Mencapai Impian Besar dengan Menghalalkan Segala Cara
“I have a purpose. If you think that it’s some kind of blessing it’s not. It means I have an obligation to see a very specific thing through.” – Marty Mauser (Marty Supreme, 2025)
KlikFilm kembali merilis film terbarunya di layar lebar Indonesia dengan judul Marty Supreme. Film terbaru dari A24 yang sejak pengumuman Oscar 2026, mulai ramai dibicarakan karena meraih 9 nominasi Oscar termasuk Aktor Terbaik dan Film Terbaik.
Marty Supreme terinspirasi dari kehidupan Marty Reisman, seorang pemain pingpong legendaris yang kisahnya kini difilmkan oleh Josh Safdie (sebelumnya kita kenal lewat Uncut Gems yang rilis pada 2019).

Sinopsis
Berlatar di New York tahun 1950an, film ini mengikuti perjalanan Marty Mauser (Timothée Chalamet), seorang pemuda ambisius dan sangat berbakat dalam bermain tenis meja (ping-pong). Meskipun terus diremehkan oleh lingkungannya sendiri, Marty terobsesi untuk menjadi juara dunia dan mendapatkan pengakuan internasional.
Sehari-hari, Marty bekerja sebagai pelayan di toko sepatu pamannya, namun fokus utamanya adalah mendominasi dunia tenis meja profesional yang saat itu mulai berkembang secara internasional. Kepercayaan diri Marty terguncang setelah kalah di babak final dari Koto Endo, pemain terbaik Jepang, yang memalukan dan memicu perjalanannya melintasi berbagai negara untuk menebus ambisinya.

Kembali ke New York tanpa uang, Marty mengandalkan karismanya untuk menipu orang lain demi membiayai ambisinya. Ia terlibat dalam dunia taruhan gelap yang penuh risiko. Marty menjalin hubungan rumit dengan Kay Stone (Gwyneth Paltrow), seorang artis lawas yang juga sosialita kaya, dan Rachel Mizler (Odessa A’zion), teman masa kecilnya yang sudah menikah.
Demi mencapai tujuannya, Marty sering kali menghalalkan segala cara yang menyulitkan orang-orang di sekitarnya, termasuk ibunya, pamannya, dan juga teman bisnisnya. Apa yang lantas ia perbuat?

Protagonis yang mendapat antipati penonton
Kapabilitas Timothée Chalamet sebagai aktor, memang sangat diuji di film ini, dan perannya sebagai Marty memang sangat layak untuk mendapatkan Oscar. Timothy berhasil menggambarkan karakter Marty yang sangat eksplosif dengan segala karisma dan tipu daya yang dimilikinya. Kita bisa duduk menikmati film yang relatif panjang (150 menit atau 2,5 jam) walaupun sebagai protagonis, karakter Marty cenderung narsistik yang berujung pada rasa antipati dari penonton.
Visualisasi retro yang impresif
Gaya penyutradaraan Josh Safdie yang rustic dan penuh kegelisahan lewat karakternya, digambarkan dalam film ini. Senada dengan Uncut Gems yang dieksekusi dengan gaya serupa, Josh berhasil membawa film ini ke era 50an yang liar lewat karakter Marty yang hidupnya penuh kekacauan sistematis. Penggunaan format 35mm terlihat sangat sesuai dengan latar era 50an yang dihadirkan, membuat tone terasa hangat sekaligus juga rough, penuh dengan dinamika di dalamnya.

Skoring era 80an yang cenderung kontras
Satu hal yang patut dicermati dari film ini adalah skoringnya yang kontras dengan latar film yang diambil. Dua lagu populer era 80an, Forever Young dari Alphaville mengisi scene awal dan Tears for Fears dengan Everybody Wants to Rule the World di scene akhir, bisa dikatakan sesuai dengan apa yang diwakilkan. Selebihnya skoring bernuansa synth-pop 80-an yang cenderung kontras, dan mungkin terasa tidak cocok untuk beberapa penonton.
Kesimpulan
Marty Supreme merupakan biopik drama sport yang dikemas anti mainstream dan tak biasa. Karakter Marty yang eksplosif dan penuh kekacauan menjadi daya tarik tersendiri saat diperankan Timothée Chalamet yang tampil luar biasa di film ini. Hadirnya dua cast, Gwyneth Paltrow dan Kevin O’Leary memberi sidekick tersendiri lewat subplot yang berjalan beriringan dengan plot utamanya.
Tonton segera Marty Supreme di bioskop mulai 25 Februari 2026.
Director: Josh Safdie
Cast: Timothée Chalamet, Odessa A’zion, Sandra Bernhard, Emory Cohen, Ralph Colucci, Fran Drescher, Abel Ferrara, Pico Iyer, Koto Kawaguchi, Luke Manley, Kevin O’Leary, Tyler Okonma, Gwyneth Paltrow. Larry Ratso Sloman
Duration: 150 minutes
Score: 9.0/10