Suasana Menakutkan di Sebuah Rumah Dilihat dari Perspektif Seekor Anjing

Kesuksesan beberapa film yang diputar di Jakarta World Cinema (JWC) 2025, membuat KlikFilm merilis 4 film terbaiknya untuk dirilis reguler secara terbatas. Film pertama yang diputar adalah Good Boy. Film yang diputar pada sesi Surprise Movie ke-4 di JWC 2025 kemarin memang cukup fenomenal dan bahkan telah ditunggu sebelum ajang JWC berlangsung.

Good Boy tayang perdana di dunia lewat ajang South by Southwest (SXSW) pada 10 Maret 2025, dan kemudian dirilis di Amerika Serikat pada 3 Oktober 2025 oleh Independent Film Company (IFC) dan Shudder. Saat dirilis, Good Boy mencatatkan rekor sebagai film terlaris ketiga dalam sejarah perusahaan tersebut setelah In a Violent Nature dan Late Night with the Devil, serta mengungguli Oddity dan When Evil Lurks.

Di situs web agregator ulasan Rotten Tomatoes, 91% dari 113 ulasan kritikus bernada positif. Konsensus situs web tersebut mengatakan, “Good Boy adalah film horor yang memukau secara visual dan menghancurkan emosi yang mengabaikan konvensi genre untuk menghadirkan pengalaman menghantui yang unik dan ambisius secara konseptual.” Situs ulasan Metacritic memberi film ini skor 71 dari 100, berdasarkan 17 kritikus, yang menunjukkan ulasan “umumnya positif”. Penonton yang disurvei oleh CinemaScore memberi film ini nilai rata-rata “B” pada skala A+ hingga F.

© IFC

Rafael Motamayor dari IndieWire menyebutnya sebagai “salah satu film horor terbaik tahun ini.” Frank Scheck dari The Hollywood Reporter mencatat bahwa “yang memberi film ini kekuatan emosional adalah kesetiaan Indy yang tak pernah pudar kepada pemiliknya yang tercinta”. Penampilan Indy secara khusus dipuji, membuatnya mendapatkan penghargaan perdana “Howl of Fame” di SXSW.

Good Boy merupakan film horor yang merupakan debut Ben Leonberg sebagai sutradara film layar lebar. Dalam film debutnya kali ini, Ben membuat narasi yang benar-benar unik, yaitu mengisahkan bagaimana seekor anjing melihat rumah angker dan berhantu yang terus menerus meneror ia dan majikannya.

Sinopsis Good Boy

Seekor anjing setia bernama Indy, pindah untuk mengikuti pemiliknya, Todd (Shane Jensen) ke sebuah rumah peninggalan kakeknya yang terletak jauh di pelosok kota. Sejak menempati rumah tersebut, Indy mulai melihat banyak hal supernatural yang mengintai dari kegelapan malam.

Entitas gelap tersebut lantas mulai meneror Todd hingga penyakit batuknya bertambah parah dan mulai mengeluarkan darah. Lama kelamaan entitas itu kian intens di malam hari dan Indy berusaha melindungi Todd agar ia tetap selamat. Berhasilkah Indy melakukannya?

POV anjing termasuk brilian di genre horor

Tak banyak film menggunakan perspektif film dari sisi anjing peliharaan, dan kalaupun ada itu bukanlah film horor, dan hal tersebut sangatlah brilian dan out of the box. Dengan durasi yang relatif pendek untuk ukuran film layar lebar (hanya 73 menit-red), Good Boy sangatlah mencekam dan intens hingga akhir. Diceritakan hampir seluruhnya dari sudut pandang Indy, film ini menunjukkan kepada kita semua peristiwa yang terjadi bersama Indy dan pemiliknya.

Dimulai di sebuah ruang tamu kecil yang gelap dan hanya diterangi oleh suara statis TV, kita melihat Indy berbaring diam di samping Todd, sementara Todd tertidur pulas di sofa, tiba-tiba, sesuatu menarik perhatian Indy yang membuatnya mendongak; sebuah siluet hitam muncul dari sudut ruangan.

Sebelum Indy sempat membangunkan pemiliknya, ponsel Todd mulai berdering, membuatnya terbangun dari tidurnya untuk menjawab panggilan tersebut. Di ujung telepon ada adik perempuan Todd, Vera (Arielle Friedman), yang memberi tahu bahwa kakek mereka telah meninggal dunia dan mewariskan rumah yang konon berhantu kepada Todd dalam surat wasiatnya.

© IFC

Todd lantas memutuskan untuk segera pindah, mengemasi barang-barangnya dan membawa Indy bersamanya untuk tinggal jauh dari peradaban di rumah kecil di kawasan hutan ini. Meskipun Indy jelas tidak menyukai perubahan tempat tinggal ini, ia memilih untuk menerimanya demi menenangkan pemiliknya, dan disinilah semua peristiwa menegangkan mulai terjadi satu per satu.

Pengambilan gambarnya tak biasa

Karena menggunakan perspektif Indy, tentu sudut pandang Indy yang pendek membuat penempatan kamera berada di dekat lantai. Hal tersebut membuat penonton seolah-olah menyaksikan setiap peristiwa yang dilihat oleh perspektif Indy, juga untuk memberi kesan kepada penonton bahwa dunia tampak besar dan menakutkan bagi seekor anjing tanpa pemilik manusia untuk membimbing mereka.

Akibatnya, kita sebagai penonton benar-benar merasa seperti Indy yang terus menerus mengalami ketakutan dan kebingungan, entah melihat penampakan, atau melihat jejak kaki tanpa tubuh yang muncul di lantai secara tiba-tiba. Bahkan seekor rubah yang lewat di depan rumah, menjadi sesuatu yang menyeramkan dan mungkin dianggap sebagai ancaman oleh seekor anjing.

Kesimpulan

Film horor dengan perspektif anjing peliharaan, memang sangat berbeda dari film horor yang pernah ada dan kita lihat di layar lebar. Penglihatan anjing yang lebih sensitif ketimbang manusia, memang memberi gambaran menakutkan bagaimana seekor binatang peliharaan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya.

Indy berperan sangat baik, dan pembawaannya juga tenang, matanya tidak camera syndrome, dan tetap fokus mengawasi apa yang menakutkan bagi dirinya dan Todd. Sinematografi yang sangat baik dan skoring yang sesuai dan mendukung adegannya, membuat film berdurasi 73 menit ini terasa intens hingga akhir.

Director: Ben Leonberg

Cast: Shane Jensen, Arielle Friedman, Larry Fessenden, Indy

Duration: 73 minutes

Score: 8.5

Rating: 9.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top