Satir Politik Iran yang Tak Harus Tampil Represif dan Penuh Kekerasan
“Do you know what you did to me?” – Vahid (It Was Just an Accident, 2025)
Film fenomenal yang menjadi film inceran sinefil saat menjadi penutup Jakarta World Cinema 2025, akhirnya tayang reguler di bioskop Indonesia, dan kemarin KlikFilm melangsungkan pemutaran perdana It Was Just an Accident di CGV Grand Indonesia (14/10).
Sebagai film terbaru dari sineas Iran terkemuka Jafar Panahi yang telah memenangkan penghargaan prestisius di beberapa festival film dunia sejak 1995, kembali lagi lewat It Was Just an Accident. Film ini tayang perdana di kompetisi utama Festival Film Cannes ke-78 pada 20 Mei 2025, dan memenangkan Palme d’Or. Film tersebut terpilih sebagai perwakilan Prancis untuk Film Fitur Internasional Terbaik di Academy Awards ke-98.
Sinopsis
Vahid (Vahid Mobasseri) seorang montir mobil Azerbaijan, dahulu pernah dipenjara oleh otoritas Iran. Selama hukumannya, dia diinterogasi dengan mata tertutup. Suatu hari, seorang pria bernama Eghbal (Ebrahim Azizi) memasuki bengkelnya, dan membuat Vahid ingat akan salah satu orang yang pernah menyiksanya. Vahid menguntit Eghbal ke rumahnya, menculiknya, dan bersiap untuk menguburnya hidup-hidup, tetapi ia menjadi ragu tentang identitas pria itu karena pada waktu itu Vahid ditutup matanya dan belum pernah melihat wajah penyiksanya.

Ia lantas menghubungi seorang mantan tahanan untuk meminta konfirmasi, dan bertemu dengan penjual buku, Salar (George Hashem Zadeh); fotografer pernikahan, Shiva (Mariam Afshari); pengantin wanita, Golrokh (Hadis Pakbaten); pengantin pria, Ali (Majid Panahi); dan seorang pekerja yang selalu marah-marah, Hamid (Mohamad Ali Elyasmehr).
Berkeliling siang dan malam dengan sebuah mobil van, Vahid ditemani oleh para korban yang semuanya ingin membalas dendam pada pria yang secara brutal menganiaya mereka. Selama perjalanan, mereka merenungkan moralitas membunuh Eghbal dan terus mempertanyakan keyakinan mereka masing-masing.
Narasi sederhana dengan kedalaman emosi yang sangat personal
Narasinya termasuk ringan dan mengusik rasa ingin tahu kita terhadap masa lalu Vahid. Dia bersama keempat rekannya yang pernah mengalami penyiksaan, dipersatukan oleh dendam yang sama terhadap orang yang pernah menyiksa mereka semua. Kelimanya lantas menyusuri jalanan Iran yang panas dan berdebu, di sebuah mobil van yang dikendarai Vahid. Uniknya, film ini tidak menggunakan kilas balik yang menggambarkan kejadian yang pernah mereka alami dahulu, tapi menceritakan kisahnya lewat monolog, one take one shot yang panjang, juga dialog yang intens dan penuh keriuhan di antara mereka berempat.

Vahid Mobasseri tampil sangat dominan di film ini, gestur badannya yang sangat ekspresif, mampu menghadirkan ketegangan yang sangat intens di segala situasi. Selain Vahid, karakter Hamid juga kerap mengundang gelak tawa lewat amarahnya yang tiba-tiba meledak, dan tak bisa diprediksi. Namun, yang paling epik dari semua ini adalah bagaimana It Was Just an Accident mengakhiri ceritanya, benar-benar sempurna, sebuah cara yang tepat untuk menutup kisah menegangkan yang telah membuat penonton terkesima sejak awal.
Satu hal yang membuat film ini terasa berbeda adalah tiadanya skoring. Memang terasa aneh, tapi setelah lama dipikir, kita bisa menyadari kalau Jafar hendak membawakan narasi ini terasa nyata, dan membuat kita menyatu dengan para karakter yang bermain. Eskalasi narasi memang meningkat secara perlahan, mengingat alurnya sedikit slowburn di awal film. Tapi hal itu sangatlah relevan dan wajar, terlebih karena Vahid menghubungi satu per satu semua temannya yang terkait peristiwa di masa lalunya.
Kesimpulan
Sebagai sebuah film, It Was Just an Accident sangat indah dan pandai menuturkan narasinya lewat caranya yang tidak biasa. Jafar Panahi seolah menyindir rezim Iran lewat tindakan para karakter utamanya yang seolah mengatakan kalau dendam tak harus dilampiaskan lewat kekerasan, tapi lewat moralitas yang lembut dan penuh kasih sayang. Tak semua harus menggunakan kekerasan, bahkan balas dendam pun bisa pupus oleh refleksi diri sendiri terhadap sebuah tindakan yang akan dilakukan.

Eksplorasi moralitas menjadi isu penting yang mengemuka di film ini dan menjadi satir politik Iran yang selama ini memberlakukan hukum Syiah, pembatasan kebebasan sipil, dan penindasan terhadap perbedaan pendapat. Rezim ini mempertahankan kekuasaan melalui kontrol ketat terhadap warga dan menolak upaya sekularisasi dan westernisasi yang sekarang sudah mulai diterapkan di banyak negara Islam.
Nantikan It Was Just an Accident di bioskop Indonesia mulai 17 Oktober 2025.
Director: Jafar Panahi
Cast: Vahid Mobasseri, Mariam Afshari, Ebrahim Azizi, Hadis Pakbaten, Majid Panahi, Mohamad Ali Elyasmehr, George Hashem Zadeh, Delmaz Najafi, Afsaneh Najm Abadi
Duration: 105 minutes
Score: 9.0/10