Review Forgotten Island (2026)

Animasi Berlatar Mitologi Filipina yang Visualisasinya Amat Memukau

‎”A forgotten world, full of magic and wonder, with powerful creatures beyond your wildest imagination.” – Jo (Forgotten Island, 2026)

Sebagai salah satu film animasi yang rilis di minggu ini, Forgotten Island hadir tanpa euforia. Namun, rating 95% dari Rotten Tomatoes membuat animo penonton Indonesia untuk melihat film ini makin besar. Disutradarai oleh duo di balik Puss in Boots: The Last Wish, Joel Crawford dan Januel Mercado, film ini menjadi surat cinta personal yang sarat budaya bagi Mercado yang merupakan keturunan Filipina-Amerika. ‎‎

Mengambil latar belakang era 1990-an, era di mana gempuran media sosial belum lekat di masyarakat, Forgotten Island di luar dugaan berani mengangkat kearifan mitologi lokal Filipina dan menjadikannya latar animasi Hollywood yang paling orisinal di tahun ini.

Sinopsis

Cerita berpusat pada dua sahabat karib sejak masa kecil: Jo (H.E.R.), seorang remaja berjiwa bebas, pemberani, namun sering kali berbuat onar; dan Raissa (Liza Soberano), gadis genius yang disiplin dan kutu buku. Hubungan mereka berada di ambang perpisahan setelah lulus SMA karena Raissa bersiap melanjutkan kuliah ke Amerika.‎‎

Di malam terakhir kebersamaan mereka, sebuah kejadian membuka portal gaib yang melempar mereka ke Nakali (berasal dari kata Nakalimutan yang berarti dilupakan), sebuah pulau mistis yang dihuni makhluk-makhluk folklore Filipina. Mereka segera menyadari ancaman terbesar pulau tersebut: Nakali secara perlahan mengikis ingatan para pengunjungnya. Didampingi oleh Raww (Dave Franco), seekor weredog (manusia anjing) yang kikuk, Jo dan Raissa harus berpacu dengan waktu untuk menemukan jalan pulang sebelum seluruh kenangan berharga tentang persahabatan mereka terhapus selamanya.

‎Narasinya Otentik dan Secara Visual Dieksekusi Sangat Baik‎

Belum pernah budaya Asia Tenggara dieksplorasi dengan amat baik di sebuah film animasi. Secara spesifik, Forgotten Island memunculkan banyak makhluk supernatural Filipina yang ikonik seperti Manananggal (diisi suaranya oleh Lea Salonga), Batibat, Duwende, Mermahn, hingga Kapre. Semua detail kultural, soundtrack P-pop, hingga elemen lokal tampak nyata, membuat film ini sangat terasa local pride-nya.‎‎

Secara visual, gaya animasinya juga sangat memukau. Forgotten Island memadukan visual hybrid yang memadukan CGI modern yang banyak ditemukan di animasi terkini dengan sentuhan 2D tradisional serta pengaruh anime Jepang yang dinamis. Penggunaan palet warna-warni terang dan cerah juga mengingatkan kita pada visual Spider-Man: Across the Spider-Verse yang menjadi pelopornya.

‎‎Semua palet warna yang indah ini mampu menyatu dengan adegan dan skoring, membuat Forgotten  Island sangat indah dan membuat emosinya amat dalam. Bagaimana Jo dan Raissa merajut masa kecilnya hingga dewasa lewat petualangan yang mereka lakukan.

Kesimpulan

Kekuatan narasi Forgotten Island memang luar biasa. Semua memori masa kecil bersama orang tersayang, hingga keseruan perjalanan Jo dan Raissa di Nakali, mampu memberikan sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya.‎

‎Director: Joel Crawford, Januel Mercado

‎Cast: H.E.R., Liza Soberano, Dave Franco, Jenny Slate, Manny Jacinto, Lea Salonga, Dolly de Leon, Jo Koy, Ronny Chieng

‎Duration: 109 menit‎

Score: 9.0/10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top