Festival Film Wartawan Puji Film Iyus Genius Sebagai Oase di Tengah Maraknya Film Drama dan Horor
Iyus Genius merupakan film musikal anak-anak sebagai tribute untuk menghadirkan lagu-lagu karya Papa T. Bob yang dahulu lekat dengan anak-anak di tahun 80-90an.
Di tengah dominasi film aksi, horor, hingga drama dewasa di bioskop Indonesia, Festival Film Wartawan (FFW) 2026 justru memilih menghadirkan film musikal anak dan keluarga, Iyus Jenius dalam agenda nonton bareng (nobar) yang digelar di CGV FX, Jakarta, Kamis (3/9).
Pemilihan Iyus Jenius bukan tanpa alasan. Film tersebut dinilai merepresentasikan kebutuhan akan tontonan yang ramah anak sekaligus membawa kembali semangat film musikal anak yang pernah populer di Indonesia. Dalam diskusi setelah pemutaran film, produser Gandhi Fernando mengungkapkan bahwa Iyus Jenius berangkat dari kecintaannya terhadap film anak serta kenangan masa kecil ketika menyaksikan Petualangan Sherina.”Dulu waktu film Petualangan Sherina rilis, umur saya sama persis dengan tokoh utamanya dan saya nonton film itu sampai ratusan kali,” kata Gandhi.
Namun, perjalanan Iyus Jenius menuju bioskop ternyata tidak semulus proses kreatifnya. Gandhi mengungkapkan, film tersebut membutuhkan waktu hingga tiga tahun sebelum akhirnya mendapatkan jadwal penayangan di jaringan bioskop. Menurut Gandhi, Iyus Jenius memperoleh jatah 25 layar di XXI dan secara keseluruhan diputar di sekitar 80 layar bioskop di Indonesia.”25 layar di XXI, dan totalnya sekitar 80 layar di seluruh bioskop Indonesia,” ujarnya.
Tantangan Mengarahkan Puluhan Anak
Sutradara Iyus Jenius, Ahmad Romie, mengatakan proses pembuatan film berlangsung dengan pendekatan kekeluargaan. Ide cerita kemudian dikembangkan bersama dengan menyatukan visi seluruh tim produksi.”Kami duduk bersama, lalu bilang: ‘Ini ide bagus, yuk kita kerjakan.’ Lalu kami mulai menyusun ceritanya, menyatukan visi, dan memasukkan apa yang kami rasa penting untuk disampaikan,” tutur Romie.
Bagi Romie, tantangan terbesar justru muncul ketika harus mengarahkan puluhan pemain anak. Para pemain tidak hanya dituntut mampu berakting, tetapi juga bernyanyi dan melakukan koreografi.”Melatih puluhan anak-anak yang berperan, sekaligus memadukan akting dengan tarian dan lagu jadi tantangan terbesar. Waktu yang terbatas membuat proses koreografi dan latihan menjadi ujian kesabaran tersendiri,” katanya.
Produser Adnan Djani menambahkan, cerita Iyus Jenius tidak dibangun dari imajinasi semata. Film ini berusaha mengambil persoalan yang dekat dengan kehidupan anak-anak dan keluarga sehari-hari. Lagu-lagu karya Papa T Bob juga dipilih dan diadaptasi untuk mendukung cerita sekaligus tetap mempertahankan kedekatannya dengan budaya Indonesia. “Kami ingin mengingatkan anak-anak sekarang bahwa pernah ada masa tontonan anak-anak yang bermutu. Tak semua bisa kami jelaskan secara mendalam dalam satu film, tapi kami ingin menyampaikan: kehidupan keluarga, hubungan orang tua dan anak, semuanya akan baik-baik saja,” ujar Adnan. Menurut dia, lagu-lagu lama tersebut kemudian dikemas menjadi sebuah cerita baru agar tetap relevan bagi penonton masa kini.
Ingin Beri Pilihan Tontonan untuk Anak
Pesan serupa disampaikan Baba T Bob, salah satu pemain Iyus Jenius sekaligus putra musisi Papa T Bob. Ia berharap film tersebut dapat menjadi bagian dari warisan kreatif bagi generasi muda. Baba menilai anak-anak Indonesia membutuhkan lebih banyak pilihan tontonan yang sesuai dengan usia mereka dan tidak mendorong mereka untuk tumbuh terlalu cepat. “Kita ingin memberi pilihan kepada anak-anak. Bahwa ada tontonan yang sesuai dengan usia mereka, bukan yang memaksa mereka tumbuh terlalu cepat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tekanan yang kerap dirasakan anak-anak ketika menghadapi proses belajar maupun tuntutan prestasi.”Banyak anak-anak takut belajar, takut berbuat salah, takut dimarahi orang tua. Lewat lagu-lagu Papa T Bob yang kami kemas dalam bentuk musikal, kami ingin berkata: tidak apa-apa, belajar itu proses, dan prestasi itu bukan satu-satunya ukuran,” katanya.
Pengalaman tidak kalah menantang dialami Kevin Abadio, pemeran tokoh Iyus. Film ini menjadi pengalaman baru baginya karena harus menjalankan akting sekaligus bernyanyi dan mengikuti koreografi. Bahkan, pada hari kedua proses syuting, Kevin sempat jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.”Sakitnya bukan karena akting, tapi karena harus menjiwai peran yang belum pernah saya jalani. Belum pernah menyanyi di depan kamera, belum pernah berakting, dan tiba-tiba harus melakukan keduanya sekaligus,” kenangnya.
Menurut Kevin, tantangan tersebut juga dirasakan para pemain anak lainnya. Mereka akhirnya saling membantu dan belajar bersama selama proses produksi.
FFW Soroti Tata Kelola Peredaran Film
Persoalan distribusi menjadi salah satu sorotan utama dalam diskusi FFW 2026. Ketua FFW 2026, Benny Benke, menilai perjalanan Iyus Jenius untuk mendapatkan layar bioskop menunjukkan masih adanya persoalan dalam tata kelola peredaran film nasional. Ia menyoroti waktu tunggu hingga tiga tahun yang harus dilalui film tersebut sebelum mendapatkan kesempatan tayang, dengan 25 layar di jaringan XXI. “Ini membuktikan bahwa tata kelola peredaran film kita masih kacau. Tiga tahun menunggu baru dapat 25 layar di XXI,” tegas Benny.
Benny menilai pembagian jadwal dan jumlah layar di bioskop masih belum memiliki parameter yang cukup transparan bagi para pembuat film. “Sistemnya terasa gaib, tidak ada parameter yang jelas,” ujarnya. FFW 2026, lanjut Benny, ingin memberikan dukungan kepada film-film yang memiliki gagasan kuat tetapi menyasar segmen penonton yang lebih spesifik, termasuk film anak dan keluarga seperti Iyus Jenius. Ia juga berharap pemerintah, terutama sektor pendidikan, dapat ikut membuka akses agar film anak berkualitas tidak hanya beredar di kota-kota besar, tetapi juga dapat dinikmati anak-anak di berbagai daerah hingga pelosok kabupaten.
Benny menutup diskusi dengan sebuah refleksi mengenai perjalanan sebuah film dalam menemukan penontonnya.”Setiap film mempunyai nasibnya sendiri, mempunyai cara untuk menemui penontonnya,” ujarnya. Bagi Iyus Jenius, perjalanan menuju penonton mungkin tidak berlangsung cepat. Namun, melalui FFW 2026, film tersebut kembali mendapat ruang untuk memperlihatkan bahwa anak-anak Indonesia juga membutuhkan cerita, lagu, dan tontonan yang dibuat khusus untuk mereka.