Film Sofia bukanlah tipikal film horor jumpscares yang pasaran di dunia perfilman Indonesia.’
Sofia disutradarai Adis Kayl dan dibintangi Wulan Guritno, Carissa Perusset, Leony V.H., Nugie, Dan Kiky Narendra, Habil Nugraha, dan Ayu Diandra.
Di tengah riuhnya industri sinema domestik yang masih gemar mengeksploitasi takhayul, sekumpulan sineas mencoba mengetuk pintu bioskop dengan narasi yang berbeda. Pada Senin sore (13/7), rumah produksi Lasisi Pictures secara resmi memperkenalkan barisan pemain untuk proyek teranyar mereka, Sofia, sebuah film yang berani melabeli dirinya sebagai horor psikologis, bukan horor konvensional.
Diadakan di Cinépolis Sparks, pengumuman ini tidak sekadar menjadi ajang pamer wajah, melainkan sebuah tantangan dalam bercerita. Melalui tangan dingin sutradara Adis Kayl dan penulis skenario Benyamin, Sofia dirancang untuk membedah sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada penampakan mistis: isi kepala manusia yang didera trauma dan siklus kekerasan.
Pemain lintas zaman dengan spektrum akting yang luas
Aspek paling memikat dari film Sofia terletak pada arsitektur jajaran pemainnya yang memadukan aktor watak mapan dengan talenta muda yang sedang naik daun. Di lini depan, aktris senior Wulan Guritno hadir sebagai pilar utama cerita. Keterlibatannya menjanjikan eksplorasi emosi yang matang, sesuatu yang sangat krusial bagi sebuah film yang mengandalkan ketegangan mental alih-alih junpscares.
Wulan Guritno yang berperan sebagai Amina, membagikan tantangan fisik berat yang harus dihadapinya demi film horor psikologis ini. Ia juga sedikit membocorkan latar belakang karakternya yang sangat tunduk pada sang suami. “Dia karakter yang mengabdi pada keluarga. Kalau kebetulan aku ada latihan action. Action bukan dalam arti fighting, tapi karena kita banyak adegan-adegan brutal.”
Namun, beban naratif tidak dipikul sendirian. Wulan akan didampingi oleh Carissa Perusset, Leony V.H., dan Nugie—nama-nama dengan spektrum akting yang luas dan kerap membawa warna berbeda di tiap kemunculannya.
Carissa Perusset yang memerankan Dahlia juga menceritakan bagaimana karakternya sebagai pengasuh anak akan mengalami guncangan mental yang hebat akibat teror psikologis dalam cerita, “Karakter Dahlia ini mengalami beberapa hal yang benar-benar menjijikkan dan menakutkan, dan di luar nalar banget. Sampai ya, otak dia dan sanity (kesehatan mental) dia sudah… ya menghancurkan sanity dia lah. Emang karakter Dahlia ini ‘kena’ banget mentalnya.” Ia juga menambahkan bahwa ada persiapan khusus berupa workshop tari dan pendampingan intimacy coordinator untuk adegan tertentu, meski ia sempat merasa kesulitan karena tubuhnya yang kaku untuk menari.
Anantya Kirana yang berperan penting sebagai Sofia, mengungkapkan rasa syukurnya dapat bekerja sama dengan barisan aktor kawakan, “Aku bersyukur bisa satu proyek dengan kakak-kakak senior. Kalau ada yang belum aku pahami, aku banyak bertanya dan mereka sangat terbuka untuk berbagi pengalaman.”
Kehadiran para cast perempuan di atas, ditambah dengan kehadiran Kiki Narendra, yang dikenal mampu menghidupkan karakter-karakter abu-abu, kian mempertegas bahwa film ini berinvestasi besar pada kedalaman akting.
Di sisi lain, kehadiran aktor-aktor muda seperti Anantya Kirana, Habil Nugraha, dan Ayu Diandra memberikan kontras yang menarik. Bagi Anantya khususnya, peran dalam genre psikologis yang sarat akan beban emosional akan menjadi ujian sekaligus pembuktian atas kapasitasnya sebagai aktor masa depan.
Target angka penonton yang ambisius
Produser film Sofia, Ade Abu, tidak menutupi ambisi komersial proyek ini. Target tiga juta penonton telah dipatok. Angka yang masif, namun bukan hal yang mustahil di pasar Indonesia saat ini, asalkan formula yang disajikan tepat.”Pemilihan pemain dilakukan secara selektif untuk memastikan pesan serta emosi dari karakter dalam cerita dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton,” ujar Ade di sela-sela acara cast reveal.
Pernyataan ini menyiratkan sebuah keyakinan bahwa penonton hari ini sudah tumbuh lebih cerdas; mereka tidak lagi hanya mencari rasa takut sesaat, melainkan keterikatan emosional dengan karakter di layar.Dengan rampungnya fase pra-produksi, tim produksi dijadwalkan langsung turun ke lokasi syuting untuk memulai proses principal photography pada akhir Juli 2026 ini.
Apakah kolaborasi antargenerasi ini mampu melahirkan standar baru bagi genre horor psikologis tanah air? Jawabannya baru akan tersaji saat film Sofia resmi rilis ke hadapan penonton nanti.