Review The Carpenter’s Son (2025)

Menelisik Sosok Yesus yang Digambarkan Menyimpang dari yang Kita Kenal

“He bears a power he can’t understand. A power i can’t contain,” – Father (The Carpenter’s Son, 2025)

Buat kita yang menganut agama Kristiani, dan membaca judul film ini, pikiran kita sontak langsung tertuju pada sosok Yesus, sang Mesias, juru selamat manusia yang notabene juga merupakan anak dari Yosef, yang profesi kesehariannya adalah sebagai tukang kayu, yang merupakan artian Indonesia dari judul film ini.

Tapi tunggu, gambaran singkat di atas merupakan hal yang selama ini kita ketahui secara kanonik Kristiani. Namun, yang membuat film ini berbeda dari film berbasis Alkitab adalah landasan ceritanya yang sesat dan dipenuhi kontroversi. Film dengan judul The Carpenter’s Son ini terinspirasi oleh Injil Masa Kecil Thomas, di mana injil ini merupakan kumpulan teks Kristen apokrif (non-kanonik) yang sebetulnya sudah disingkirkan dari kanon resmi Perjanjian Baru oleh para pemimpin gereja awal.

Injil ini menggambarkan masa remaja Yesus, di usianya yang menginjak 15 tahun sebagai remaja yang mempunyai kemampuan dahsyat dan juga destruktif. Selain itu Yesus juga digambarkan sebagai anak yang terkadang keras kepala dan pendendam, yang menggunakan kekuatannya untuk menyakiti orang lain sebelum belajar mengendalikannya. Sebuah perspektif yang belum pernah kita lihat di film berbasis Alkitab

Narasinya berpusat saat sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah/Yosef (Nicholas Cage), Ibu/Maria (FKA Twigs), dan Anak Laki-Laki/Jesus (Noah Jupe), di mana ketiganya sedang bersembunyi di Mesir saat era Romawi berkuasa. Kehidupan anak laki-laki ini mulai terganggu ketika ia perlahan mulai menemukan kekuatannya. Tak hanya itu, ia juga mulai diganggu seseorang yang menggodanya agar meninggalkan ayahnya yang otoriter.

Saat anak laki-laki itu mulai bereksperimen dengan kekuatan yang ia miliki, ia dan keluarganya menghadapi kengerian alami dan ilahi, dan anak laki-laki itu mulai mempertanyakan orang tua dan identitasnya sendiri. Apa yang sebenarnya ia alami?

Sekali lagi, The Carpenter’s Son dibuat oleh Sutradara Lotfy Nathan sebagai sebuah karya relijius yang ‘berbeda’ dari film bertema sejenis yang cenderung konvensional dalam merepresentasikan Alkitab sesuai kaidahnya. Di mana hal serupa pernah dialami film The Last Temptation of Christ (1988) karya Martin Scorsese yang dihujat saat pertama kali dirilis, sebelum memperoleh pengakuan luas dari para kritikus film.

Namun perlu diingat, The Carpenter’s Son sama sekali tidak mengajak orang untuk mempercayai apa yang divisualisasikan dari injil Thomas tersebut. Film ini dihadirkan sebagai proses kreatif belaka, bukan untuk menghujat agama Kristen. Film ini secara gamblang menggambarkan kecemasan orang tua, godaan yang muncul, dan sisi manusiawi dari Yesus saat ia menerima tujuan ilahi.

Sebuah tema yang sebetulnya terdengar biasa saja namun sangat menarik karena ‘berani’ memasukkan elemen horor, brief nude, kekerasan yang frontal, dan adegan pengaruh setan (lewat kemunculan ular bertanduk yang ditarik dari seseorang yang kerasukan). Keberanian dalam mengalihwahanakan sejumlah teks non-kanonik inilah yang memicu sejumlah penolakan dari banyak umat Kristiani di beberapa negara.

Tak hanya kontroversinya, secara teknis film ini juga terlihat membosankan dan eksekusinya yang sangat berantakan. Praktis yang patut mendapatkan pujian dari film ini adalah keberanian Lotfy Nathan dalam membuat karya non-kanonik, dan totalitas akting yang diperlihatkan para cast utamanya khususnya Isla Johnston yang manipulatif. Di sini, Isla berperan apik sebagai Lilith atau Orang Asing yang mencobai Anak Laki-Laki di sepanjang film.

Sebuah karya memang seharusnya dihargai sebagai sebuah kreativitas dari para pembuatnya. Adanya kecaman dan larangan untuk menonton dari berbagai pihak, membuat banyak orang terhasut untuk ikut menjelek-jelekkan sebuah film yang mereka sendiri bahkan belum menontonnya.

Jangan lupa, film ini dibuat bukan untuk mendustai agama tertentu, tapi muncul sebagai proses kreatif yang terlalu ‘berani’ mengangkat dari sumber yang dilarang. Kita diharapkan lebih bijak sebagai penonton, dan mencoba menghargai sebuah karya tanpa menghakimi karya tersebut secara berlebihan.

Director: Lotfy Nathan
Cast: Nicolas Cafe, FKA Twigs, Noah Jupe
Duration: 94 minutes
Score: 6.0/10





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top