Disutradarai Dmaz Brodjonegoro dan diproduseri Hanung Bramantyo, film ini mengusung pesan “Fight the Trauma” dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.
Beautiful Pain dibintangi Raihaanun, Baim Wong, Tarra Budiman, Anantya Kirana, Evano Zyan, Jajang C. Noer, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Berlliana Lovel, serta Anastasia Herzigova.
Gala premiere Beautiful Pain baru saja dilangsungkan di Jakarta (15/10) dan berani menghadirkan kisah tentang perempuan dalam meninggalkan hubungan toxic, menghadapi pelecehan seksual, dan membangun kembali kehidupan di tengah tekanan sosial.
Keputusan meninggalkan pernikahan yang menyakitkan tidak selalu menjadi akhir dari penderitaan. Bagi sebagian perempuan, langkah tersebut justru membuka babak baru yang penuh tantangan, mulai dari perjuangan ekonomi, perebutan hak asuh anak, hingga menghadapi stigma masyarakat. Realitas inilah yang diangkat film Beautiful Pain.
Film produksi Dapur Film ini menempatkan pengalaman perempuan sebagai inti cerita, khususnya mereka yang harus berjuang keluar dari hubungan tidak sehat sekaligus menghadapi lingkungan yang belum sepenuhnya memberikan ruang bagi korban kekerasan untuk bersuara.
Disutradarai Dmaz Brodjonegoro, dengan Hanung Bramantyo sebagai produser dan Titien Wattimena sebagai penulis skenario, Beautiful Pain juga menandai debut penyutradaraan layar lebar Dmaz. Nikita Mirzani terlibat sebagai executive producer dalam film yang membawa pesan tentang keberanian menghadapi trauma dan merebut kembali kendali atas kehidupan.
Jajaran pemainnya terdiri dari Raihaanun sebagai Niken, Baim Wong sebagai Dirga, Tarra Budiman sebagai Randy, Anantya Kirana sebagai Naia, Evano Zyan sebagai Dio, Jajang C. Noer sebagai Rahmania, Dimas Aditya sebagai Gerry, Siti Fauziah sebagai Sekarsari, Berlliana Lovel sebagai Diana, serta Anastasia Herzigova sebagai Jane.
Niken dan Perjuangan Memulai Hidup dari Titik Nol
Di pusat cerita Beautiful Pain, terdapat Niken, perempuan yang mengambil keputusan besar untuk mengakhiri pernikahannya dengan Dirga. Baginya, meninggalkan hubungan toxic merupakan langkah untuk melindungi kesehatan mental sekaligus memberikan masa depan yang lebih baik bagi kedua anaknya.
Keputusan itu menuntut pengorbanan. Niken harus melepaskan kenyamanan hidup sebelumnya dan kembali ke rumah ibunya untuk menyusun kembali kehidupannya dari awal. Dalam situasi yang serba terbatas, ia berusaha mandiri secara ekonomi sembari memperjuangkan hak asuh anak-anaknya.
Namun, perjuangannya tidak berhenti setelah perceraian. Niken justru menghadapi persoalan baru berupa pelecehan seksual dan fitnah yang mengancam harga diri serta upayanya untuk bangkit.
Alih-alih memperoleh dukungan, ia berhadapan dengan penilaian lingkungan yang mempertanyakan dirinya sebagai korban. Tekanan tersebut memperlihatkan bagaimana perempuan kerap harus menghadapi dua persoalan sekaligus: kekerasan yang dialami dan stigma yang muncul setelahnya.
Di tengah situasi itu, Niken memilih untuk tidak terus berdiam diri. Keputusannya berbicara dan melawan menjadi bagian penting dari perjuangannya mempertahankan martabat serta masa depan anak-anaknya.
Raihaanun: Perempuan Berhak Mendapatkan Ketenangan
Raihaanun mengakui bahwa memerankan Niken membawa beban emosional tersendiri. Karakter tersebut merepresentasikan perempuan yang berusaha melepaskan masa lalu yang menyakitkan, tetapi kembali diuji ketika mencoba menata kehidupannya.
“Setiap orang, setiap wanita, pasti pernah merasakan jatuh dan terjebak dalam jurang yang paling dalam. Niken adalah gambaran nyata wanita-wanita di luar sana yang kuat dan mampu melepaskan masa lalunya yang toxic,” ungkap Raihaanun.
Menurutnya, perjuangan perempuan menjadi semakin berat ketika upaya untuk bangkit justru dibayangi pelecehan, fitnah, dan sikap menyalahkan korban.
Melalui karakter Niken, Raihaanun berharap penonton yang mengalami situasi serupa dapat menemukan penguatan untuk melanjutkan hidup.“Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan emosional film ini: meninggalkan hubungan yang merugikan bukanlah bentuk kegagalan, melainkan keputusan yang dapat menjadi awal pemulihan.
Dmaz Brodjonegoro Ingin Membuka Ruang Percakapan
Bagi Dmaz Brodjonegoro, Beautiful Pain tidak dirancang hanya sebagai hiburan di layar lebar. Film ini diharapkan dapat memancing diskusi mengenai persoalan yang masih kerap sulit dibicarakan secara terbuka, terutama pengalaman perempuan yang mengalami kekerasan dan beban seorang ibu yang berjuang sendirian.
“Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita,” ujar Dmaz.
Ia juga menyoroti pentingnya empati terhadap perempuan yang sedang menghadapi situasi sulit. Menurutnya, pengalaman korban perlu dipahami tanpa terburu-buru memberikan penghakiman.
Sebagai sutradara yang menjalani debut layar lebar melalui proyek ini, Dmaz mengembangkan cerita bersama Titien Wattimena dengan menempatkan persoalan kemanusiaan sebagai salah satu fokus utama.
Hanung Bramantyo selaku produser turut menyampaikan keyakinannya terhadap visi penyutradaraan Dmaz.“Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Titien Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut,” kata Hanung.
Sementara itu, Nikita Mirzani menegaskan bahwa pesan film ini melampaui pengalaman personal siapa pun yang terlibat di dalamnya.“Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan,” ujarnya.