kecerdasan sang ayah dalam menggunakan berbagai intrik psikologis, dengan alibi yang dirancang cermat, juga permainan gestur dan berlatih akting, untuk mengecoh polisi,  tetap menjadi sajian utama. Meski begitu, versi adaptasi Indonesia ini melakukan beberapa penyesuaian latar belakang karakter agar terasa lebih dekat dan relevan dengan penonton Indonesia. ‎‎

Vino G. Bastian dan Marsha Timothy Tampil Amat Baik

‎‎Bila selama ini kita melihat pasutri ini selalu bersama di sebuah film, kini keduanya ada di pihak yang berlawanan. Menarik melihat keduanya saling beradu akting di pihak yang berseberangan dan saling mengadu kecerdasan secara verbal. Tak hanya keduanya yang pantas diberi kredit, Rizky Hanggono yang berperan sebagai Gatot juga tampil baik sebagai karakter polisi korup yang menyebalkan. Begitu pula Gunawan yang tetap tampil prima walaupun sudah jarang terlihat di layar lebar.‎‎

Kesimpulan ‎‎

Yang membuat film ini sangat baik adalah kemampuan narasinya dalam menyusun alibi yang sangat rapi. Sama halnya dengan versi aslinya, film ini memanfaatkan ingatan visual dan manipulasi psikologis yang terstruktur tanpa bisa dipatahkan, memang sungguh cerdas. Pendekatan semacam ini menghindari trik sinematik murahan dan sepenuhnya mengandalkan perilaku manusia yang realistis lewat gestur tubuh dan dialog yang sistematis. Semua ini terakumulasi lewat beberapa adegan krusial dan menjelang konklusi hingga adegan penutup film akan membuat kita terpana dan benar-benar puas melihat apa yang disuguhkan.‎‎

Director: Danial Rifki‎

Cast: Vino G. Bastian, Marsha Timothy, Ziva Magnolya, Niken Anjani, Gunawan Sudrajat, Rizky Hanggono, Sadana Agung, Whani Darmawan, Bima Azriel, Faris Fadjar Munggaran, Pritt Timothy‎

Duration: 167 menit‎

Score: 9.0/10‎‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top