Review Ip Man: Kung Fu Legend (2026)

Biopik Ip Man yang Kurang Menghibur dan Terlalu Membosankan

‎”If the world is unfair, let our fists bring justice.” — Ip Man (Ip Man: Kungfu Legends, 2026)

Lelah rasanya melihat waralaba Ip Man kembali (lagi) ke layar lebar dengan versi lainnya. Buat kalian yang mungkin belum melihat Ip Man versi Dennis To, waralabanya telah dimulai sejak 2010 lewat The Legend is Born: Ip Man, yang kemudian berlanjut lewat Ip Man: Kungfu Master (2019), dan yang terbaru, Ip Man: Kung Fu Legend (2026) akhirnya sudah bisa kita tonton di bioskop Indonesia.

Ip Man versi Dennis To menjadi pembeda signifikan dari eksplorasi kehidupan sang grandmaster Wing Chun legendaris yang kita kenal lewat versi Donny Yen. Apakah versi ini setara atau malah menjadi downgrade dari versi yang sudah ada?

Sinopsis

Berlatar di Hong Kong tahun 1950-an, narasi film berfokus pada era di mana keserakahan korporasi Barat dan gangster Triad yang korup, berupaya mengeksploitasi pekerja lokal. Setelah di film sebelumnya, kita melihat Ip Man meninggalkan karier kepolisiannya, ia lantas mencoba peruntungannya dengan membuka klub bela diri miliknya sendiri. Namun, sebuah peristiwa yang memicu perselisihan dengan pengusaha Inggris dan gangster, membuat Ip Man menjadi tempat berlindung dari para butuh di pelabuhan yang menjadi sasaran.

Saat ketegangan meningkat, kepentingan pengusaha asing mulai membeli properti dengan cara yang tidak masuk akal, salah satunya dengan berusaha menghancurkan tempat latihan bela diri lokal. Hal ini lantas memicu konspirasi pembunuhan yang menargetkan Ip Man yang dijebak atas tuduhan pembunuhan sesama master beladiri yang tak ia lakukan. Ip Man lantas berusaha keluar dari jebakan Triad dan  pengusaha asing agar namanya bersih.

Konfliknya terlalu padat dan membosankan

Ip Man: Kungfu Legend sarat akan konflik yang sebetulnya agak dipaksakan. Bagaimana tidak? Film ini memasukkan banyak hal seperti perselisihan hak buruh, perluasan dominasi asing, misteri pembunuhan, dan kilasan pelarian dari penjara ke dalam durasi yang relatif singkat. Padatnya konflik membuat narasi film tidak fokus dan penyelesaian yang terburu-buru. Tak hanya konfliknya yang dipaksakan, premis film ini sekilas mengingatkan kita pada Ip Man 2 (2010) versi Donny Yen, tentu dengan versi yang berbeda.

Dari hal di atas, membuat naskah film ini terasa repetitif dan formulaic. Dua indikasi penting ini akan membuat penonton merasa bosan dengan isu generik seperti pendudukan imperialis asing, propaganda nasionalistik yang selalu mudah ditebak ke mana ujungnya.

Komparasi yang tak setara dengan versi Donny Yen

Satu hal yang membuat versi Dennis To tak terlihat menarik adalah narasinya yang tidak bisa meresonansi emosi dari sejumlah karakter utamanya. Tak hanya masalah emosi, koreografi aksinya tak semenarik versi Donny Yen, walaupun Dennis To pernah belajar Wing Chun dari Ip Chun (anak kandung Ip Man) di film pertamanya. Memang banyak yang mengatakan kalau versi Wing Chun milik Dennis To terlihat lebih orisinal ketimbang Donny Yen yang terlihat cepat dan sinematik. Namun hal tersebut kembali lagi ke selera penonton.

Hal lain yang membuat film ini tak menarik adalah ketegangannya yang kurang intens, naskah film dibuat hanya sebatas sebagai acuan, tapi tidak bisa membangun emosi yang seharusnya hadir di sepanjang film. Dengan kata lain, film ini sangat datar hingga akhir, yang membuat penonton akan otomatis membandingkan dengan versi Donny Yen.

Kesimpulan

Ip Man: Kung Fu Legend memang tak bisa kita bandingkan dengan Ip Man versi Donny Yen. Keduanya ada di kelas yang berbeda, tentu hasilnya akan terlihat sesuai dengan biaya produksi masing-masing. Jika ingin tampilan megah, penyutradaraan dengan teknis tinggi dan action koreografi yang menghibur, versi Donny Yen adalah pilihan terbaik.

Namun, kalau kita adalah penggemar bela diri yang mencari koreografi Wing Chun yang otentik, film ini dapat memberikan perspektif berbeda, walaupun sebagai tontonan bisa dikatakan kurang menghibur, terlalu standar dengan konklusi yang mudah ditebak.

‎Director: Li Liming

‎Cast: Dennis To

‎Duration: 94 minutes

‎Score: 2.5/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top