I'm Still Here

Review I’m Still Here (2024)

Tragisnya Rezim Diktator yang Membuat Keluarga Paiva Kehilangan Sosok Ayah

“Forced disappearance were one of the cruellest acts of regime.” – Eunice Paiva (I’m Still Here, 2024)

Film dengan judul I’m Still Here ini sejatinya tak akan ditayangkan di Indonesia apabila puluhan penghargaan film internasional tak diraihnya selama ini, terlebih setelah meraih Oscar untuk kategori Film Internasional Terbaik yang baru saja dilangsungkan beberapa waktu lalu.

Sebelum mendapatkan Oscar, film yang melangsungkan world premiere-nya pada 1 September 2024 di Festival Film Internasional Venesia ke-81 ini, mendapat pujian dari kritikus serta pujian atas penampilan Fernanda Torres, serta memenangkan penghargaan Skenario Terbaik.

I’m Still Here dinobatkan sebagai salah satu dari 5 Film Internasional Terbaik tahun 2024 oleh National Board of Review. Di Golden Globe Awards ke-82, Torres lagi-lagi memenangkan kategori Aktris Terbaik dalam Film – Drama sementara film ini dinominasikan untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, kategori yang juga dinominasikan di Critics’ Choice Movie Awards dan BAFTA.

Sebagai sebuah film biopik, I’m Still Here disutradarai oleh Walter Salles berdasarkan memoar Marcelo Rubens Paiva tahun 2015 dengan judul yang sama, dan mengikuti perjalanan Eunice Paiva (Fernanda Torres), saat suaminya Rubens Paiva, dihilangkan secara paksa selama kediktatoran militer di Brasil pada tahun 1971.

I'm Still Here
© Sony Pictures Classsic

Sinopsis

Suatu sore di tahun 1971, Rubens Paiva (Selton Mello), mantan anggota kongres dan pengkritik keras kediktatoran militer Brasil yang baru dibentuk, dibawa dari rumahnya di Rio de Janeiro oleh pejabat pemerintah, tidak diberi tahu apa pun selain bahwa ia harus memberikan deposisi kepada pihak berwenang, dan tak lama ia menghilang misterius dan tak diketahui ada di mana, hingga pada tahun 1996 pemerintah mengeluarkan surat kematian yang selama ini ditunggu-tunggu istri dan keluarganya.  

Narasinya solid dan tidak bertele-tele

Film yang dialihwahanakan dari novel karya Marcelo Rubens Paiva, yang notabene merupakan anak laki-laki satunya di keluarga Paiva, I’m Still Here tetap fokus pada keluarga Paiva dan memperlihatkan emosi yang dihadirkan dengan sangat baik oleh setiap anggota keluarganya, saat ayah mereka hilang. Fernanda Torres tampil luar biasa sebagai istri Rubens yang mendadak harus kehilangan suaminya dan juga menggantikan suaminya sebagai kepala keluarga.

Di latar belakang, film ini menceritakan betapa ngerinya kediktatoran Brasil tanpa bertele-tele, seiring dengan plot utamanya yang tetap fokus pada aspek manusia dan rasa kehilangan dari orang yang mereka cintai. Naskahnya solid, dan makin bermakna seiring berjalannya waktu, semua itu dimungkinkan karena penampilan semua pemainnya yang di atas rata-rata.

Sangat jarang kita melihat banyak pemain muda seperti ini tampil baik dalam mendukung karakter utamanya, Fernanda Torres yang tampil luar biasa dan menyentuh di sepanjang film. Tampil elegan, penampilan Fernanda yang tenang, bisa menjadi mengharukan, di mana matanya bercerita lebih banyak daripada kata-kata. Semua itu dilakukannya tanpa perlu menjadi melodramatis.

I'm Still Here
© Sony Pictures Classsic

Elemen teknisnya salah satu yang terbaik di kategorinya

Melihat visualisasi I’m Still Here, kita akan terperangah dengan keseriusan dalam pembuatan film ini. Film ini mampu menangkap kepedihan keluarga ini lewat pengambilan jarak dekat yang memperlihatkan raut wajah para pemainnya lebih detil, yang secara tidak langsung mengungkap penderitaan psikis yang dialami Eunice dan anak-anaknya.

Visualnya juga disatukan dengan format Super 8 lewat kamera video yang disorot anak-anak Eunice. Hasilnya? Tampilan retro nan estetik dihadirkan di beberapa momen, terlebih saat mereka pindah ke Sao Paulo dan kamera menyorot rumah mereka dari dalam mobil. Skoringnya secara imersif dan sangat dalam, dimasukkan ke dalam adegan dan menyatu dengan baik saat keluarga ini memperlihatkan emosi yang saat itu hadir.

Kesimpulan

I’m Still Here membuat kita tak bisa berkata-kata lagi, semua tampil sangat baik dan terasa seimbang antara keindahan visual dan emosi yang dihadirkan para pemainnya secara konstan, tapi tidak membuat film ini terasa melodramatis. Fernanda Torres tampil sangat baik sebagai Eunice Paiva, karakternya yang tegas, sekaligus tenang, mampu membawa keluarga ini lepas dari masa-masa kelam, dan menjadikannya lebih kuat saat kehilangan suaminya.

Hadirnya film ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi Brazil, di mana film ini berasal, untuk merefleksikan dirinya terhadap kejahatan masa lalu mereka yang kelam dan membekas di banyak keluarga yang hingga saat ini kehilangan anggota keluarganya.

Director: Walter Salles

Cast: Fernanda Torres, Fernanda Montenegro, Selton Mello, Valentina Herszage, Guilherme Silveira, Luiza Kosovski, Barbara Luz, Cora Mora

Duration: 137 Minutes

Score: 10/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top