Review Beware Boiuna (2026)

Ketika Ular Raksasa Jadi Penjaga Hutan yang Sesungguhnya

‎”When God created the world, the first creature mankind learned to fear never left us.” (Beware Boiuna, 2026)

Genre creature feature tampaknya mulai menemukan tempatnya lagi di layar lebar. Setelah sebelumnya kita kedatangan film Crawlers, sekarang gantian film Beware Boiuna yang hadir menghibur kita. Hadirnya film ini seolah mengingatkan kita pada Anaconda (1997) yang legendaris itu, namun ada perbedaan signifikan di antara kedua film ini. ‎‎

Mike P. Nelson yang sebelumnya dikenal lewat Wrong Turn (2021) yang amat memorable bagi pecinta film thriller, mencoba membangkitkan nostalgia teror ular raksasa yang dahulu berhasil dihidupkan lewat film Anaconda. Namun, alih-alih hanya mengandalkan formula popcorn movie yang klise, Nelson menyuntikkan mitologi Amazon yang kental serta isu eksploitasi alam ke dalam jalinan naskahnya.

Sinopsis

Sekelompok tim medis yang mengikutsertakan dokter muda Alli (Jessica Rothe), menyusuri pedalaman hutan Amazon di wilayah Kolombia untuk menyalurkan bantuan kesehatan ke desa-desa terpencil. Bersama mereka di kapal yang mereka tumpangi,  ada Lena (Kiana Madeira), seorang montir lokal yang sedang mencari saudaranya yang hilang di tengah hutan.‎‎ Ketegangan mulai memuncak saat mereka berpapasan dengan kelompok surveyor yang dipimpin oleh Brennan (Logan Marshall-Green).

Kelompok ini mengeksploitasi lahan hutan secara ilegal. Sebuah konflik berdarah yang tidak disengaja di antara kedua kubu ini, memicu ketegangan yang membangunkan Boiúna, ular purba raksasa legendaris dalam mitologi Brasil yang dipercaya bertindak sebagai penjaga keseimbangan alam. Satu per satu mereka tewas mengenaskan. Apa yang terjadi dengan kedua kelompok ini nantinya?

Premis Menarik dan Sulit Ditebak

Salah satu pembeda yang signifikan adalah bagaimana film ini berusaha tidak meniru atau mengikuti premis film sejenis. Beware Boiuna mempunyai layer karakter dan narasi yang sulit ditebak. Kita bahkan tak bisa menebak apa yang akan terjadi dan konklusinya seperti apa. Dengan pace agak lambat, kita diajak mengenali karakter dan interaksinya dengan suku lokal. ‎‎

Sebuah treatment yang mendekatkan penonton pada realita alam yang sesungguhnya. Ketika tujuannya baik, tak akan terjadi apa-apa. Namun, ketika ada satu hal yang tak diinginkan terjadi, hadirnya Boiuna menjadi solusi yang terasa adil untuk semua. Sosok ular raksasa yang tak ada kenyangnya, sempet membuat kita lupa kalau Boiuna bukan ular biasa, melainkan hewan mitologi lokal yang dihormati.

Visualisasinya terlihat natural dan nyata

Penampakan Boiuna memang tak sefrontal Anaconda yang terlihat masif, Boiuna justru jarang memperlihatkan fisik utuhnya, dan cenderung di beberapa bagian saja seperti kepala, badan samping, dan ekor. Namun, wujud seperti inilah yang membuat kedatangannya tak bisa diprediksi. Sisiknya yang berwarna hitam mengkilat juga membuatnya menyatu dengan alam dengan sempurna, terlebih saat malam hari. ‎‎

Selain sosok ular yang terlihat misterius, visualisasi menarik dihadirkan lewat sejumlah shot saat di tengah hutan. Membuat film ini terlihat berbeda dengan Anaconda yang mayoritas berada di dekat air atau sungai.‎

Kesimpulan

Beware Boiuna bukanlah film ular biasa seperti Anaconda. Pendekatannya yang membumi membuatnya amat humanis, terlebih mengikutkan suku lokal dan hewan mitologi pelindung hutan. Ular bukanlah sekadar subyek di film ini, tapi lebih besar lagi, dia menjadi pengingat penting untuk terus menjaga lingkungan dan mengeliminasi siapapun yang mencoba merusaknya. Sebuah isu langka yang kadang luput dalam membuat creature feature yang dekat dengan keseharian kita.

‎Director: Mike P. Nelson‎

Cast: Logan Marshall-Green, Kiana Madeira, Jessica Rothe, Jackson Bews, Juan Pablo Shuk, Will Close‎

Duration: 104 minutes‎

Score: 7.5/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top