Lima juri akhir akan mempertimbangkan kekuatan cerita, relevansi sosial, keberanian artistik, dan kontribusi film terhadap kebudayaan.
Kelima juri tersebut adalah Frans Sartono, Susi Ivvaty, Hilmi Faiq, Seno Joko Suyono, dan Didang Pradjasasmita. Mereka berasal dari latar belakang jurnalistik, kritik film, pengamatan industri, hingga kuratorial seni.
Festival Film Wartawan Indonesia (FFW) 2026 memasuki tahap krusial menjelang pengumuman pemenang. Lima juri akhir resmi memulai proses penilaian untuk menentukan film dan insan perfilman terbaik dari daftar nominasi yang sebelumnya diseleksi oleh Komite Seleksi FFW 2026.
Kelima juri tersebut adalah Frans Sartono, Susi Ivvaty, Hilmi Faiq, Seno Joko Suyono, dan Didang Pradjasasmita. Mereka berasal dari latar belakang jurnalistik, kritik film, pengamatan industri, hingga kuratorial seni yang diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam menentukan para penerima penghargaan tahun ini.
Ketua Panitia FFW 2026, Benny Benke, mengatakan para juri akhir bertugas meninjau kembali nominasi, mendiskusikan kualitas setiap karya, serta menetapkan pemenang secara independen.
“Juri Akhir resmi mulai bekerja. Mereka akan menonton ulang, mendiskusikan, dan memutuskan pemenang dari nominasi yang sudah dihasilkan Komite Seleksi. Keputusan juri akhir bersifat mutlak dan independen dari kacamata wartawan,” ujar Benny Benke di Jakarta, Kamis (15/10).
Tahap penjurian akhir ini menjadi penentu setelah proses seleksi panjang yang melibatkan 21 anggota Komite Seleksi. Para juri akan menilai nominasi dalam berbagai kategori, termasuk Film Terbaik, Aktor dan Aktris Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, serta Penyunting Gambar Terbaik.
Lima Juri dengan Perspektif Berbeda
FFW 2026 menghadirkan lima juri dengan pengalaman dan sudut pandang yang beragam. Komposisi ini diharapkan menghasilkan penilaian yang tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, tetapi juga kekuatan narasi, konteks sosial, dan nilai kebudayaan sebuah film.
Frans Sartono dikenal sebagai wartawan senior dan kritikus film yang selama lebih dari tiga dekade menulis mengenai estetika serta perkembangan sinema Indonesia. Pengalamannya menjadi salah satu perspektif penting dalam membaca kekuatan artistik sebuah karya.
Sementara itu, Susi Ivvaty memiliki rekam jejak dalam peliputan isu film, sosial, dan kebudayaan. Perhatiannya terhadap representasi serta persoalan kemanusiaan menjadi sudut pandang yang relevan dalam menilai bagaimana film menghadirkan pengalaman manusia dan realitas masyarakat.
Hilmi Faiq membawa pemahaman mengenai dinamika industri perfilman nasional, mulai dari produksi film layar lebar hingga layanan streaming atau over-the-top (OTT). Ia juga merupakan anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Perspektif lintas disiplin akan hadir melalui Seno Joko Suyono, wartawan, penulis, sekaligus kurator seni yang menghubungkan film dengan sastra, politik, dan seni rupa.
Adapun Didang Pradjasasmita merupakan wartawan film senior dan pengamat industri yang memiliki kedekatan dengan komunitas perfilman serta pemahaman mengenai ekosistem festival dan penghargaan.
Keragaman pengalaman kelima juri tersebut menjadi bagian dari upaya FFW mempertahankan karakter penghargaan yang bertumpu pada perspektif wartawan dalam membaca perkembangan sinema Indonesia.
Bukan Hanya Popularitas, Kualitas dan Dampak Film Jadi Pertimbangan
Bagi FFW, film terbaik tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penonton atau popularitas di ruang digital. Kekuatan cerita, relevansi sosial, nilai budaya, keberanian artistik, serta dampak yang dihasilkan juga menjadi pertimbangan dalam proses penilaian.
Salah satu juri akhir, Didang Pradjasasmita, menegaskan bahwa penghargaan ini berupaya melihat film melalui sudut pandang yang lebih luas daripada sekadar pencapaian komersial.”FFW bukan mencari film yang paling banyak ditonton atau paling viral saja. Kami mencari film yang jujur secara cerita, punya nilai budaya, relevan secara sosial, berani secara artistik dan punya dampak. Itu yang menjadi kacamata wartawan di festival ini untuk memilih yang terbaik,” ujar Didang.
Pendekatan tersebut menempatkan film tidak hanya sebagai produk hiburan, tetapi juga sebagai karya yang dapat merekam perubahan sosial, merepresentasikan kebudayaan, dan menghadirkan gagasan kepada penonton.
Dalam konteks industri film Indonesia yang terus berkembang melalui jalur bioskop maupun platform digital, penilaian semacam ini memberi ruang bagi karya dengan kekuatan artistik dan substansi cerita, terlepas dari tingkat popularitasnya.
Seleksi Berlangsung Lima Bulan, Pemenang Diumumkan November 2026
Sebelum memasuki tahap penjurian akhir, Komite Seleksi FFW 2026 telah bekerja selama lima bulan untuk menyaring ratusan judul film Indonesia. Film yang masuk dalam cakupan seleksi merupakan karya yang tayang di bioskop dan layanan streaming pada periode 1 Oktober 2025 hingga 30 September 2026.
Daftar nominasi yang dihasilkan dari proses tersebut kini menjadi dasar penilaian lima juri akhir. Mereka akan menonton ulang karya-karya yang masuk nominasi, berdiskusi, melakukan pemungutan suara, serta mencari konsensus untuk menentukan pemenang di setiap kategori.
Proses tersebut menjadi tahap terakhir sebelum FFW 2026 mengumumkan para penerima penghargaan dalam Malam Puncak Anugerah yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Dengan dimulainya penjurian akhir, perhatian kini tertuju pada keputusan lima juri dalam menentukan film dan insan perfilman yang dinilai paling menonjol sepanjang periode penayangan yang menjadi cakupan FFW 2026.