Review Orang Ikan (2024)

Rate this post

Ketika Terdampar di Tengah Pulau yang Dihuni Predator Buas Berwujud Aneh

“Juka makhluk itu kembali, kita harus sudah siap,” – Bronson (Orang Ikan, 2024)

Film yang satu ini sudah banyak ditunggu para penikmat film, terlebih sejak dikabarkan akan dirilis di Indonesia. Namun, Orang Ikan, judul film terbaru dari Mike Wiluan, yang dirilis sejak 2024 dan sudah berkeliling di banyak festival film internasional, baru akan rilis terbatas di Indonesia mulai minggu ini.

Sinopsis

© Infinite Studios

Berlatar pada 1942, Perang Dunia II berkecamuk di seluruh dunia. Di suatu tempat di lautan Pasifik, sebuah kapal Jepang mengangkut tawanan perang ke negara jajahan mereka untuk kerja paksa. Di atas kapal itu ada Saito (Dean Fujioka), seorang pengkhianat Jepang yang dikirim kembali untuk dijatuhi hukuman mati. Saito lantas dirantai kakinya bersama tahanan lain, seorang  tentara Inggris bernama Bronson (Callum Woodhouse), yang bernasib sama tapi membenci Saito karena karena kewarganegaraan Jepangnya.

Ketika kapal ini ditorpedo oleh kapal selam Sekutu, Saito dan Bronson berhasil menyelamatkan diri dan terdampar di pantai sebuah pulau terpencil. Tetapi ternyata mereka tidak sendirian. Bronson dan Saito diburu oleh makhluk mengerikan – Orang Ikan – yang tidak akan berhenti sampai kedua pria itu mati. Bronson dan Saito harus mengesampingkan kebencian mereka satu sama lain untuk bertahan hidup di pulau itu dan membunuh makhluk itu sebelum makhluk itu membunuh mereka terlebih dahulu.

Ide menarik, eksekusi kurang rapi

© Infinite Studios

Sebagi film dengan subgenre creature feature, Orang Ikan mengingatkan kita pada beberapa film klasik legendaris, seperti Creature from the Black Lagoon (1954), Predator (1987), atau yang agak terbaru, film terkenal dari Guillermo del Toro, The Shape of Water (2017). Premis menarik yang menggabungkan mitologi lokal, kisah sejarah, dan elemen sinematik monster klasik, memang termasuk baru di perfilman Indonesia, dan tak banyak sineas film yang menggarap dari sisi ini. Orang Ikan terasa sangat fresh dari pendekatannya yang berani terhadap subgenre creature feature di Asia.  

Namun, sayangnya, semua kelebihan di atas tidak bisa dimaksimalkan dari pengambilan shot nya yang kurang dinamis. Dengan dominasi shot close-up dan editing cut-to-cut yang terlalu cepat saat berkonfrontasi, baik dengan Orang Ikan ataupun dengan orang lainnya, membuat kita tidak bisa menikmati aksinya dengan maksimal. Tiba-tiba adegan ini sudah selesai tanpa kepuasan yang biasanya dihadirkan saat adegan ini muncul. Alhasil, sisi visual dan editing menjadi kelemahan yang substansial.

Sisi artistik dan CGI yang lumayan rapi

© Infinite Studios

Untungnya, hal ini bisa sedikit terobati dengan sinematografinya yang apik, dengan latar air terjun yang tinggi menjulang, disertai hijaunya hutan dan aliran sungai deras di dalamnya, semua itu membuat pengalaman menonton menjadi sedikit terpuaskan. Sisi artistik dan CGI juga lumayan rapi penggarapannya. 15 menit adegan kapal di tengah lautan menjadi contoh nyata penggunaan CGI yang lumayan rapi, terlebih properti yang digunakan tentara juga termasuk cukup detil dan sesuai dengan latar pada saat itu.

Kostum Orang Ikan di film ini memang mengingatkan kita pada tampilan makhluk di Black Lagoon yang sekarang jauh terlihat modern, dengan penampilan yang menakutkan lewat rangkaian gigi tajam dan matanya yang bulat lonjong seperti binatang amphibi yang bisa hidup di dua alam.

Sayangnya, sosok Orang Ikan tidak tereksplorasi secara baik lewat visual sosoknya yang terlihat amat tanggung dan malu-malu, berbeda jauh seperti di film Predator yang mampu memberikan ancaman yang konstan terhadap protagonisnya lewat penampakan visual yang berimbang saat berburu dan diburu.

Kesimpulan

Sebagai film dengan subgenre creature feature, Orang Ikan mampu tampil eksplosif. Walaupun belum sebaik pendahulunya, film ini mampu membawa mitologi lokal, kisah sejarah, dan elemen sinematik monster klasik di masa modern yang penuh rasa ingin tahu terhadap tema yang jarang sekali diangkat ke layar lebar seperti film ini. Thanks to Mike Wiluan untuk film menakjubkan ini, walaupun secara visual ada yang perlu diperbaiki, namun keberanian anda membuat film ini membawa memori masa kecil saya ke era keemasan creature feature ke film layar lebar

Director: Mike Wiluan

Cast: Dean Fujioka, Callum Woodhouse

Duration: 83 Minutes

Score: 6.2/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top