Review The Bride (2026)

Romantika Frankenstein dan Pasangannya yang Penuh Kekacauan

Where am I? What is love? What is marriage?” – Ida (The Bride, 2026) 

Warner Bros kembali merilis film terbarunya yang cukup berbeda dan disutradarai oleh Maggie Gyllenhaal. Maggie sebelumnya kita kenal lewat garapan perdananya The Lost Daughter (2021), kini hadir lewat The Bride, yang uniknya mengambil kisah Frankenstein dan pengantinnya.

Namun, The Bride kali ini justru mengingatkan kita pada film klasik The Bride of Frankenstein yang dibintangi Boris Karloff dan dirilis pada 1935. Film ini dahulu merupakan sekuel langsung dari Frankenstein yang rilis pada 1931 yang juga dibintangi Boris Karloff.

Sinopsis

Berlatar tahun 1930-an di Chicago, The Bride mengikuti kisah Frankenstein (Christian Bale) yang kesepian saat ia tiba-tiba mendatangi Dr. Euphronius (Annette Bening) untuk menciptakan pendamping baginya. Mereka lantas mencari perempuan yang sudah mati di kuburan, dan menghidupkan kembali mayat seorang wanita muda bernama Ida (Jessie Buckley).

Setelah berhasil dihidupkan Dr. Euphronius, Ida terlahir kembali dan berusaha memahami orang di sekitarnya termasuk Frankenstein dan sang dokter. Tepi lama kelamaan ia menemukan kesadaran yang berbeda dan perlahan mulai menjalani hidupnya dengan Frankenstein yang baru saja ia kenal.

Namun, kesadaran yang ia peroleh saat ia hidup ternyata tidak berjalan seperti manusia normal. Ida cenderung berpikir radikal di luar nalar dan memicu serangkaian tindakan kriminal yang berujung pada pembunuhan dan mengakibatkan keduanya dikejar sepasang detektif dan bahkan juga mafia. Apa yang selanjutnya terjadi pada mereka?

Narasi liar yang dipenuhi kejutan

Melihat The Bride seperti melihat film eklektik yang dipenuhi berbagai genre di dalamnya. Kita bisa melihat drama romansa yang berbalut sci-fi dengan bumbu aksi thriller juga dark comedy yang diimbuhi musikal di sepanjang film. Hal ini tentu menarik namun di sisi lain bisa membuat film berantakan karena tidak adanya kejelasan akan dibawa kemana narasi ini sebenarnya.

Tapi narasi yang cenderung liar ini dibawa Maggie ke latar 1930an yang penuh warna ketimbang era 1800an. Eksekusi ini tentu saja jauh lebih menarik, dengan memasukkan show stopping dance yang populer saat itu, juga aksi ala Bonnie and Clyde yang terkenal karena keberaniannya. Imbasnya keberanian ini berimbas pada sebuah gerakan sosial yang memicu kaum feminis untuk melakukan aksi serupa.

Kesimpulan

Maggie berhasil membawa narasi Frankenstein ini ke arah yang berbeda dan jauh lebih berani dari versi sebelumnya. Yang membuatnya jauh lebih unik bukan hanya sekadar genrenya yang eklektik tapi juga sosok Mary Shelley (pengarang novel Frankenstein-red) yang seolah muncul dari alam baka untuk membisiki Ida tentang penggalan kisah yang belum selesai ia tulis dalam bukunya.

Jessie juga tampil luar biasa dengan berperan menjadi tiga karakter sekaligus, Mary Shelley, Ida, dan The Bride dengan mempertahankan ciri khas masing-masing karakter. Begitupun dengan Christian Bale yang mampu menghidupkan Frankenstein dengan versinya sendiri yang menyedihkan, penuh duka dari masa lalu, hingga mendapatkan pasangan yang selama ini ia impikan.

Semua hal menakjubkan ini membuat The Bride bukan hanya sekadar film tapi juga karya seni yang wajib untuk ditonton semua orang, telebih mereka yang menyukai karakter Frankenstein.

Director: Maggie Gyllenhaal
Cast: Jessie Buckley, Christian Bale, Peter Sarsgaard, Penélope Cruz, Annette Bening, Jake Gyllenhall, John Magaro, Jeannie Berlin, Matthew Maher, Linda Emond
Duration: 126 minutes
Score: 8.0/10






Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top